Tahukah kamu bahwa hari ini adalah peringatan hari keuangan? Ah kurasa tidak, tak banyak yang mengetahui, seperti layaknya peringatan hari-hari besar lainnya, terlebih sekarang ini sedang berlangsung kemeriahan peringatan Maulid Nabi Agung tercinta, Nabi Muhammad saw. Fokus kita tertuju pada perayaan hari lahir beliau, yang mana riuh menggemakan selawat dan membaca kasidah persembahan untuk Rasul tercinta kita.

Namun, disela-sela perayaan maulid ini, luangkan waktu yuk untuk membaca lima fakta menarik terkait adanya hari keuangan ini, simak baik-baik yaaa

Setiap negara mempunyai mata uangnya masing-masing. Begitu pula Indonesia dengan mata uang rupiah. Tahukah kamu bahwa terdapat banyak sejarah dibalik mata uang Indonesia hingga akhirnya lahirlah rupiah seperti yang digunakan seluruh masyarakat Indonesia saat ini? Kalau belum tahu, baca sampai selesai yaa artikel ini, hihi

Mata uang Indonesia dirancang setelah Indonesia merdeka

Setelah proklamasi Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia masih belum memiliki mata uang sendiri. Di seluruh wilayah Indonesia masih beredar mata uang Jepang, mata uang peninggalan Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank.

Lama-kelamaan pemerintah merasa perlu untuk mengeluarkan mata uang sendiri selepas kemerdekaan Indonesia. Bukan sekedar alat pembayaran semata, tapi juga sebagai lambang utama suatu negara merdeka, serta sebagai alat untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat luas.

 Lahir di tengah kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil

Sesaat setelah pemerintah baru merencanakan untuk membuat mata uang sendiri, datanglah sekutu Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang mau menerbitkan uang NICA yang memicu inflasi serta mengakibatkan kekacauan ekonomi di Indonesia. Karena hal ini, pemerintah akhirnya menyegerakan produksi ORI (Oeang Republik Indonesia) dengan harapan bisa mengurangi tekanan politik NICA.

Pada tanggal 29 Oktober 1946 pukul 20.00, Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden kala itu mengumumkan kepada masyarakat Indonesia melalui siaran radio RRI bahwa ORI mulai berlaku pukul 00.00 keesokan harinya, tanggal 30 Oktober 1946, dan uang lain yang beredar sebagai uang sah di Indonesia tidak lagi berlaku. Pada hari itu pula lah, Hari Keuangan Nasional dicetuskan. 

Sebelum Rupiah, Indonesia punya Oeang Republik Indonesia (ORI)

Pada saat itu, ORI pertama yang resmi beredar dalam bentuk delapan seri uang kertas bernominal satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah. ORI mempunyai sisi depan dan belakang yang bergambar ciri khas Indonesia, seperti wajah Presiden Soekarno, atau gambar keris, dan teks Undang-Undang Dasar 1945.

ORI digantikan dengan uang RIS setelah Indonesia diakui kedaulatannya

Meskipun telah merdeka sejak tahun 1945, Indonesia baru diakui kedaulatannya oleh Belanda pada 27 Desember 1949 melalui salah satu hasil perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB). Indonesia pun berubah nama menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Sebagai upaya untuk menyeragamkan uang di wilayah Republik Indonesia Serikat, pemerintah mengubah mata uang ORI menjadi Uang RIS, yang diterbitkan dan diedarkan oleh De Javasche Bank.

Pada Desember 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Sebelum menjadi satu-satunya lembaga yang menerbitkan dan mengedarkan uang, Bank Indonesia membagi tugas dengan pemerintah. Penerbitan uang kertas rupiah menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, sedangkan uang koin ditangani oleh pemerintah secara terpisah. Pada masa Orde baru, barulah Bank Indonesia diberikan wewenang untuk menerbitkan uang kertas sekaligus uang koin, dan mengatur peredarannya.

Rupiah lahir sebagai pengganti mata uang RIS

Di saat yang sama pada Desember 1951, Bank Indonesia juga merilis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran. Nama rupiah berasal dari kata “rupia”, bahasa Mongolia untuk perak. Ada pula pendapat lain yang mengatakan rupiah berasa dari bahasa Sansekerta “rupya” yang memiliki arti sama. Lalu, kenapa namanya bisa jadi rupiah? Karena pelafalan orang Indonesia, khususnya orang Jawa yang sering menambahkan huruf “H” di belakang kata.

Nah, begitu banyak lika-liku yang dilalui untuk mewujudkan mata uang rupiah bukan? Semoga dengan adanya hari keuangan ini, dan setelah membaca artikel ini, kita bisa bersama-sama menghargai mata uang rupiah kita ya!

Selamat hari keuangan ! 

Oleh: Syarifah Zaidah

Sumber: blog.kredivo.com

Gambar oleh Mohamad Trilaksono dari Pixabay

Leave a Comment