Cerpen oleh Af’idatul Muzayyanah
Foto/ ilustrasi oleh : Alifiia

 

Perkenalkan, namaku Ali. Aku seorang santri di sebuah pondok pesantren di Cirebon. Bukannya sombong, tapi aku cukup terkenal di kalangan santri putra, santri putri, dan tentu saja para kiai. Jangan salah paham dulu, aku terkenal karena sering kena takzir. Tapi, prestasiku juga yang membuat beliau-beliau mengenalku. Dulu, aku tak suka berada disini, sudah jelas bukan? Ya! Karena aku tidak bisa sesuka hati bepergian, harus ada izin lah, jam segini harus balik lah, capek kali aku, mau pergi pun harus diatur.

Aku sudah 9 tahun d pondok pesantren ini. Jangan tanya kenapa ya! Nanti aku ceritakan! Dulu, juga waktu aku ke sini, aku ditemani bapak dan ibuku, dititipi di Kiai Hasan. Aku mulai kerasan dipondok ini pada saat kelas IX MTs. Di awal mula aku melihat seorang perempuan yang menggetarkan hatiku. Aku mulai penasan dengan perempuan tersebut. Dan kebetulan, sepupuku, Fida adalah temannya. Aku mulai bertanya semua hal tentang perempuan itu. Menanyakan namanya, asalnya, kelasnya, dan asrama nya.

“Fid, Fida…” panggilku sepulang sekolah

“Apa? Ada apa?” jawab Fida ketus

“Galak kali ah, eh itu, kau tahu anak itu? Siapa namanya?”

“Oh itu.. Kenapa rupanya?”

“Tinggal jawab aja kenapa?”

“Hasna. Namanya Hasna”

“Cantik kali ya namanya, persis paras nya”

“Iyalah, putri abah kok”

“Yaiyalah putri abahnya, masa putri omnya?”

“Ih maksudku, abah yai Hasan”

“Ah yang benar aja lah kau Fid”

“Ya sudah kalau tidak percaya!” jawab Fida dengan berlalu meninggalkan ku.

Sejak hari itu, aku dibuat penasaran oleh Hasna, aku memberanikann diri untuk tetap mendekati nya bagaimanapun caranya. Sempat juga aku berpikir bahwa aku akan mendapatkannya karena ia putri kiai dan sedangkan aku hanya seorang santri. Namun, aku yakin setiap proses tidak pernah mengkhianati hasil. Akhirnya aku tekadkan untuk tetap mengejar ia. “alasanku bisa bertahan disini sampai sekarang”.

Hari-hari kulewati dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari mengaji, sekolah, Ujian Nasional MTs, sampai Ujian Nasional MA. Namun, belum juga kudapatkan perhatian Hasna. 3 tahun sudah aku berjuang untuk mendapatkan nya, tapi hasilnya nihil. Sampai disuratku yang entah ke berapa ratus untuknya, dia membalas surat tersebut.

Memang pandai sekali Hasna membuat hatiku bergetar. Balasan surat tersebut adalah pintu menuju kedekatanku dengan Hasna. Ya, kami backstreet. Tidak mungkin untuk mengumumkan bahwa kita sepasang kekasih di sini, mengingat Hasna putri dari kiai ku sendiri.

Akhirnya, setelah 3 tahun perjuangan, kini terbayarkan sudah. Aku semakin semangat mengaji dan belajar untuk masuk ke perguruan tinggi ternama di kota ini. Untuk membuat bapak dan ibu bangga, dan tak ketinggalan pula Hasna. Sepertinya Allah sedang mendengar do’aku. Aku lolos tes masuk perguruan tinggi ternama dan di jurusan terfavorit.

Hafalan Al-fiyah Ibn Malik ku pun hampir selesai, tinggal beberapa bait lagi. Berkat do’a bapak dan ibu setiap hari di rumah, dan dukungan yang kuat dari Hasna lah yang bisa membuatku seperti sekarang ini. Dan, seperti yang kulihat, Hasna tetap mempesona dengan balutan jilbab yang menjuntai menutupi dadanya, prestasi Hasna pun melejit tinggi seperti biasanya. Lelaki mana yang tak menginginkan wanita seperti Hasna? Ya! Aku sangat beruntung bisa memilikinya.

Dua tahun sudah aku menjalin hubungan dengan Hasna, entah sudah berapa kertas yang berjasa atas hubungan ku dengan Hasna. Dan aku tidak pernah bosan dengan kebiasaan kami dua tahun belakangan ini.

Mulai hari ini, ndalem disibukkan dengan persiapan menyambut tamu agung katanya. Tamu penting. Sehingga harus disiapkan segalanya jauh-jauh hari dengan matang. Akupun ikut sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk minggu depan.

“Astagfirullah” aku terbangun dari tidurku. Aku bermimpi, Hasna mengenakan baju serba putih, cantik sekali membelakangiku. “Pertanda apa ini ya Allah?”

Seminggu kemudian, tamu agung itu datang, ternyata masih saudara dengan Abah Yai Hasan. Namun sudah sangat jauh. Saat itu, aku sedang di dapur membantu menyiapkan wejangan untuk saudara abah, mereka datang satu keluarga. Setelah selesai menyajikan wejangan, tiba-tiba Hasna menarikku ke belakang rumah.

“Ada apa dek? Tanyaku bingung

“Mas, maafkan aku, seharusnya dari awal aku tidak membalas perasaanmu. Biar kita sama-sama mendoakan dalam diam saja” ucapnya sendu.

“Ada apa? Cerita sama mas” ucapku berusaha menenangkan

“Tamu yang di depan itu, yang kamu bantu persiapannya dari minggu lalu, adalah calon mertuaku” jawabnya sambil terbata-bata dan terisak

“Maafkan aku mas, seharusnya kita tidak sampai sejauh ini, maaf telah menyakiti hati mas” sambungnya.

“Dek, aku sadar aku siapa dan aku sudah memikirkan ini berulang kali. Aku tahu resiko yang akan datang, bahkan aku sudah menyiapkan hati kalau hal ini terjadi, dan benar saja ini terjadi hari ini. Aku tidak apa-apa. Walaupun akhirnya kamu tidak bersamaku menuju surga-Nya, setidaknya kamu pernah menjadi pelangi dihidupku, walaupun hanya sementara. InsyaAllah mas ikhlas”.

Satu bulan kemudian Hasna benar-benar menikah dengan lelaki pilihan abah. Terkadang, Allah tidak akan memberikan apa yang kamu inginkan,tapi Allah pasti memberi apa yang kamu butuhkan. Dan tidak semua keinginanmu harus kau dapatkan.

Selamat menempuh hidup baru, Hasna 🙂

Leave a Comment