“Eh, dia sekarang udah hijrah loh. Pake kerudung dan baju yang lebar gitu, padahal dulu pake kerudung pas hari raya doang!” *Julid mode on

Pemaknaan hijrah saat ini makin menyempit. Padahal kalau kita tilik secara bahasa, hijrah artinya berpindah. Hijrah oh hijrah…

Pemaknaan ini kemudian meluas pada perpindahan dari sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik. Artinya, kata ini menekankan perubahan dari kondisi awal dan setelahnya. Hanya saja, tanpa kita sadari pemahaman kita akan hijrah semakin dangkal seiring dengan fenomena hijrah belakangan ini. Korban fenomena wkwk

Kalau kita tarik jauh ke belakang, Nabi juga pernah melakukan hijrah loh. Beberapa hijrah yang pernah tercatat dalam sejarah yakni ke Habasyah, Thaif dan Madinah.

Hijrah Nabi ke Madinah membawa banyak perubahan penting bagi umat Islam. Sebut saja penanggalan Hijriyyah. Penanggalan yang didasarkan atas peredaran bulan (qomariyyah) sebagai acuannya ini memiliki dua belas bulan dimana pergantian hari dimulai saat Maghrib, berbeda dengan  kalender Masehi yang pergantian harinya pada pukul 00.00. Nah, Hijrah Nabi ke Madinah ini menjadi titik awal penanggalan Hijriyyah.

Kerennya, hijrah yang dilakukan pada 622 Masehi ini juga menjadi ruang persahabatan dan toleransi lho. Antara kaum Muhajirin (masyarakat Mekkah yang ikut berhijrah) dan Anshar (masyarakat Madinah yang menolong kaum Muhajirin), bahkan dua suku yang sudah bersengketa sejak lama yakni Aus dan Khazraj berdamai kembali.

Njuk, letak toleransinya dimana?

Eit, hijrah ke Madinah ini bagi umat Islam pada saat itu adalah perubahan besar menuju tatanan baru. Kota Yatsrib atau yang berganti nama menjadi Madinah menjadi pusat pemerintahan umat Islam. Oleh karena penduduk Madinah adalah masyarakat heterogen, lahirlah Piagam Madinah.

Piagam Madinah berisikan perjanjian antara Muslim dan Yahudi-Nasrani bani Qainuqa’, Bani Nadzir, Bani Quraidzah, Bani Auf untuk mengatur kehidupan baik secara social, ekonomi maupun keagamaan. Artinya, piagam ini menjadi bukti kebebasan bagi tiap-tiap suku dan agama yang berbeda untuk melaksanakan sesuai apa yang dianutnya.

Akhir cerita, hijrah bukan hanya tentang pakaian bukan? Lebih tepatnya, kalau kamu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, artinya kamu sudah berhijrah… tidak perlu symbol pakaian untuk dikatakan berhijrah. Ya kan?

*beberapa data diambil dari beberapa artikel yang diterbitkan islami.co

Oleh : Ma’unatul Ashfia

Foto oleh Abdullah Ghatasheh dari Pexels

Leave a Comment