Ijinkan aku mengenang Bapak tanpa derai air mata Biarkan aku memahat sosok Bapak di hati dan jiwaku dalam sukacita Karena Bapak yang menerbitkan rinduku adalah sosok Bapak yang lucu Menghidupkan suasana penuh gembira dan suka bercanda Ada santri dijuluki dakocan Ha ha haa Kurasa tak ada yang marah dan tersinggung dengan candaan Bapak Eemmm … kurasa malah

Senin (3/2), mengiringi rangkaian Semarak Haul, PP. Al Munawwir Komplek Q gelar Haflah Khotmil Qur’an Madrasah Tahfidz Putri Anak (MTPA) dan Santunan Anak Yatim. Acara dilaksanakan pada malam hari di halaman PP. Al Munawwir Komplek Q. Sesi pertama yaitu Santunan Anak Yatim dari Majlis Ta’lim An Nisa Krapyak Wetan. Santunan diserahkan langsung oleh Ibu Nyai Hj. Ati

Gus Hilmi Muhammad berkesempatan mengisi mauidzo hasanah dalam peringatan Haul Almagfurlah K.H. A. Warson Munawwir yang Ke-6. Kepala Madrasah MA Ali Maksum tersebut menyampaikan beberapa cerita mengenai almarhum, dari cara berpakainnya, organisasi, hingga cerita mengenai perjalanan sebuah maha karya, Kamus Al Munawwir yang mendunia. Rabu, 12 Februari 2019 sore sekitar pukul 16.00 mendung mewarnai langit Krapyak. Tepat

K.H. A. Warson Munawwir—pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q—merupakan sosok yang membekas dalam hati banyak orang. Dr. KH. M Habib Abdus Syakur, M. Ag. salah satu yang tidak bisa melupakan kenangan bersama Kiai Warson. Pak Habib Syakur—sapaan akrabnya—merupakan salah satu sosok santri ndalem sedari keluarga Kiai Warson masih tinggal di kompleks pusat. Ia tergolong dekat dengan Bapak—sapaan

(31/1) – Simaan Al-Quran oleh Himpunan Alumni Komplek Q PP Al-Munawwir (Halqimuna) dan Madrasah Tahfidz Al Munawwir Komplek Q dalam rangka Haul Almaghfurlah KH Ahmad Warson Munawwir yang ke 7  dan Haul Almaghfurlah KH M Munawwir bin Abdullah Rosyad yang ke-81 dibuka pagi tadi ba’da subuh dengan pembacaan hadloroh oleh Ibu Nyai Hj Khusnul Khotimah Warson. Pembacaan

Almunawwir.com – Adanya peringatan haul sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw, adanya para wali, kemudian turun-temurun hingga saat ini sampai generasi para ulama. Seperti peringatan Haul Mbah Warson sekarang ini. Pernyataan itu disampaikan oleh KH Ahmad Muwafiq dalam acara peringatan Haul KH Ahmad Warson Munawwir, Ahad malam (2/2) bertempat di halaman Pondok Pesantren Almunawwir Komplek Q. Haul

Masih ku ingat betul langit hitam di pagi Jum’at Di 18 April 2013 Selepas shubuh yang masih remang kami berkumpul di ruang kosong yang penuh Semua sesak berjama’ah Menyeka ujung mata masing-masing Tidak ada kompromi, namun seperti sudah ada komunikasi dalam hati ke hati Suasana menjadi tidak menyenangkan, Pikiran medadak kalang kabut Pengurus wara wiri dengan wajah

“Warson gawe apa Cung? Kowe gawe kamus sing tenanan yo. Ora kena gawe kamus mung elek-elekan. Mbok cetak terus kok dol. Kudu sing apik tenan. Mengko nak ana sing ra ngerti takono aku.” (K.H Ali Maksum) Lahirnya kamus Al-Munawwir merupakan salah satu bukti kemampuan bahasa Arab Kyai Warson yang mumpuni. Hal ini tentu tak lepas dari gemblengan

Beberapa hari sebelum menulis kisah ini, saya dapat pesan lewat Whatsapp dari salah satu warga Halqimuna panitia untuk membuat tulisan bebas tentang Komplek Q, tentu saja dengan seribu satu cerita indah yang menyertainya. Masih kata sang pengirim pesan, hal ini dalam rangka memeriahkan harlah Komplek Q. Dengan modal nekat karena tidak punya pengalaman menulis sedikitpun, saya mengiyakan.

  • 1
  • 2