Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, sejak tahun 1959. Hari Pendidikan Nasional diadakan sebagai bentuk dedikasi bagi tokoh besar sekaligus paling berpengaruh dalam dunia Pendidikan di Indonesia, beliau adalah Ki Hajar Dewantara. Pada masa kolonial Belanda, beliau gencar dalam menentang kebijakan Belanda mengenai hak mengenyam Pendidikan, di mana pada waktu itu hanya orang-orang berdarah Belanda serta sebagian orang-orang pribumi yang berlatar belakang keluarga terpandang saja yang boleh menikmati Pendidikan.


Hari Pendidikan Nasional diresmikan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) no. 316 tanggal 16 Desember tahun 1959. Tujuan peringatan sejarah hari pendidikan nasional ini adalah untuk menunjukkan wujud kepedulian yang nyata dari pemerintah akan pentingnya bidang pendidikan di Indonesia. Hari ini juga dijadikan sebagai momentum untuk menumbuhkan kembali rasa patriotisme dan nasionalisme bagi seluruh insan dalam bidang pendidikan, pemerintahan, swasta, dan pada masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Mengetahui sejarah hari pendidikan nasional sangat penting agar bangsa Indonesia dapat terus memahami sejarah dunia pendidikan dan menyadari pentingnya pendidikan yang baik bagi kemajuan bangsa serta negara.

Tema dari Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2021 yaitu “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar”.

Riwayat Ki Hajar Dewantara
Beliau lahir pada tahun 1889 dari keluarga kaya Indonesia yang masih merupakan kerabat keraton Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Ki Hajar bersekolah dasar di ELS dan melanjutkan ke STOVIA atau sekolah dokter bumiputera, tetapi tidak selesai sampai lulus karena sakit. Kritik dari Ki Hajar kepada Belanda disampaikan melalui tulisan-tulisan yang tajam, salah satu judul tulisannya yang terkenal adalah “Als Ik Eens Nederlander Was” yang berarti “Seandainya saya seorang Belanda”. Kritiknya yang berani terhadap kebijakan pemerintah kolonial membuatnya diasingkan ke Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo membantu dan meminta agar Ki Hajar dipindahkan ke Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 yang menjadi patokan awal konsep pendidikan nasional di Indonesia. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai wartawan di Midden Java, Sedyotomo, Oetoesan Hindia, De Express, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Beliau kemudian diangkat sebagai Menteri Pendidikan setelah Indonesia merdeka pada kabinet pertama dan mendapatkan anugerah berupa gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1957.


Mottonya yang terkenal hingga sekarang yaitu “Tut Wuri Handayani” yang berarti “Di Belakang Memberi Dorongan” masih digunakan sebagai semboyan dalam dunia pendidikan di Indonesia dan tercatat dalam sejarah hari pendidikan nasional kita. Semboyan tersebut lengkapnya berbunyi “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mandun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Artinya, dari belakang seorang guru harus mampu memberikan dorongan dan arahan (arti Tut Wuri Handayani), di tengah murid, guru harus mampu menciptakan prakarsa dan ide-ide (Ing Madya Mangun Karsa), dan di depan, seorang guru harus dapat memberi teladan atau contoh dari tindakan yang baik (Ing Ngarsa Sung Tulada). Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada usia 70 tahun, tanggal 26 April 1959. Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia no.305 tahun 1959 menetapkannya sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia sekaligus menetapkan peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei untuk menghormati jasa-jasanya dalam dunia pendidikan Indonesia.


Salah satu hal yang dapat dilakaukan untuk memeperingati Hari Pendididikan Nasioanal adalah dengan melakukan upacara bendera. Namun, mengingat peringatan Hari Pendididkan Nasional Tahun ini ditengah tengah pandemi, maka sebaiknya dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan pemerintah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Oleh: Silfi Ainun Nisa

Photo from Grid.ID

Leave a Comment