Dalam Forum Diskusi Santri Millennial (FDSM) edisi 7 November 2018, Cucun Nur Kumala selaku Wakil Ketua III Pengurus Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q menyampaikan mengenai seberapa jauh persiapan menuju Khataman 2019. Santri yang akrab disapa Cucun ini mengatakan bahwa untuk saat ini belum bisa megukur seberapa jauh panitia menyiapkan perhelatan Khataman tahun depan. “ Belum ada 50 persen. Karena belum ada latihan jadi belum bisa berkata kita dapat berapa persen. Ini juga masih dalam proses ujian calon khotimat, “ ujar santri asal Kediri ini.

Tes yang dimaksud oleh Cucun adalah tes untuk menjadi khotimat, baik khotimat Juz ‘Amma, 30 juz bi nadhri, 15 juz bil ghoib, dan 30 juz bil ghoib. Untuk kategori Juz ‘Amma dan 30 Juz bin nadhri, tes sudah dilaksanakan sejak tanggal 28 Oktober 2018 hingga 11 November 2018 mendatang. Tes dilaksanakan dalam 3 gelombang. Untuk kategori 15 juz dan 30 juz bil ghoib sepenuhya dibawah naungan pengurus rayon 5 (Tahfidz Q6). “ Bila tidak ada halangan, latihan akan dimulai pada tanggal 18 November ini, “ tambah Cucun.

Latihan kurang lebih akan dilaksanakan selama 19 kali latihan dan belum termasuk latihan gabungan. Latihan gabungan akan dilaksanakan dari Januari sampai menjelang khataman bulan Februari.  Intensitas latihan tahun ini lebih sedikit dibanding dari tahun kemarin yang mencapai sekitar 28 kali latihan.

Cucun menambahkan bahwa standar lulus ujian tahun ini lebih diperketat. Adanya perubahan pada sistem ujian, tak lain juga mendapat dorongan dari ndalem. Itu lah yang membedakannya dengan perhelatan dua tahun yang lalu. Beberapa yang membedakan adalah adanya pertanyaan mengenai tajwid dan gharib pada ujian 30 juz bin nadhri dan dikuranginya minimal kesalahan dalam ujian 15 serta 30 juz bil ghoib.

Oleh karena itu, ke depan ia juga mengusulkan agar Divisi Pengajian Qur’an memiliki standar bagi santri yang hendak naik ke jenjang yang lebih tinggi. “Usul memberikan standarisasi untuk PQ, terutama bagi roisah dan khotimat. Semisal, lulus juz ‘amma mengerti tajwid dulu baru bisa memulai bin nadhri. Setelah juz lima ada ujiannya, setiap tingkatan ada ujiannya untuk menuju tingkatan selanjutnya” imbuhnya.

Untuk jumlah keseluruhan peserta, hingga saat ini terdata ada sekitar 200 peserta khotimat dari seluruh kategori. Jumlah ini masih bisa berkurang seiring hasil tes yang belum menunjukkan hasil final. Peserta juga bisa bertambah, yakni dari Madrasah Tahfid Putri Anak, Komplek R, dan Fathimiyah (pondok tahfidz putra anak Komplek R).

Selain Cucun yang berbicara mengenai persiapan khataman secara teknis, hadir pula Nita Indarwati, khotimat 30 juz bil ghoib tahun 2017. Dalam kesempatan tersebut, ia berbagi tips pada santri-santri lainnya untuk mencapai target menjelang Khataman. “Bicara Alqur’an ada senang dan sedihnya. Senang karena ini anugerah. Tidak semua orang mendapatkan anugerah membaca dan menghafalnya, susahnya kalau sudah hafalan harus konsisten menjaga.” ujar Nita untuk membuka diskusi.

Nita menambahkan bahwa ada saja halangan dari segalah arah bagi orang yang belajar Alqur’an. “Belajar saja ada halangannya apalagi menghafal, per ayat saja ada halangannya kalau kita jeli.”  Begitu kata santri yang kini menjadi pembimbing Madrasah Tahfid Putri Anak (MTPA) El Muna Q ini.

Beberapa bentuk cobaan tersebut antara lain, ada keluarga yang meninggal, godaan dari lawan jenis, sakit,  dan keuangan atau ekonomi. “Dulu saya dapat cobaan sakit di awal dan di akhir, sakit hampir sebulan sampai juz 29. Kalau gak kuat dan gak ada yang mendukung, pasti malas balik lagi.” ujarnya.

Beberapa perbedaan yang ia rasakan ketika mondok di salaf dan di sini (Krapyak) adalah begitu terasanya Alqur’an. “Kalau di sini berbeda dengan anak-anak salaf, mungkin karena di sini sebagian besar adalah santri mahasiswa. Di sana berdoa saja bisa sampai menangis, karena mersakan bagaimana jungkir baliknya, dipaksa ujian, dan lain-lain”, imbuhnya. Nita sempat merasakan mengenai proses ujianya dulu ketika mencapai 15 juz, ujiannya sekali duduk membaca 15 juz sampai selesai kalau tidak selesai tidak akan diperbolehkan menambah hafalan. Bila gagal dalam ujian 15 juz, selang 2-3 hari akan mengulang ujiannya lagi.

Menurutnya, Alqur’an itu harus diketati ketika awal menghafalnya. Dipaksa oleh diri sendiri. “Semisal anak khotimat juz ‘amma, anak MTPA juga juz ‘amma lho, jangan sampai kalah dengan MTPA. Bisa gak bisa kalian harus bisa, kalian bakal sepanggung dengan anak MTPA. Kalau sudah hafal, jangan perhatikan hafalannya saja, tapi juga tajwidnya. Kebanyakan lupa tajwidnya. Ini krapyak, pondok Qur’an. Kalau ngajinya gitu-gitu aja, malu lah,”  ujarnya.

Selain meperhatikan tajwid, ia juga menyinggung soal membaca dengan cara tartil. Ia juga menyoroti beberapa santri yang mengaji bak jalan tol, karena begitu cepatnya hingga lupa panjang-pendeknya. Oleh karena itu, sangat diharuskan untuk memperbaiki bacaan dan hafalan diri sendiri. “Kalau awal-awal ngaji usahakan tartil. Kalau udah biasa, cepetnya akan ngikut. Jangan keburu-buru dulu. Jangan masah bodoh, mbak ya mbak, aku ya aku, ’’ ujar Nita kepada peserta diskusi malam itu.

Disela diskusi, beberapa peserta mengajukan pertanyaan kepada kedua pembicara. Salah satu peserta bertanya mengenai hasil tes masuk tahfidzh hanya sampai mengaji kepada roisah, belum setoran kepada Ibu (Nyai Khusnul Warson ) apakah hal tersebut termasuk ujian? Menanggapi hal itu, Nita mengatakan bahwa itu adalah bagian dari proses. Jadi harus sabar dan dilalui saja.

Sedangkan Cucun, juga menanggapi beberapa peserta yang merasa keberatan akan biaya Khataman, “Khataman ini sebagai bentuk syukur kita, jadi jangan nggrundel karena biayanya mahal. Ini kembalinya juga kepada diri kita sendiri sebagai sebuah kemanfaatan,” dalih Cucun.

Selain itu, Nita juga berpesan kalau tidak hafal Alqur’an, minimal hafal surat-surat penting. Karena hal tersebut sangat berguna di kampung kelak. “Ya memang menghafal itu berat, banyak godaannya,” ujar Nita. “Cobalah memiliki Alqur’an, kalau jauh dengan Alqur’an itu berasa kesetanan, suwung. Bagi yang merasa memiliki Alqur’an, akan merasakannya,”  tambahnya.

Salah satu tips yang ia bagikan kepada peserta adalah kebiasaannya untuk berdo’a kepada para muassis krapyak atau biasa disebut dengan tawasul sebelum memulai mengaji. Menurutnya, dengan mendoakan kebaikan kepada guru-guru, kita akan mendapatkan balasan do’a yang lebih banyak lagi. (fdh)

Leave a Comment