Hadiah Tuhan Lebih Indah

Posted on 0 views

Labbaikallahumma labbaik,” terdengar suara seperti bisikan. Seketika tangan Ridho berhenti menuntun pena. Hati-hati, ia edarkan pandangan mata ke arah sekitar. Setengah menekan rasa takut yang tiba-tiba memeluk, dilihatnya jam dinding. Malam masih menunjukkan pukul 22.48 WIB. Seketika juga rasa kantuk hilang. Segera, ia letakkan pena dan buku di nakas meja, meraih selimut dan menenggelamkan diri dalam kasur empuk. Pikirnya, ia takkan melihat apapun. 

 “Labbaik..” suara itu kembali terdengar, bahkan semakin keras dan semakin dekat. Akhirnya, ia beranikan diri menyingkirkan selimut yang menutupi. Awalnya, ia berniat untuk membangunkan emak. Namun, ketika melihat ke wajah emak, beliau seperti tersenyum sembari mengucap sesuatu yang tidak terdengar. Lalu, ia dekatkan telinganya, dan tersenyum lega. 

“Ternyata igau-an emak,” Ridho pun melanjutkan tidur kembali.


“Mak, doain Ridho, ya, supaya suatu saat nanti, uang-uang ini bisa mengantarkan emak ke rumah Allah.”

Emak tersenyum. “Aamiin, nak. Emak hanya bisa berdoa,” balasnya.

Dalam hati, Ridho tau jika uang hasil peras keringatnya untuk mewujudkan mimpi emak akan sangat lama terkumpul. Tapi baginya, membuat emak tersenyum adalah keharusan, karena itu adalah bekal semangat untuknya hidup. Bersama sekarung semangat dan pesan dari emak, ia langkahkan kaki menuju tempat bekerja. “Tidak ada yang berjuang sendiri, selalu ada doa dan percaya diri yang selalu menemani,” cuilan pesan emak yang selalu ia pegang supaya semangat yang hilang selalu kembali. Mengantar barang, mengecek barang, dan menjaga kantor ia jalankan dengan semangat yang ada. 

Hari-hari permulaan, segala urusan berjalan dengan lancar. Tidak lupa untuk berjumpa emak lewat seluler gengggam usang yang ia beli dari hasil kerjanya, sekadar melepas rindu. “Berusaha keras tidak akan berhasil tanpa campur tangan Gusti Allah. Jadi, jangan lupa untuk selalu ingat Allah sesibuk apapun,” pesan emak sore itu di akhir bincang hangat bersamanya.  

Rutinitas setelah sekian bulan merantau terjadwal lebih keras. Pagi seperti siang, siang akan selalu siang, dan malam yang tak ingin segera kembali subuh. Begitulah kira-kira waktu Ridho bekerja. Di waktu subuh sebelum fajar kadzib muncullah ia terlelap walaupun hanya sekejap. ‘Aku harus bawakan emak tiket’, itulah yang ada dalam pikiran Ridho selama ia bekerja, hingga ia abai dengan kondisinya dan pesan emak. Tahajud terlewat karena kantuk yang selalu mampir, sholat semakin mundur karena tugas yang mengharuskannya lembur, kiriman tersendat, dan suara emak yang semakin jarang ia dengar karena hp selalu ia lempar ketika dering terdengar. “Sibuk, nanti ya, mak,” pikirnya. Semakin hari, bukan ketenangan yang ia dapat, tapi seperti peringatan untuk tidak lupa taat dan kembali sadar. 

Senin sore, ia menelepon emak. “tuuuut..” bukan emak yang menerima, kenapa bibi Pinah yang mengangkat? Batin Ridho. 

“Assalamu’alaikum, Mak,” salamku, rindu.

“Wa’alaikumsalam, Nak, gimana kabarmu?” jawab emak, serak setengah berbisik.

“Alhamdulillah baik, Mak. Maaf kiriman Ridho telat. Telfon emak juga sudah jarang. Eh, emak sakit?” Terdengar helaan nafas, tapi ditutup dengan senyum. Ridho merasakannya. “Tidak apa, Nak. Simpanlah untuk kamu jika penting. Emak hanya capek saja.” Selalu begitu. Emak yang tidak ingin merepotkan siapa pun. Bersambung dengan cerita panjang yang mengalir begitu saja, sampai tak sadar air mata ikut mengalir sebagai penyesalan. Menjelang magrib, Ridho pamit. “Pesan emak yang lalu bukan untuk saat itu saja, atau hanya saat kamu putus asa. Karena Allah itu tidak hanya ada ketika itu. Allah bersama kita jika kita membersamaiNya,” tangis Ridho semakin pecah. Akhir percakapan yang menyadarkannya. Ia berjanji untuk berusaha kembali untuk mencapai  RidhoNya. Hari berikutnya, ia jalani dengan semakin baik, sesuai janjinya. 


Empat tahun sudah ia lewati. Atas izin Allah, lewat orang-orang baik, ia bisa menghadiahkan satu tiket menuju rumah Allah di Makkah. Dengan senang hati, Ridho segera kembali ke kampung, memberi kejutan untuk emak. Ia sengaja tidak mengabarkannya kepada emak. Di perjalanan, ponselnya tiba-tiba berdering. Panggilan emak. “Assalamu’alaikum, Mak,” bukan emak yang menjawab, Bibi Pinah. Ia  menjelaskan dengan hati-hati, “Emak jatuh di kamar mandi, Le,” seketika kantuknya hilang. Pikirannya berlari kesana kemari, mencerna berbagai kemungkinan apa yang akan terjadi. Sesampainya di kampung, ia berlari kencang, sambil memeluk map berisi hadiah terbaik untuk emak. Langkahnya melambat melihat kerumunan orang di halaman rumah. Segera ia lari menuju kamar emak, menabrak semua orang yang ada.

“Mak, assalamu’alaikum, ini Ridho. Ridho bawa ini untuk emak, emak sehat, yah,” tangisnya tak terbendung  mengetahui emak terkulai lemas di atas ranjang. Ia tunjukkan tiket itu untuk emak. “Waalaikumsalam, nak. Terimakasih, Ridho. Emak akan akan pakai tiketnya ke rumah Allah,” jawab emak terbata-bata, semakin lirih hingga kata terakhir tidak Ridho dengar. Mata itu tertutup, selamanya.  

“Emak berkunjung ke rumah Allah, dijemput kendaraan terbaik bersama malaikatNya,” bisik bibi sambil memeluk Ridho. Tubuh Ridho terkulai lemas, tak berdaya. “Sebelum kamu sampai, emak melantunkan kalimat talbiyah, emak tenang di sana,” sambung bibi.  Bersama tanah yang melebur dengan raga emak, jiwanya hancur bersama kenangan yang tercetak bersama. 

“Emak dijemput Allah langsung bukan hanya berkujung ke rumahNya, tapi langsung bertemu denganNya.”

Oleh : Iqna Isti’nafiyah

Photo by abdurahman iseini on Unsplash