Krapyak, 22 November 2018. Gus Irwan dengan mengendarai vespa, tiba di Krapyak sekitar pukul 21.15. kedatangannya sudah ditunggu oleh beberapa panitia putra dan putri di ruang tamu. Gus Irwan memang sudah dijadwalkan akan mengisi pengajian Maulid Nabi Muhammad Saw. di PP Al Munawwir Komplek Q, Krapyak.

Pada kesempatan tersebut, beliau bercerita mengenai kisah cinta Nabi Muhammad Saw. yang ternyata tidak banyak diketahui oleh para santri. Seperti apakah?

Dalam kitab An Nisa Haula ar Rosul, dijelaskan sosok Ummu Hani’. Siapakah Ummu Hani’ tersebut? Sebelum menikah dengan Khodijah, nabi menyukai Ummu Hani’ bin Abi Thalib. Namun karena pada masa itu, terdapat sebuah tradisi saling membalas lamaran, maka lamaran nabi ditolak. Keluarga Abi Thalib pernah dilamar oleh Bani Maktub, oleh karena itu, Ummu Hani’ dinikahkan dengan Hubaira dari Bani Maktub.

Setelah ditolak oleh Ummu Hani’, nabi menikah dengan Khodijah. Khodijah adalah wanita muslim pertama yang masuk Islam. Seluruh hartanya disumbangkan untuk kepentingan Islam. Tak heran jika nabi sangat mencintai Khodijah. Bahkan Aisyah sebagai istri termudanya cemburu terhadap Khodijah, karena walaupun Khodijah sudah tiada nabi masih sering menyebut kebaikan-kebaikan Khodijah di depan Aisyah.

Selang beberapa waktu, Ummu Hani’, memutuskan untuk masuk Islam. Namun Hubaira tetap kafir sehingga pernikahan mereka menjadi rusak dan akhirnya mereka bercerai. Jadilah Ummu Hani’ janda dengan membawa empat anaknya yang masih kecil-kecil. Mengetahui hal tersebut, nabi hendak melamarnya kembali karena merasa kasihan jika Ummu Hani’ harus merawat sendiri anak-anaknya yang masih kecil.

Tidak disangka, Nabi ditolak lagi oleh Ummu Hani’ untuk yang kedua kalinya. Ummu Hani’ menolak lamaran Nabi dengan berkata, ” aku mencintaimu melebihi mata dan telingaku, karena yang aku cintai adalah engkau Ya Rasulullah manusia yang paling mulia, aku takut jika aku menikah dengan engkau aku tidak bisa melayani engkau dengan baik karena sibuk merawat anak-anakku. Dan aku seorang janda yang mempunyai anak-anak yang masih kecil, aku takut jika aku sibuk melayani engkau anak-anakku akan terantar, jadi biarkan aku merawat anak-ankku sendiri.”

Mendengar jawaban Ummu Hani’ demikian, Nabi berkata “ sebaik-baik wanita Quraiys adalah wanita yang mengendarai unta sambil mengasuh anak-anaknya,” wanita Quraisy yang dimaksud Nabi adalah Ummu Hani’. Meskipun Nabi tidak menikah dengan Ummu Hani’, namun Nabi tetap mendapatkan cintanya.

Berbicara mengenai pernikahan nabi, sering kali kita mendapat pertanyaan apakah nabi seorang pedofil dan menikah lebih dari 4 kali? Gus Irwan mengatakan bahwa dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah tidak mengumpuli Aisyah hingga usianya sekitar 17 tahun. Sebelum itu, Aisyah diperlakukan layaknya anak kecil seusianya seperti sering diajak bermain ke pasar, melihat pertunjukan-pertunjukan dan sebagainya.

Pernikahan nabi dengan Aisyah murni permintaan dari ayah Aisyah, Abu Bakar. Seperti yang sudah diketahui, Abu Bakar adalah orang yang sangat dekat dengan nabi, bahkan hampir seluruh harta dan jiwanya telah disumbangkan untuk perjuangan Islam. Nabi tak kuasa menolak tawaran dari Abu Bakar.

Sedangkan mengenai pernikahan-pernikahan dengan wanita-wanita lainnya, adalah pernikahan karena situasi dan kondisi saat itu. Istri-istri nabi adalah janda-janda berusia 40 tahun yang ditinggal suaminya karena gugur di medan perang. Nabi sudah menawarkan kepada sahabat, tetapi tidak ada yang mau. “Pernikahan nabi dengan janda-janda ini murni karena nabi ingin menolong janda-janda ini beserta anak-anak yatim agar mereka tidak terlantar, “ kata Gus Irwan.

Leave a Comment