Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga jika tidak shalat lima waktu. – Anonim

Barangkali kita sudah tidak asing dengan kutipan di awal tulisan ini. Iya, betul. Tulisan itu bersumber dari sebuah gambar animasi dalam foto terakhir WhatsApp Capt Afwan, pilot dengan pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang hilang kontak pada beberapa hari lalu. Sebelum berbicara lebih jauh, marilah kita haturkan doa untuk seluruh awak pesawat, penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182, dan segenap keluarga yang masih menunggu. Lahul Fatihah.

Melalui kutipan yang viral tersebut, tidakkah terasa menggelitik? Bukan sebab siapa yang menuliskannya, namun karena makna yang terkandung di dalamnya. Tentunya dapat menjadi bahan renungan, bahwa kita boleh punya ambisi yang besar, kita juga boleh berupaya maksimal dalam mengejar sesuatu. Hanya saja harus selalu kita sadari bahwa setinggi apapun posisi kita kelak, tidak akan dapat mencapai surga jika melupakan sholat lima waktu.

Sholat secara bahasa mempunyai arti doa. Selain itu disebutkan juga bahwa amal yang pertama kali dihisab di hari Kiamat adalah shalat. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah ra. :

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ. (رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal yang seorang hamba yang pertama kali dihisab di hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya bagus, maka ia menang dan sukses. Dan jika shalatnya rusak, maka ia menyesal dan rugi. Maka jika ada yang kurang dari shalat fardunya, Tuhan Azza Wa jalla berfirman, “Lihatlah kalian, apakah hambaKu mempunyai (amal) shalat sunnah, maka itulah yang dapat menyempurnakan kekurangan fardhunya, kemudian semua amalnya (juga) seperti itu.” (HR. At-Timidzi).

Waktu kecil ada sebuah perumpaan sederhana. Sholat itu ibarat tas belanjaan. Entah seberapapun banyak dan mahalnya belanjaan kita, jika tak ada tas yang kuat dan kokoh untuk menampungnya maka semua akan berserakan tak terbawa. Hal ini menjadi sejalan dengan istilah bahwa hidup adalah numpang minum. Mengisyaratkan bahwa segala yang ada hanyalah titipan. Apa yang tergenggam akan lepas jika sudah waktunya. Begitu juga apa yang belum tergenggam, pasti datang jika sudah saatnya.

Lalu, bagaimana kabar sholatmu setiap hari?

Oleh : Desi Nur Istanti

Photo by Abdullah Ghatasheh from Pexels

Sumber :

https://www.kompas.tv/article/136806/setinggi-apapun-aku-terbang-tidak-akan-mencapai-surga-bila-tidak-shalat-lima-waktu?page=all
https://islam.nu.or.id/post/read/82651/makna-dan-hikmah-shalat
https://islam.nu.or.id/post/read/9676/sholat-sebagai-spirit-perubahan

Leave a Comment