GUS QOYYUM: Bagaimana menghadapi mimpi buruk?

Posted on 0 views

Mimpi dalam bahasa arab adalah ru’ya, dalam Alquran kata ru’ya disebut sebanyak tujuh kali. Nabi Yusuf merupakan seorang Nabi yang diberikan keahlian secara khusus dalam menafsirkan mimpi, baik itu mimpi baik ataupun mimpi buruk. Kalau dalam ulama Islam kita kenal dengan Ibnu Sirin yaitu seorang penafsir mimpi yang sangat terkenal dalam sejarah Islam.

Ada sebuah cerita dalam Kitab Mirqotul Mafathi, yakni ada seorang laki-laki yang bercerita kepada Nabi saw. “Wahai Rasulullah saya bermimpi di dalam tidur saya, sepertinya kepala saya ini dipotong, putus.” Rasululah bersabda: “Apabila syaitan telah memain-mainkan kepada salah satu kamu sekalian di dalam tidurnya, seperti mimpi terpotongnya kepala itu dimain-mainkan oleh syaitan, maka jangan ceritakan mimpi itu kepada orang lain”

Ketika kita mengalami mimpi buruk apa yang harus dilakukan? Ada satu kitab yang berjudul ar-Ru’a riset ilmiah tentang mimpi, di situ dijelaskan ketika kita mengalami mimpi buruk maka ada 6 perkara yang harus dilakukan. Pertama adalah membaca taawuz sebanyak tiga kali. Kedua adalah meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi, supaya mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan. Ketiga adalah setelah kita bermimpi buruk kita bangun dan meludah kecil tiga kali kearah kiri. Keempat adalah bangun dan bersegera melaksanakan shalat. Kelima adalah berpindah posisi tidur yang lain. Keenam adalah jangan ceritakan mimpi buruk tersebut kepada orang lain. Semua itu adalah cara menghadapi mimpi buruk menurut sunah Rasulullah saw.

Apabila kita mengalami mimpi buruk jangan tergesa-gesa memberikan tafsiran buruk, harus husnuzan (berprasangka baik) meskipun mimpinya buruk. Diceritakan dalam Kitab Sunan Ad-Darimi ada seorang wanita di kota Madinah, suaminya berdagang di luar kota. Wanita ini ditinggal suaminya dalam keadaan hamil, istrinya bermimpi dalam mimpinya melihat tiang rumahnya patah, pecah, dan melahirkan anak laki-laki yang bermata satu. Mimpi itu kemudian diceritakan oleh wanita tersebut kepada Rasulullah saw..

Baca juga

Meskipun itu mimpi buruk, Rasulullah menafsirkan “InsyaAllah  suamimu akan kembali pulang dengan selamat dengan kadaan sholeh. Kemudian kamu akan melahirkan seorang anak laki-laki yang berbakti, baik, berbudi pekerti, berakhlak baik”. Mimpi itu dialami wanita tersebut sampai dua atau tiga kali. Kemudian diceritakan mimpi tersebut kepada Rasulullah dan beliau menafsirkan mimpi itu dengan baik. Akhirnya menjadi kenyataan suaminya pulang dan wanita tersebut melahirkan anak laki-laki yang saleh.

Beberapa tahun kemudian wanita ini ditinggal suaminya kembali berdagang dan mengalami mimpi yang sama. Wanita ini ingin bercerita kepada Nabi saw. tetapi tidak bertemu Nabi saw., bertemulah dengan Aisyah R.a dan menafsirkan buruk tidak sama dengan tafsirnya Nabi. Aisyah R.a menafsirkan “Suamimu akan meninggal dunia dan kamu akan melahirkan anak laki-laki yang durhaka”. Lalu, Rasulullah saw. menegur kepada Aisyah “Apabila kalian semua mimpi seorang muslim, maka tafsirkan mimpi itu dengn baik”. Tetapi karena Aisyah menafsirkan buruk, akhirnya suaminya tadi meninggal dunia dan anaknya yang lahir adalah laki-laki yang durhaka. Dari kisah tersebut maka jangan mudah menafsirkan buruk terhadap mimpi yang buruk dan berprasangka baik.

Ketika kita mengalami mimpi buruk bersegeralah salat malam. Mimpi buruk ini jangan sekali-kali kita ketakutan kemudian kita memastikan atau berfikir kalo mimpi buruk terebut akan terjadi, usahakan berprasangka baik kepada Allah Swt. akan mentakdirkan kebaikan kepada kita. Rasulullah saw. bersabda dalam satu hadis “Yang paling benar di antara kamu dalam mimpinya adalah yang paling benar ketika bercerita, ketika berbicara”. Kalo kita menjadi orang jujur, maka mimpi itu menjadi mimpi yang benar. Semoga Allah menyelamatkan kita dari mimpi yang buruk dan kenyataan yang buruk.

Oleh: Usrotul Laela

Sumber: Gus Qoyyum dalam Kanal Youtube

Foto oleh Ketut Subiyanto dari Pexels