Sudah sejak tadi anak laki-laki itu hanya berdiam, mengamati sekitar tanpa menunjukkan ketertarikannya. Hiruk pikuk dan suara tawa serta teriakan dari teman-teman sebayanya tidak sedikitpun mengalihkan pandangan matanya yang kosong. Tangan mungilnya terus mendekap lutut, duduk bersandar di tiang kayu di ujung ruangan. Sudah sejak satu jam lalu posisi duduknya tidak berubah, seolah ia tak punya rasa lelah meski duduk dengan keadaan setengah meringkuk.

Seorang pengasuh berusaha mengajaknya bicara atau sekedar menanyakan jajanan yang ingin ia makan. Tapi tak ada respon apapun yang diberikan. Matanya menyorot nyalang, terkadang bergerak-gerak memandang atap plafon dengan binar yang membuat para pengasuh takut. Mulutnya tetap bungkam, sesekali hanya bergumam tidak jelas. Lalu terbungkam lagi.

“Jajannya Adam belum dimakan Yun?” Mbah Niyem, salah seorang pengasuh yang sudah bekerja di tempat penitipan anak selama 20 tahun. Usianya sudah kepala lima, namun daya ingatnya masih kuat, setidaknya untuk mengingat 42 anak yang dititipkan di sana. Tangan keriputnya terus bergerak lincah menata jajanan dan bekal anak-anak di lemari kayu. Matanya menyipit, mengeja tulisan nama-nama yang terlihat buram karena terlalu kecil. Ah, sepertinya ia harus segera menyuruh Yuyun untuk menggantinya dengan huruf-huruf yang lebih besar.

“Belum Mbah” Yuyun menjawab sambil menghela napas panjang. Lelah, itu yang dirasakannya. Tidak tau lagi harus berbuat apa agar anak laki-laki itu mau diajak bicara. Dari 5 pengasuh yang bekerja di sana hanya mbah Niyem dan Yuyun yang masih peduli dengan anak laki-laki itu. Mbah Niyem sudah terlalu tua untuk membujuknya setiap waktu. Maka, tugas itu harus dilakoni oleh Yuyun.

Pengalamannya tentang anak-anak masih terbatas. Punya anak sendiri pun belum, kini justru harus mengurusi anak-anak orang. Usianya memang sudah 25 tahun, tapi keinginannya untuk menikah belum begitu besar. Sudah sejak 3 bulan lalu Yuyun terus memperhatikan anak laki2 itu, mengajaknya bicara dan bercerita, syukurlah hal itu perlahan sedikit membantu. Anak laki-laki itu sesekali mau merespon meski hanya dengan anggukan atau gelengan. Yuyun baru tahu nama anak laki-laki itu adalah Adam, di hari keduanya bekerja.

Suara jeritan anak-anak dan tangisan menyadarkan Yuyun dari lamunannya. “Yun cepat kesini Yun, Adam kambuh lagi” Mbah Niyem terlihat kesulitan menahan Adam yang sedang meraung dan menggeram. Di sampingnya balita berusia 3 tahun menangis keras ketakutan, para pengasuh lain berusaha menenangkan kegaduhan dan jeritan anak-anak. Yuyun membantu Mbah Niyem menahan Adam dan mengisyaratkan pengasuh lain untuk lekas menggendong balita 3 tahun yang menangis histeris.

“Cepat bacakan ayat Al-Qur’an Yun” mbah Niyem memerintah dengan napas yang tersengal. Di tengah kebingungannya mengingat ayat apa yang masih  Yuyun hafal, desas desus dari pengasuh lain terdengar menyakitkan.

 “Halah lagu lama lagi”

“Itu karma karena ibunya suka gangguin suami orang”

“nggak cuma gangguin aja, tapi ibunya juga main pelet biar banyak laki-laki yang naksir”

“Pantesan anaknya sering kesurupan, ibunya aja seneng main ilmu hitam”

Berbagai desas desus yang menyanyat hati Yuyun terus dilontarkan  tanpa rasa iba, betapa malangnya,  anak laki-laki ini harus ikut disalahkan oleh dosa yang diperbuat oleh orangtuanya. Yuyun tak lagi mampu mengingat beberapa ayat Al-Qur’an yang dulu sempat ia hafalkan, hanya ayat kursi yang mampu dibacakan olehnya. Selanjutnya yuyun justru mengucapakan berbagai kata sayang dan semangat untuk Adam. 15 menit berlalu Adam mulai tenang, pak Nizam, Kyai desa datang membawakan sebotol air do’a untuk Adam. Selepas itu pak Nizam berlalu pergi, seolah tidak terjadi apa-apa. Memang, keadaan seperti ini sudah biasa terjadi pada Adam. Bahkan sejak 3 bulan Yuyun bekerja, ia sudah mengalami 6 kali keadaan serupa.

Dari mbah Niyem lah Yuyun mendengar cerita lengkapnya, Adam, anak laki-laki itu memang bisa melihat makhluk ghoib. Dulu ia tidak separah sekarang, keadaan memprihatinkan seperti ini baru terjadi sejak ibu dan ayahnya berpisah lima bulan lalu. Sebuah perpisahan yang terjadi karena penghianatan yang dilakukan oleh ibu Adam dengan suami tetangganya.

Ibunya pulang ke kampung halaman dengan membawa adik Adam yang baru berusia 8 bulan. Saat ini Adam hanya tinggal berdua dengan Ayahnya. Laki-laki berusia 37 tahun yang berusaha kuat dan tegar menghadapi goncangan hebat yang menimpa keluarganya. Dari cerita Mbah Niyem juga  lah Yuyun tahu bahwa Ibu dan Ayah Adam satu kampung halaman. Sebab itu, ayahnya lebih memilih bertahan di tanah orang.

Melihat kehidupan rumah tangga di masyarakat sedikit membuat goyah keinginan Yuyun untuk menikah di waktu dekat. Keinginan yang belum besar itu semakin berkurang dengan tragisnya kisah orangtua Adam. Kecamuk di hati Yuyun makin memanas ketika mendengar berbagai hinaan dan kata-kata pedas yang dilontarkan kepada ibu Adam. Orangnya sudah pergi tapi cacian dan penghakiman sosial masih terus digaungkan, pada akhirnya Adam dan ayahnyalah yang harus menanggung derita.

Di sisi lain, laki-laki yang bermain api dengan ibu Adam masih hidup seperti biasa. Penghakiman yang didapatnya tidak sebanding dengan penghakiman yang diterima ibu Adam. Orang bilang “Yang salah ya perempuannya, pasti dia dulu yang menggoda” dan kisah kebenarannya tidak seorangpun yang bisa memastikan. Entahlah siapa dulu yang menggoda, tapi bagi Yuyun keduanya tetap punya kesalahan yang sama besarnya.

3 hari berlalu, sejak kejadian itu Adam tidak lagi diantar ke penitipan anak. Dari beberapa orangtua yang mengantarkan anaknya ke tempat penitipan ,Yuyun mendengar Adam di bawa ayahnya ke luar pulau untuk berobat dengan orang pintar. Mereka bilang orang pintar ini adalah seorang dukun yang sudah terkenal mampu mengusir roh-roh jahat yang suka mengganggu jiwa manusia.

Yuyun menghapus bulir air mata yang jatuh begitu saja, ia sedih membayangkan anak laki-laki itu harus mengikuti berbagai ritual yang akan di lakukan Si Dukun. Bagi Yuyun persoalan Adam bukanlah karena makhluk ghoib dan sejenisnya. 3 bulan Yuyun mencoba berinteraksi dengan Adam, ia tahu bahwa persoalannya adalah pada hatinya, psikisnya dan masyarakat yang tak sedikitpun menunjukkan rasa iba pada anak laki-laki itu. Ah, Yuyun hanya bisa berdo’a semoga keadilan Tuhan segera berpihak pada anak laki-laki itu.

Oleh: Fauziyatus Sufiyah

Photo by Kat Jayne from Pexels

Leave a Comment