Dalam bermedia sosial, kita tentunya sering mendapati isu-isu yang tersebar di platform media sosial kita. Namun, kita sering terjebak bahwa isu  yang kita dapatkan itu sebuah informasi yang akurat. Jangan sampai kita telah mengkritik dan mengomentari sesuatu, padahal sebenarnya isu itu hanyalah hoaks.

“Era medsos sangat luar biasa. Dulu kita hanya mengenal surat kaleng. Kalau orang yang nggak senang sama orang pake surat kaleng, pakai surat kaleng tidak kelihatan, sekarang hampir sama. Sekarang, pakai akun dengan foto tidak kelihatan, bebas menghina siapapun dan apapun.” Ujar Gus Mus.

Menanggapi isu hoax yang marak terjadi dalam bermedia sosial, Gus Mus menilai bahwa saat ini banyak orang yang berbeda antara dunia maya dan dunia nyatanya. Banyak orang yang ingin kelihatan gagah dan pintar di dunia maya, padahal sebenarnya berbalik dengan dunia nyatanya. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak memperoleh hal tersebut di dunia nyata. Ketika Gus Mus sering mendapatkan hinaan dan cacian dari orang lain, Gus Mus merasa biasa saja dan menganggap bahwa orang itu tak bersalah, hanya belum mengetahui saja. Para penghina tersebut sering kali datang dan sowan meminta maaf kepada Gus Mus. Banyak para penghina yang sangat berbeda antara dunia maya dan dunia nyatanya. Dari sekian kejadian yang terjadi inilah, Gus Mus menyimpulkan bahwa banyak orang yang berbeda antara dunia maya dan dunia nyatanya.

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu, janganlah terburu-buru emosi dan marah. Siapa tau memang dia digerakkan oleh Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan.” – Gus Mus

Menurut Gus Mus, harusnya kita lebih mudah tersinggung dengan para politisi yang hanya bisa mengumbar janji walaupun telah dibungkus dalam bahasa yang bagus.

Menurut Gus Mus media sosial memancing seseorang menjadi “kemaruk”, semua hal yang didapatkan dan dilontarkan tanpa disaring terlebih dahulu. Media sosial adalah alat yang bebas, tergantung niat seseorang dalam bermedia sosial. Media sosial bisa menjadi sebuah ladang yang bermanfaat dan kebaikan jika digunakan dengan tepat. Dalam puisi Gus Mus tentang mulut, mulut merupakan sesuatu yang harus sangat berhati-hati dalam berucap. Namun, di era sekarang mulut ini diibaratkan jempol kita yang bisa mengetik apapun di media sosial. Sehingga kita juga harus berhati-hati dengan jempol yang bisa menggiring ke arah kebaikan atau keburukan. Untuk itu, kita harus lebih berhati-hati di era sekarang ini.

“Wahai rakyat Indonesia, waspadalah! Dengan menebar virus kebencian, setan telah terbukti berhasil memporak-porandakan negeri-negeri di Timur Tengah.” Ujar Gus Mus dalam sebuah tweet.

Oleh: Novia

Photo by Anton from Pexels

Sumber : https://youtu.be/q7MUzWoT9R8

Leave a Comment