Fenomena air bersih disekitar kita semakin langka adanya. Pencemaran dimana-mana, pemborosan air merajalela, kesadaran disekitar kita pun semakin sirna. Entah apa yang akan terjadi pada dunia kelak jika terus-menerus seperti ini. Padahal kebutuhan manusia akan air bersih tak dapat dipungkiri lagi. Hampir setiap saat kita butuh air, baik untuk mencuci, memasak, mandi, wudhu, dan berbagai hal lain. Terlihat bahwa air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, belum ada teknologi canggih yang dapat menggantikan peranan air.

Kelangkaan air bersih disekitar kita, diakibatkan oleh diri kita sendiri dan faktor eksternal. Namun faktor yang paling utama adalah dari diri kita sendiri. Pertama, kurangnya kesadaran kita akan pentingnya air bersih, membuat kita tidak peduli dengan kelangkaan keberadaannya. Mencari orang yang sadar atau peka akan keberadaan air bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Sebagian dari kita hanya ingin mengeksploitasi tanpa berkeinginan untuk memberdayakan dan melestarikan. Kedua, sifat dasar manusia, yaitu tamak. Tamak atau serakah dalam menggunakan air, tanpa memikirkan nasib yang akan datang. Kadang kita begitu boros terhadap air, hingga kemudian, saat air mulai menipis barulah sadar. Perlukah selalu diperingatkan untuk lebih peduli terhadap kelestarian air?

Hal lain yang lebih mengejutkan adalah ditahun 2025, diperkirakan air bersih di Indonesia akan semakin sedikit, kita terancam krisis air. Sebagai santri, hal itu berarti bahwa kita harus belajar fikih thaharah dengan baik dan benar. Memperhatikan penjelasan guru dengan seksama dan menanykan perkara yang belum dipahami dengan baik. Tetapi bagaimana dengan masyarakat yang bukan santri? Mungkin mendengar kata “bersuci dengan menggunakan batu/daun” saja baru pertama kali. Hal ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk tidak boros air saat air sedang melimpah. Kita harus mengingat bagaimana susahnya orang dipenghujung dunia sana rela tidak mandi demi bisa minum air bersih. Kita harus sadar bahwa air bersih yang keberadaanya semakin langka ini perlu dilestarikan demi masa depan kita sendiri kelak. Marilah sejenak kita merenung, menundukkan kepala sejenak, melantunkan istighfar karena kelalaian kita sendiri selama ini. Semoga hidayah datang kepada setiap pribadi kita, agar kehidupan kita terselamatkan. Jika bukan kita, lalu siapa lagi?

Leave a Comment