Tidur memang hal yang menyenangkan, sehingga menjadi kebahagiaan tersendiri hati dan kepuasan bagi yang merasakan nikmatnya tidur, khususnya seorang santri. Bahkan, sering kali seorang santri itu tertidur dikelas saat sedang mengaji, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan para santri. Alasanya yaitu karena di malam hari santri itu seringkali begadang, sehingga dipagi hari santri masih ngantuk dan pada akhirnya tertidur ketika sedang mengaji kitab, apalagi jika yang mengajar ustadz yang suaranya merdu, hal itu menjadi iringan seketika bagi santri untuk tertidur lelap, dan lupa akan adab seorang santri terhadap guru. Contohnya seperti santri yang tertidur dengan bersender maupun dengan selonjor.

Hal ini memberikan kesan adab santri yang masih kurang ta’dzim, hal yang dianggap remeh dan sering kali dilupakan oleh para santri sebenarnya suatu hal yang mencerminkan jati diri seorang santri. Hal tersebut berkaitan dengan niat seorang santri, suksesnya seorang santri tergantung dengan niat yang ada dalam benaknya, santri berniat untuk mencari ilmu, pertama, dengan mencari rida Allah, rida Allah tergantung dengan rida kedua orang tua, kedua, untuk mencari kebahagiaan dunia maupun akhirat, karena ilmu merupakan suatu ibadah yang diwajibkan oleh Allah.

Ketiga, menghilangkan kebodohan sehingga ilmu tersebut dapat bermanfaat bagi kaum khalayak. Seorang santri tidak akan mendapatkan ilmu serta manfaat yang dari apa yang telah dikajinya kecuali jika ia selalu dibarengi dengan rasa hormat terhadap ilmu yang dikaji dan seorang guru yang telah mengajarnya.

Anjuran tersebut memang tidak ada salahnya, hanya saja dalam metode penyampaianya sangat membahayakan bagi para pembaca, karena di situ terdapat pencampuradukan antara mitologi dan moralitas. Bermanfaat atau tidaknya suatu ilmu itu bergantung kepada seorang santri itu sendiri, dapat memanfaatkan ilmunya atau tidak, barakah guru seakan sesuatu yang lebih besar daripada proses belajar yang dinafikan demi mengejar sesuatu yang disebut dengan “barakah”, ilmu tidak akan mampu digapai dan bisa bermanfaat tanpa adanya rasa ta’dzim terhadap seorang guru.

Hal ini terbukti jika ia tidak menghormati gurunya berarti ilmu yang diperolehnya tidak bermanfaat karena ilmu itu tidak menyeru untuk selalu berbuat kebajikan diantaranya  ta’dzim atau menghormati terutama pada sang guru. Contoh lainya adalah iblis, iblis merupakan sosok mahluk yang alim, namun kealimanya tidak bermanfaat baginya karena ia tidak mau mengagungkan Nabi Adam atas perintah Allah dalam surat al-Baqarah ayat 34.

Salah satu wujud mengagungkan seorang guru adalah dengan tidak berjalan di depanya, maksudnya adalah mendahuluinya dan juga tidak duduk di singgasananya, serta tidak pula mendahului pembicaraanya ketika berada di sisinya, terkecuali dengan izinya, dalam artian tidak diperbolehkan memulai pembicaraan di sisi sang guru dalam bentuk apapun terkecuali dengan izinya.

Selain itu, dalam kitab ta’lim muta’alim disebutkan bahwa Syekh Muhammad Ibnul Hasan tidak pernah tidur di malam hari, beliau selalu bersebelahan dengan lembaran-lembaran kitabnya dan ketika beliau merasa jenuh dari satu bidang ilmu, maka beliau mempelajari bidang ilmu lainya untuk menghilangkan kejenuhanya. Selain itu, beliau pun juga menyediakan air di sisinya, air tersebut beliau pergunakan untuk menghilangkan rasa ngantuk, dan beliau berkata: “tidur itu berasal dari panas, maka harus dihilangkan dengan menggunakan ait yang dingin”. Ia pun menyediakan air penolak tidur disampingnya, dan ujarnya.

Dapat dilihat bahwa kesuksesan seorang ulama, sehingga beliau dapat menghasilkan karya kitab yang begitu banyak, salah satunya dengan menahan rasa kantuknya. Baik rasa kantuk ketika sedang belajar maupun sedang mengaji, sehingga seorang guru tidak melihat secara langsung santrinya tertidur pulas. Hal tersebut merupakan dampak dari seorang santri yang masih menganggap ringan adab dan sopan santun terhadap seorang guru, pelajar hendaknya tidak mengabaikan adab kesopanan, dan amal-amal sunnah. Sebab barang siapa yang mengabaikan adab maka, akan terhalang dari melakukan hal-hal wajib atau fardhu, dan barang siapa yang mengabaikan fardhu maka akan terhalang dari pahala akhirat tang telah dijanjikan untuk orang-orang yang melakukan hal-hal wajib atau fardhu. Sebagian ulama berkata, hal diatas merupakan hadist yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw. Sehingga bagi seorang santri diharapkan untuk menjunjung tinggi nilai adab kesopanan terhadap seorang guru, sehingga seorang santri tidak terhalang dengan ibadah yang fardhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *