Pelaksanaan Orientasi Studi dan Perkenalan Pondok (OSPEP) memasuki hari kedua. Pada Sabtu, 3 November 2018 ini, kegiatan diawali dengan maqbaroh ke makam para pendiri pesantren di Makam Dongkelan dan Sorowajan. Acara ini dimulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB. Adanya kegiatan maqbaroh ini menjadi salah satu wadah untuk mengenang dan meneladani para ulama dan kiai yang sudah merintis dan mengembangkan pesantren hingga bisa dinikmati sampai saat ini.

Setelah maqbaroh, peserta kembali dihadapkan pada serangkaian materi hingga malam hari. Sekitar pukul 08.00-12.00 peserta menyimak materi di musholla barat. Materi pertama disampaikan oleh Pengurus Madrasah Salafiyah 3 (MASAGA). Pengurus memaparkan beberapa divisi beserta tugas-tugasnya dalam kepengurusan madrasah. Selain itu, santri juga menerima penjelasan mengenai peraturan dalam madrasah. Peserta juga diajak menyanyikan mars MASAGA dengan dipandu oleh para pengurus.  Para peserta antusias dalam mendengarkan para pengurus madrasah menyampaikan materi.

Selanjutnya, beberapa divisi pengurus pondok juga ambil bagian. Divisi Keamanan, Divisi Kebersihan, dan Divisi Ibadah dan Jam’iyah menyampaikan beberapa poin penting. Divisi keamanan dalam kesempatan ini menyampaikan peraturan-peraturan yang berlaku di pondok beserta konsekuensi ketika ada santri yang melanggarnya. Iltizamatul Labibah bertindak sebagai presentator dari Divisi Keamanan.

Sedangkan Apriliya Mayasari selaku koordinator Divisi Ibadah dan Jam’iyah menjelaskan mengenai batas-batas wilayah suci dan non suci di hampir seluruh wilayah pondok. Dengan menggunakan media video sederhana, Divisi IBJ bekerja sama dengan Divis Kebersihan menjelaskan tata cara mensucikan kaki setelah menginjak wilayah non suci berserta tata cara membersihkan najis. Peserta dengan seksama menyimak penjelasan tersebut.

Divisi Kebersihan yang diwakili oleh Rizki Maknunatun Nahriyah menyampaikan perihal wilayah-wilayah yang wajib dibersihkan oleh santri. Ia juga menjelaskan mengenai area-area publik yang menjadi jatah piket per rayon.

Serangkaian penyampaian materi dari pengurus ini berakhir pukul 12.00 WIB. Setelah itu peserta boleh beristirahat di kamar masing-masing.

Tepat pukul 15.00 WIB, peserta kembali ke mushollah barat untuk melaksanakan sholat asyar berjama’ah. Selanjutnya mereka menuju PP Al Munawwir pusat guna memperoleh sosialisasi materi koperasi pondok pesantren (kopontren) dan materi mengenai PP Al Munawwir secara umum. Penyampaian materi ini dilaksanakan di Aula G. Dari Kopontren, Muhammad Izzat selaku ketua menyampaikan materi mengenai sejarah hingga stuktur kepengurusan di dalamnya.

Setelah mendengar materi tentang kopontren, peserta menyimak materi tentang PP Al Munawwir. Muhammad Ghozali, perwakilan dari pengurus pusat menjelaskan tentang komplek-komplek yang ada di Al Munawwir hingga sejarah penamaannya. Seperti yang sudah diketahui, komplek-komplek di Krapyak menggunakan abjad sebagai nama komplekknya.

Setelah menyimak materi, peserta diajak keliling komplek di Krapyak. Peserta yang terbagi menjadi beberapa kelompok berkeliling komplek sambil mendengarkan penjelasan dari pengurus pusat mengenai nama, sejarah berdiri, pengasuh, hingga kegiatan serta peraturan di masing-masing komplek. Kegiatan ini berakhir pukul 17.30.

Kegiatan di hari kedua, berlanjut hingga malam hari. Tepat pukul 19.00 peserta diharuskan kembali berkumpul di musholla barat. Sebelum mendengarkan materi terakhir pada hari kedua, peserta diadu semangat dan kekompakan per kelompok dengan melagukan yel-yel masing-masing. Keceriaan tampak dari wajah peserta meskipun seharian telah melaksanakan kegiatan.

Setelah adu yel-yel, tepat pukul 19.30, peserta kembali menyimak materi ASWAJA dan Ke-Nu-an yang disampaikan oleh Gus Faik Muhammad. Dalam kesempatan ini, Gus Faik menjelaskan tentang sejarah ASWAJA hingga berbagai tantangannya di era global. “ Mudah membedakan mana yang ASWAJA dan mana yang bukan, lacak keilmuannya sampai Rosulullah atau tidak “, ujar Gus Faik yang juga menjadi dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Dalam kesempatan ini, peserta sangat antusias dengan memberikan banyak pertanyaan. Diantaranya adalah pertanyaan mengenai peran santri dalam menghadapi gerakan radikal. Gus Faik menjawab bahwa santri harus step by step dalam memahami ajaran agama tidak secara instan. “ Ibaratnya masih kelas 3 madin, sudah boyong, terus dakwah dengan nama alumni Komplek Q, apa pantas? “, dalih beliau.

Di akhir, Gus Faik memutar beberapa video sebagai bahan renungan untuk kita, sebagai pengingat terhadap perjuangan nabi, ulama, dan para orang tua. Beberapa peserta terlihat meneteskan air mata. Kegiatan ini berakhir pukul 22.00.

Acara di hari kedua ini, ditutup dengan menonton film bersama di musholla barat. (fdh)

Leave a Comment