Syeikh Ibnu Athaillah Assakandari  merupakan salah satu ulama sufi terkemuka yang sangat produktif.  Beliau menghasilkan banyak karya yang meliputi bidang tasawwuf, tafsir, akidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya, yang paling popular adalah Kitab Al-Hikam.Dalam karyanya, Al-Hikam, Ibn Athaillah menyatakan;

أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍوَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ مِنْكَ عَنْهاَ

“Sumber dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat itu karena ingin memuaskan (ridho dengan) hawa nafsu. Sedangkan sumber segala ketaatan, kesadaran dan moral (budi pekerti), ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu.”

Pernyataan tersebut juga sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Yusuf ayat 53;

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ⸎

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyayang. (QS. Yusuf 53.)”

Kita dapat memahami bahwa ridha dengan hawa nafsu  adalah akar dari timbulnya kemungkaran; kelalaian dan kemaksiatan. Seseorang yang ridho akan nafsunya maka akan menganggap baik setiap tingkah lakunya, dengan begitu Ia akan merasa benar dan tidak mau meneliti tingkah lakunya dengan segala aib yang ada pada dirinya. Sehingga kekuatan nafsu dapat menguasai hatinya, dan dapat menyebabkan terjerumusnya pada kemaksiatan dan kelalaian kepada Allah SWT.

Untuk menghindari terjerumus pada nafsu, maka yang perlu dilakukan salah satunya adalah dengan mencurigai nafsu itu sendiri.

Abu Hafash berkata:

“Barangsiapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang waktu dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menarik ke jalan kebaikan, maka sungguh ia telah tertipu. Dan barangsiapa melihat padanya dengan sebuah kebaikan, berarti ia telah dibinasakannya.”

Imam Junaid Al-Baghdadi bekata;

“Jangan mempercayai hawa nafsumu, walaupun telah lama taat kepadamu, untuk beribadah kepada Tuhan-mu.”

Abu Hafash berkata:

“Barangsiapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang waktu dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menarik ke jalan kebaikan, maka sungguh ia telah tertipu. Dan barangsiapa melihat padanya dengan sebuah kebaikan, berarti ia telah dibinasakannya.”

Jika manusia mampu melawan nafsu yang ada pada dirinya, maka ia akan dimudahkan oleh Allah SWT dalam  menuju  ketaatan. Namun sebaliknya, jika manusia justru tertipu daya oleh nafsu yang ada pada dirinya, Ia akan terjerumus dalam kemungkaran.

Oleh: Husna Nailufar

Foto: MD_JERRY on Unsplash

Leave a Comment