Aku duduk menatap langit sang penguasa alam yang luas akan nikmat, dan kembali berfikir mungkin ini semua harus terjadi padaku, bukan pada orang lain, karena Allah sudah pasti lebih tahu bahwa aku mampu menghadapi ini semua.

Tapi terkadang aku merasa begitu berat , perih dalam hati, rasa sakit yang hanya bisa ku rasa sendiri tanpa orang lain tahu, aku tak ingin melupakan semua memori indah ku begitu saja, tapi sebentar lagi itu akan terjadi padaku dan seberapa keras aku berteriak seberapa banyak aku menuangka air mata semua tak akan berubah….. tak akan pernah berubah. Aku berteriak keras “ aku butuh pengingat handal untuk hidupku!!!! ”,  karena suaraku selalu tertahan dalam hati dan tumpahlah air mataku. Dan komitmenku adalah cerita ini hanya milikku, tak untuk dibagi. Aku hanya ingin menulis ceritaku disini agar penjahat itu tak bisa menghapus memori ini.

“ Dooooorrrrr!!!!! Hayoo nagpain sendirian disini? ” sapa Ari mengagetkanku.

 “ Hmmmm bentar lagi aku turun kok ri….” jawabku pada ari yang telah mengusik lamunanku. “ “ Siap-siap ke masjid yuk bil ” ajaknya.

“ Awas biasanya sore-sore gini setan lagi pada jalan-jalan lhooo, nggak lucu kalau kamu kesambet setan,,,, wkwkwk ” meneruskan ucapannya sambil tertawa meledek lalu menepuk bahuku dan pergi.

Muhammad Nabil, yah…itu adalah nama terbaik dari 3 pilihan nama yang ada saat aku lahir. Tepat Jum’at Wagih tanggal 20 mei 1987 pukul 19.36 Wib aku lahir dan kali pertama aku menghirup udara di bumi. Aku anak satu-satunya dari orang tuaku. Aku terlahir dari kedua orang tuaku yang sederhana. Latar belakang keluargaku yang religi banyak memberitahuku tentang pencipta alam semesta. Nasehat ibuku yang tak pernah bosan ku dengar, walupun aku anak laki-laki, aku tak malu mengakui kalau aku dekat dengan ibuku.

Aku hidup di lingkungan desa yang masih kental dengan tradisi jawa, aku sering bermain dengan teman sebayaku di sungai atau sekedar bermain layang-layang di sawah. Selain supel, aku terkenal cerdas dan piawai dalam berbagai bidang di hadapan temanku. tapi itu dulu, semenjak lulus Sekolah Menengah Atas, aku memilih merantau ke kota orang untuk menimba ilmu. Yah Yogyakarta adalah kota pilihanku untuk marauk ilmu, tepatnya di Krapyak. Apa yang terlintas  dalam pikiran orang jika mendengar sebuah desa yang ada di Jogja satu ini,….. yah benar sekali Pondok Pesantren.

Yah… sekarang tinggal mengajukan proposal untuk niatku ini. Aku yakin juga orang tuaku pasti menyetujui proposalku kali ini. Jam dinding rumahku manunjukkan 21.15 WIB, Ku lihat Abah dan Mamak sedang duduk di depan televisi sambil menyimak dan berkomentar tentang apa yang dilihat, Abahku memang cerdas dan kritis, aku sering berdebat dengannya hingga larut malam bahkan kadang aku bisa emosi karena aku tak mau kalah argumen dengannya.

 Bismillah…

“ Bah… Mak ” sapa ku sambil mengambil posisi duduk.

“ Oh ya Bil… piye beasiswamu yang kemaren, sudah bok urus? Abah harap cepat bok diurus ya bil, biar Abah sama Mamak bisa tahu kepastiane, piye jelase” abah memulai pembicaraan sebelum aku menjelaaskan seolah tahu maksudku.

“ Hmmm…. Ngeten Bah, Sebelumnya Nabil nyuwun pangapunten. Bukannya Nabil tak mau menerima beasiswa itu. Tapi….”

Hush…. piye maksude!? Ojo mbok gawe dolalan iki.piye karepmu? “ sahut Abahku sebelum aku menjelaskan apa pun.

“Piye Bil, piye mau mu?” Mamak mencoba menenangkan keadaan yang tak ku duga cepat memanas ini.

Abah memotong perkataanku dengan cepat, seolah tak ingin mendengarkan lanjutan dari penjelasanku. Suasana ruang tengah menjadi terasa tak enak, aura kemarahan Abah mulai terasa dalam ruangan ini. Abahku memang keras dengan argumennya, tak mudah menerima argumen orang lain, apalagi dalam masalah pendidikan anaknya.

“ Nabil ingin ke Jogja. Pingin sinau di sana, di Krapyak Bah, Mak. Disana Nabil ingin tahu tentang ilmu yang balum Nabil katahui secara mendalam.” Jelasku langsung pada Abah dan Mamak.

“Lha terus gimana beasiswamu ke Hongkong??!! Bok lepas begitu saja?” tanya Abah dengan tegas.

Tentang beasiswaku ini memang tak begitu ku inginkan, melainkan keinginan Abahku. Awalnya aku hanya disuruh Abah untuk mencoba mendaftar saja, dan aku yakin ketika itu aku tak lolos, karena pesertanya banyak dan yang mendapatkan beasiswa hanya terbatas 3 orang dari setiap daerah. Ternyata aku termasuk orang beruntung yang lolos, tapi aku malah memberikan harapan yang kosong kepada Abahku.

Ku putuskan lamunan percakapan perih itu dengan melihat arloji yang melingkar di tangan kiriku yang ternyata sudah menunjukkan pukul 16.14 WIB, ini waktu yang selalu aku tunggu-tunggu. Menuturku selain malam yang sunyi nan damai, waktu senja seperti ini adalah waktu yang indah untuk dalam lantunan Al Quran.

Tiga tahun yang lalu megah meriah acara wisuda di universitas di mana aku kuliah. Ucapan selamat atas kelulusan dan cum laud pun terlontarkan untuk temen-temen yang sudah menyelasaikan studinya dalam kuliah.

Hmmm…. Tapi ucapan itu tak untuk diriku, sampai sekarang pun aku belum menyelasaikan urusanku dikampus yang banyak dibanggakan. Keterlambatanku dalam kuliah ini yang semkin membuat abahku semakin kecewa. Sampai sekarang pun aku masih belum mendapat gelar apapun dari kampus di mana aku kuliah.

Posisiku yang strategis sebagai pengurus pesantren adalah wahana untuk menyalurkan aspirasiku untuk lebih memajukan gedung putih ini terlebih aku termasuk santri yang dekat dengan guruku.

Sekian lama aku tinggal di gedung putih ini, bisa dibilang aku sudah sangat hafal dengan lokasi dan kegiatan yang ada dan dari sisi ilmu telah banyak pelajaran yang dapat ku petik, dari banyak sisi, dhwuhe yai, ngilmu yang disampaikan, atau tindakan guru-guru yang secara tak langsung telah banyak mengajariku bagaimana melangkah dengan tekad yang kuat.

Aku tak serta merta melupakan perdebatanku dengan Abahku sembilan tahun yang lalu. Aku masih berusaha agar aku bisa mengganti cita-cita Abah yang dulu ku tukar dengan keinginanku ini.

Sesekali aku dan temanku dipanggil Pak Yai, untuk hanya sekedar ditanya perkembangan pesantren, atau melaporkan masalah yang ada dalam pesantren itu sendiri dan sesekali kita mendapat nasehat, dan menurut aku itu yang terpenting dari pemanggilan kami. Kadang aku hanya menunggu nasehat apa yang akan beliau berikan untuk kami.

Walaupun kata temenku nasehat Pak Yai itu ya begitu-begitu saja. Tapi bagiku apa yang beliau dhawuhkan ke kita itu adalah kunci kesuksesan. Memang beliau lebih sering banyak menasehati kita untuk selalu istiqomah dalam segala hal, terutama dalam urusan ibadah kepada sang khalik.

“ Piye ya ben bisa istiqomah mbol ? ” tanya Farid teman sekamarku.

“ Mbol Mbol….. nek meh istiqomah ya dadi kyai dulu, sapa kita? Hahhhh ” sahut salah satu temanku.

“ Siapa bilang kudu dadi kyai sek? Kyai juga mulainya dari santri keles ha..” jawab Fuad.

“ Kalau menutur kamu apa Bil? Kamu kan yang sering dipanggil Pak Yai. Sebenarnya kalau kamu dipanggil biasanya untuk apa sih Bil, selain keperluan pondok? “ tanya Farid penasaran.

Percakapan itu mengalir saja dalam telingku, tanpa banyak jawaban dalam lisanku saat itu. Karena aku sendiri masih dalam pencarian pelajaran yang satu ini, yaitu istiqomah. Guru-guruku dan gedung ini telah banyak mengjariku banyak hal terutama dalam menata hati yang selalu runyam oleh urusan dunia ini.

Beberapa bulan bahkan hampir satu tahun ini baru aku merasa kerjaku mengurus kegiatan gedung putih ini sering tak maksimal, ku rasa aku tak memikirkan banyak hal yang membuatku tidak konsen. Terkadang aku lupa mau bilang apa dengan orang yang sedang bercakap denganku, aku juga pernah nyasar dalam lingkungan gedung putih padahal aku sangat hafal seluk beluk yang ada di sekitar gedung putih dan masih banyak kesalahku yang tak sengaja ku lakukan.

“ Bil kamu taruh dimana berkas untuk acara nanti malam? Tadi Pak Yai nanya, dhawue ndang gowo rene gitu bil ” tanya Farid

“ Berkas yang mana? Ngawur ja kamu, kok tanya aku?.” Bantahku

“ Lha terus tanya siapa lagi Bil, orang yang tahu semuanya kan kamu, piye arek iki,,,, ndang endhi berkase?.” Tagihnya lagi saat itu.

“Berkas apa lagi aku ga tahu apa apa kok ditanya berkas” ucapku dalam hati sambil pergi berlalu meninggalakan Farid yang kebingungan.

“ Woi Bil! Ancen Gemblong arek iki… “ teriak Farid sambil berlalu kesal.

Hari-hariku berjalan seperti biasa, dan alhamdulillah aku masih bisa menahan hawa nafsu untuk malakukan rutinitasku di kala senja di latai atas di gedung putih, tepatnya setelah mengaji dengan Gus Malik salah satu ustadz di pesantren. Aku hanya berusaha mengamalakan apa yang yai sering bilang kepadaku dan temen-temen

“ Heh Bil kemaren kamu ditanya Pak Yai, katanya kamu kemana saja…?” tanya Farid sambil melepas jas setelah mengaji.

“ Iya Po? “ jawabku pendek.

“Iya po…. iya po? Yang bener kamu itu…. Dari bulan kemaren kamu juga nggak terlihat duduk duduk dengan Pak Yai di depan teras ndalem beliau. Kemana saja kamu Bil Bil? kenapa kamu sering kali lupa dengan kebiasaanmu.” ledeknya ketus.

“ Kamu ki ngomong opo sih rid Rid ga nyambung blassss” balasku sambil berlalu meninggalkanya sendiri dikamar.

Aku tak begitu memikirkan apa yang Farid tadi bicarakan mungkin dia hanya menggodaku saja, sakarang senja pun tiba. Ku langkahkan kakiku dengan mantap, ku langkahkan kaki ini dengan cepat. Aku tak sabar untuk sampai di tempat itu. “ Hmmmm….memangnya aku harus pergi kemana lagi? “ tanya ku dalam hari aku lupa tujuanku. Akhirnya aku pun pulang ke kamarku, dan Farid ternyata masih dalam kamar.

“Rid , yang lain pada kemana ya? Jam segini kok kamar sepi ya?.” tanya ringan.

“ Biasanya juga kayak gini kali Bil, kamu yang tumben di kamar jam segini? Biasanya dah siap ke masjid.” Jawabnya ketus.

“ Memang biasanya aku di mana? Ngawur Farid ini.” Jawabku.

“ Ngomong sama kamu dari tadi nggak jelas ngalor ngidul Bil. Kamu lagi banyak masalah po Bil?” tanya Farid

Aku hanya menggeleng dan membiarkan dia di kamar. Di luar kamarku aku berhenti, “ Sepertinya ada yang kurang, aku melupakan sesuatu, tapi apa ya? “ batinku. “Ah paling hanya karena sering diomongin temen-temenku jadi aku ngrasa seperti ini ” bantahku.

Ketika itu Setelah mengaji malam aku benar-benar merasa kantuk, tanpa pikir panjang aku langsung tancap gas kaki untuk melangkah ke kamarku untuk tidur. Belum genap 10 menit aku berbaring datang ali kepadaku.

“ Bil…!Bill! ayok temenin aku keluar beli kertas, kertas di kantor habis.” Ajaknya.

“ Besok ja kenapa sih Li? Mataku tinggah setengh watt nih.” Tolakku.

Ali pun memaksaku untuk mau pergi dengannya sambil menarik kedua tanganku. Diapun berhasil memaksaku dan aku tak bisa lagi menolaknya. Dan tibalah kita di toko kertas langganan kita. Dua dus kertas HVS sudah kita beli, aku dan Ali pun langsung pulang kembali ke pesantren. Tak tahu apa yang terjadi ketika perjalanan pulang, mataku pening aku tak bisa melihat dengan jelas.” Apa yang terjadi? “ tanyaku dalam hati. Aku masih bisa mendengarkan panggilan Ali menyebut namaku ketika itu, tapi, tiba-tiba semuanya sedah gelap dan akupun tak sadarkan lagi

Ternyata aku hanya pingsan dan tak ada luka atas kecelakaan itu. Kami pulang kembali ke pesantren dengan tanpa ada yang luka parah.

Hari ini aku pergi ke kampus hanya untuk bertemu teman lamaku yang kebetulan sedang mampir ke Jogja, dan kami bertemu di kampus. Sebelum berangkat pastinya aku siap-siap berpakaian rapi. Satu jam aku baru sampai di kampus karena aku sedikit lupa jalan menuju ke kampus. Tak masalah yang terpenting sekarng aku ditempat yang kami sudah janjikan.

“ Woi ….! Apa kabar men!?” sapa seseorang laki-laki sambil merangkulku.

“ Aku bingung, siapa orang ini? ” batinku.

“ Kok kamu diam saja sih? Mana ekpresimu? Biasanya kamu rame orange?” tanyanya lagi dengan keras.

“ Maaf Anda siapa ya? Mungkin Anda salah orang?” tanyaku.

“ Ini aku Firman Bil? Kita kan janjian disini?” jelasnya.

“ Kamu Firman? Maaf aku lupa, apa kabar Fir?.” Tanyaku canggung.

Sedikit aneh dengan pertemuan itu, aku benar-benar lupa apa yang aku ingin lakukan di kampus. Kepalaku juga sering ku rasa pening tak beralasan. “ Ada apa ini? “ batinku. Aku teringat kata-kata Farid “ kenapa kamu sering lupa dengan kebiasaanmu, kadang kayak orang linglung”. Aku sendiri merasa aneh dengan diriku selama setahun ini. Apa ini gara-gara kecelakaan seminggu yang lalu?.

“ Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami apa yang menyebabkan penyakit alzheimer. Dan  Apa yang anda ceritakan menunjukkan banyak tanda-tanda gejala alzheimer. Mungkin ada tidak satu penyebab satu, tapi beberapa faktor yang mempengaruhi setiap orang berbeda. Usia adalah paling penting faktor risiko untuk penyakit alzheimer. Jumlah orang dengan penyakit ganda setiap 5 tahun melampaui usia 65. Sejarah keluarga adalah faktor risiko lain. Para ilmuwan percaya bahwa genetika dapat berperan dalam penyebab penyakit Alzheimer. Sebagai contoh, awal-awal keluarga penyakit alzheimer, sebuah bentuk langka penyakit alzheimer yang terjadi antara usia 30 dan 60, mewarisi.” Jelasnya dokter setelah aku bercerita tentang diriku akhir-akhir ini.

Alzheimer?  Jadi saya mengidap penyakit alzheimer dok? .” Tanyaku tak percaya.

Seolah tubuh ini tak berpijak di atas bumi, aku tak tahu apa yang dokter jelaskan tadi. Yang aku pikirkan sekarang berapa tahun lagi aku dapat bertahan? Berapa lama lagi aku bisa melakukan kebiasaanku di lantai 3 gedung putih itu? Lalu bagaimana dengan Abahku, aku belum bisa membuktikan dan mengganti cita-cita Abahku yang lalu.

“ Penyakit alzheimer ini memang sangat berlahan lahan, pada awal-awal penyebaran penyakit ini mungkin hanya kelupaan ringan, mulai dari kebiasaan yang dilakukan, lupa nama teman, lupa jalan pulang atau yang lain, dan sejauh ini penyakit ini belum ada obatnya dan belum ada yang menemukan sesuatu dalam penelitian medis.” Jelas dokter.

Seolah hari-hariku berlalu dengan cepat, dan alzheimer dalam raga ini pun semakin jahat menghapus memori manis ini. Aku berdiri di depan gedung putih ini, entah sampai kapan aku masih bisa mengingatnya. Aku takut aku tak bisa bertemu engkau di lantai atas gedung putih itu. Aku baru saja ingat, aku sudah lama tak duduk di depan teras ndalem pak yai untuk memenuhi panggilannya.

Aku tak tahu sampai kapan aku bisa mengingat yang indah ini,Ya Allah, jika hari esok aku tak dapat membuka mata dan aku bertemu dengan engkau berarti ini adalah tulisan hidup akhirku. Terima kasih atas nikmat yang selama ini kau beri, gedung putih ini saksi akan usahaku untuk menjalankan dhwuhe Pak Yai dan usahaku untuk mengganti citi-cita Abah dengan ini semua. Jika kala nanti aku tak bisa bertemu dengan Mamak, Nabil sayang Mamak, terima kasih atas restu dan dukungan Mamak selama ini dan semoga tulisan ini dapat dibaca.

Oleh : Dina N

Leave a Comment