Hari sudah terlampau sore, mentari sebentar lagi akan tenggelam. “Teeett. . . teeett. . .”, terdengar suara bel yang berarti waktu istirahat sudah berakhir. Seorang anak perempuan yang menuntut ilmu disebuah pondok Pesantren dengan tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya, yaitu mencuci pakaiannya di keran kamar mandi q4.

“Alya. . . ! Lekas kamu selesaikan pekerjaanmu itu !”, terdengar seruan mbak IBJ memanggilnya. “Iya mbak, tanggung nih, tinggal satu baju lagi”, sambil memperlihatkan baju yang dicucinya. Alya nama panggilan anak itu, yang usianya mulai menginjak remaja.

“Setelah selesai mencuci pakaian, aku mandi dulu, menjemur pakaiannya nanti sajalah”, gumamnya dalam hati. Alya masuk ke dalam kamar, dengan meletakkan handuk di bahunya dan di tangannya membawa perkakas mandi. Tak dihiraukannya pandangan geram mbak IBJ yang sedang menunggu di pintu depan, siap untuk mengabsen.
Setelah selesai mandi, Alya kemudian menutup pintu lemarinya, lalu segera melapisi kaus lengan pendeknya dengan seragam dan mengambil kitab. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar asrama. Dibiarkannya kancing seragamnya yang belum terpasang. Tiba-tiba dia bertemu dengan mbak IBJ. Dengan ekspresi geram, seakan mbak IBJ ingin menyampaikan sesuatu kepada Alya. “Setelah magrib kamu berdiri dimushala!”, kata mbak ibj ketua asrama yang bawel itu.

“Hah, kenapa mbak?” sahut Alya protes.
“Salahmu sendiri, sering terlambat !, teman-temanmu sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, cuma kamu yang selalu terlambat dibanding mereka!” Alya terdiam, tak berani menjawab. Yah, begitulah hari-harinya di pesantren, selalu diimpit waktu, sering terlambat, dan disanksi adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya.
Keesokan harinya, dikelas Alya tampak sangat mengantuk. Akan tetapi, dia selalu menahannya sebab dia duduk paling depan. Tidur dihadapan Ustadz yang sedang mengajar tentu penghinaan, dan dia tidak ingin menerima ganjaran karena melakukan penghinaan tersebut.

Tak ayal, begitu waktu pulang tiba, Alya langsung berlari ke kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya yang kurus itu ke kasur. Meskipun menurut teman-temannya kasur tersebut sangat bau, tapi dia tidak pernah merasakannya, baginya kasur itu adalah surga.

Adzan berkumandang mengalun merdu. Waktu zuhur telah tiba. Namun didalam hati, Alya berpikir, “Ah, iqamatnya masih lama, paling tidak 20 menit lagi, waktu yang lumayan cukup untuk memuaskan kantukku.”
Tiba-tiba mbak IBJ menghampiri Alya yang sedang rebahan tampak mengantuk sekali. Ditatapnya Alya yang sedang tiduran.
“Alya, cepat bangun, sudah iqamat!”, sayup-sayup terdengar mbak IBJ membangunkan. Alya yang dari tadi terjaga dari tidur tidak merasa panik, sebab hanya perlu meraih sajadah, dan berlari menuju kamar mandi untuk berwudhu, lalu masuk ke mushala. Kamar tersebut letaknya tidak jauh dari mushala sehingga hanya dalam beberapa menit dia sudah mengangkat takbir tanpa masbuk.

Namun, karena tidur terlalu pulas, dia tidak tahu apa-apa lagi, suara mbak IBJ tidak dapat dia dengar. Merasa Alya akan bangun, mbak IBJ kemudian pergi, padahal Alya sedang tidur dengan pulasnya.
“Assalamu’alaikumwarahmatullah. . .”, pertanda shalat sudah selesai, Alya sadar bahwa suara dari mik tersebut adalah suara pertama yang didengarnya saat dia bangun dari tidur siang. Dan sesuatu yang pertama dilihatnya adalah wajah mbak Aina, staff keamanan yang sedang mengontrol santri. Alya langsung bangkit dari tempat tidur, dilihatnya jam dinding yang tergantung diatas pintu. “Oh, tidak! Aku tidak shalat zuhur berjamaah” bisiknya dalam hati.

Mbak Aina yang mengetahui hal tersebut menghampiri Alya dan bertanya, “Kenapa saat shalat zuhur tadi kamu tidak terlihat di mushala? apakah kamu tidak ikut shalat berjama’ah?“
“Maaf mbak, tadi saya ketiduran.” Alya tertunduk malu.
“Kali ini kamu saya maafkan, lain kali kalau kamu terlambat lagi, kamu akan diberi sanksi, kamu mengerti?”, mbak Aina memperingatkan.
“Mengerti mbak.” Alya mengangguk.
“Sekarang, cepatlah kamu shalat.” Tegas mbak Aina.
“Baik mbak, maafkan saya ya mbak”,
“Berdo’a dan minta ampunlah kepada Allah bukan kepada saya, ayo cepetan shalat,nanti keburu ashar lho.”
“Iya mbak.” Alya bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan berlari menuju mushala.

Pesan moral dari cerpen tersebut yaitu setiap apapun kegiatannya, baik ibadah dibaiyah, jama’ah, atuapun yang lainnya jangan selalu menunggu pengurus untuk mengoprak-oprak. Sebaiknya turun terlebih dahulu agar bertambah pahalanya, lebih berkah, dan mengingat kita semua sudah dewasa yang tidak seharusnya selalu di oprak-oprak seperti anak kecil lagi.

Leave a Comment