Santri dan alumni dari Pondok Pesantren pasti merasa dekat atau mungkin ingin dekat dengan bapak dan ibu pengasuh pondok serta memiliki kenangan tersendiri yang melekat pada masing-masing individu. Setiap pengasuh memiiki cara masing-masing dalam mengajar santrinya. Seperti halnya Bapak K.H. Ahmad Warson Munawwir. Beliau telaten ngopyaki mengaji, sorogan, dan mengabsen santri. Hal yang tidak mungkin terlupakan yaitu nasihat-nasihat atau wejangan beliau selama enam tahun aku di Komplek Q.

Kegiatan yang paling asyik menurutku saat mengaji bandongan pagi Muhazzab dan Maroghi di Musala Timur. Suara Bapak yang khas dan wawasan beliau yang luas membuat beberapa santri dan termasuk aku untuk berebut tempat paling depan. Menurutku ada rasa marem saat bisa mengaji di depan dan melihat langsung Bapak menjelaskan.

Pernah suatu pagi, saat itu aku bersiap-siap berangkat kuliah pagi, karena dekat dengan Musala Timur, aku mengaji dari kamar yaitu kamar 3A. Eh, kok apesnya Bapak memanggil dan mencariku. “Nafis endi iki kok ra ana”?[1] Kemudian terdengar Mbak Yulis dengan jujurnya menjawab, “Nembe dhahar ten kamar Pak,”[2] tawa teman-teman yang lain menyertai sahutan beliau. “Wong isih esuk ngene kok wis dhahar?”[3] tanya beliau lagi. Entah bagaimana perasaanku pagi itu tidak bisa dijelaskan antara malu, khawatir, merasa bersalah, semua campur aduk. Bapak memang perhatian kepada santri-santrinya, hal itulah yang membuatku selalu rindu kepada beliau dan Komplek Q.  Suasana yang hangat dan penuh kasih sayang yaitu saat kegiatan mengaji.

Setiap Ahad pagi kegiatannya yaitu mengaji Nashoikhul ‘Ibad, seperti biasa Bapak selalu memberi pertanyaan kepada santri-santrinya untuk lebih meng-gayeng-kan suasana. Entah waktu itu Bapak sedang membahas apa aku tidak terlalu memperhatikan. Namun tiba-tiba Bapak menyebut nama Nashruddin. Kemudian beliau bertanya kepada kami semua “Sapa iku Nashruddin?”[4] dan suara teman-teman pun langsung bergemuruh memecahkan suasana sepi. Payahnya lagi hal itu membuat pipiku memerah karena malu. Ditambah lagi kejahilan Bapak yang men-dhawuhi-ku nashrif kata “Nasoro”. Tambah ingin nangis saat itu juga rasanya.

Suatu siang kala itu, aku dan teman-teman sedang asyik membaca buku di perpustakaan di Musala Timur. Tiba-tiba Bapak masuk ke Perpus dan memanggil aku “Fis, kowe gelem tak jaluki tulung?”[5] Suatu kebanggaan bagi santri jika di-dhawuhi kiainya, begitu pula denganku. Aku pun langsung mengiyakan dhawuh Bapak. Ternyata Bapak memberiku sebuah amplop yang isinya entah apa. “Iki amplop wenehana Pak Nashruddin nang omahe Pak Hadi!”[6] Tahu reaksiku yang bingung dan kikuk Bapak malah menegaskan kembali, “Gelem ora didhawuhi Bapak, nek ora gelem tak akon cah liya?”[7] Akhirnya aku mau melaksanakan tugas berat itu demi rida sang guru, demi rida Bapak yang kutakzimi dan aku kagumi.

Atas kehendak Allah SWT, Pak Nashruddin menjadi suamiku. Bapak rawuh masih sangat pagi di rumahku Wonosobo, dan berkenan menjadi wali akad mewakili ayahku. Terima kasih Bapak atas gojekannya, berkahnya, keridaannya. Jazakumullah bil khoir.

 

[1] “Nafis di mana ini kok tidak ada?”

[2] “Baru saja makan di kamar, Pak.”

[3] “Orang masih pagi begini kok sudah makan?”

[4] “Siapa itu Nashruddin?”

[5] “Fis, boleh saya minta tolong?”

[6] “Tolong berikan amplop ini ke Pak Nashruddin di rumahnya Pak Hadi!”

[7] “Mau saya suruh tidak, kalau tidak mau biar saya suruh santri lain?”

Oleh: Durrotun Nafisah

*Tulisan ini ditulis dalam rangka memperingati hari lahir Komplek Q yang ke-28  dan menjadi salah satu tulisan yang dibukukan dalam “Aku dan Komplek Q”

Leave a Comment