Masyarakat Yogyakarta khususnya warga Nahdliyin tentu saja mengenal sosok KH. Asyhari Abta. Ia adalah seorang Rois Syuriah PWNU DIY yang sangat disegani oleh masyarakat dan santri-santrinya. Tetapi banyak yang tidak tahu siapa sosok yang selalu berada disampingnya untuk menemani setiap perjuangannya. Ia adalah Ibu Nyai Muthi’ah.

Ibu Nyai Siti Muthi’ah B.A dilahirkan pada tanggal 02 Oktober 1962 di kota Cilacap dari pasangan KH. Khumaidi dan Ibu Nyai Mukhlisoh. Ibu Nyai Muthi’ah mengawali pendidikan dasar di kota kelahirannya sampai madrasah tsanawiyah. Setelah itu melanjutkan pendidikan Aliyah di Denanyar Jombang dan menjadi mahasiswi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu Nyai Muthi’ah menikah dengan KH. Asyhari Abta pada bulan September 1986 dan dikaruniai putra dan putri yang bernama Ataka Badrud Duja, Aqimi Dinana dan Fauqi Midad Ni’am.

Bagi ibu Nyai Muthi’ah, seorang perempuan sudah ditakdirkan untuk menjadi istri, dan istri akan menjadi seorang ibu. Dalam rumah tangga, pasangan suami istri adalah seorang teman yang harus saling melengkapi, memiliki tanggung jawab yang sama, dan bukan hanya sebagai konco wingking. Dalam kesehariannya, Ibu Nyai Muthi’ah tidak hanya membantu KH. Asyhari dalam keluarga, tetapi juga membantu dalam berdakwah di masyarakat, karena baginya, tanggung jawab di masyarakat menjadi kewajibannya juga.

Dalam mengurus rumah tangga, Ibu Nyai Muthi’ah dan KH. Asyhari Abta berusaha untuk saling terbuka, membantu dalam mengurus anak. Karena bagi sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan, jangan dicederai, tetapi harus ditanamkan kebaikan. Dalam perihal perjuangan dakwah, kehati-hatian menjadi prinsip utama. Kehati-hatian itu di antaranya meliputi menjaga kepercayaan atau bertanggung jawab mengelola uang yang dipasrahkan untuk keperluan dakwah atau sedekah.

Datang ke Krapyak merupakan rumah kedua bagi Kh. Asyhari Abta dan Ibu Nyai Muthi’ah. Pada tahun 1986, Ibu Nyai Muthi’ah dan KH. Asyhari Abta mengontrak di daerah Krapyak dengan suasana masyarakat yang tidak sholat dan masih suka bermain judi. Suatu hari, Mbah Ali pernah mengingatkan “Kenapa kamu memilih tinggal disana? Disana itu tempatnya gelap (kurang baik)”, tetapi ia tetap memilih tinggal disana dengan memegang prinsip “memilih tinggal dimana saja agar bisa bermanfaat untuk orang lain.”

Ketika KH. Asyhari berdakwah, Ibu Muthi’ah membantu dari belakang dengan cara mendekati ibu-ibu dan akrab dengan mereka. Ibu Nyai Muthi’ah selalu memberikan dukungan penuh kepada KH. Asyhari dalam berdakwah, pernah suatu hari salah satu tetangganya mengatakan “Pak Asyhari boleh tinggal disini, tapi jangan menyinggung kami yang bermain judi,”. Dengan sabar dalam berdakwah, KH. Asyhari Abta dan Ibu Nyai Muthi’ah percaya bahwa Allah akan memberikan seribu jalan untuk hamba-Nya. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit banyak masyarakat yang sudah ingin sholat, mengikuti pengajian, dan mulai meninggalkan permainan judi.

Dimata santrinya, Ibu Nyai Muthi’ah selain menjadi istri dari seorang kiai yang menjadi tokoh masyarakat dan ibu bagi para santrinya, ia juga seorang ibu yang menjadi panutan di lingkungan masyarakat. Selain itu, Ibu Nyai Muthi’ah merupakan sosok yang sangat memberikan contoh teladan bagi santrinya, seperti sikap yang sederhana, sangat menjunjung nilai keilmuan, mendorong santri untuk tekun mengaji, di samping itu yang berkaitan dengan teladan di masyarakat, seperti mengajak santrinya untuk menjenguk masyarakat yang sakit, hal tersebut secara tidak langsung memberikan sikap teladan bagi santri-santri dan masyarakat luas.

Selain mengurusi keluarga, ibu Nyai Muthi’ah pun memiliki kewajiban untuk mengurusi Pondok Pesantren. Dalam hubungannya dengan para santri, ia sangat senang mencurahkan perhatiannya terhadap para santri dengan menanyakan secara menyeluruh asal-usul santri dan latar belakangnya, hal tersebut sebagai bentuk perhatian seorang ibu kepada santrinya, karena dengan mengetahui latar belakang santrinya, ia mengetahui bagaimana harus bersikap kepada santrinya dan mengetahui karakter atau kelakuan setiap santrinya.

Pola ibu dalam kepengurusan atau merawat pesantren, Ibu Nyai Muthi’ah maupun KH. Asyhari Abta sangat menekankan kesadaran para santrinya, mengingat Pondok Pesantren Tegalsari adalah Pondok khusus mahasiswa yang dipandang sudah dewasa dalam berpikir, dan memiliki pengaruh dalam pengelolaan Pondok Pesantren sebagai pengurus. Ibu Nyai Muthi’ah cenderung membebaskan, menekankan kesadaran agar santri sadar sendiri dengan status dan keadaannya. Dengan prosesnya yang panjang dalam perawatan pondok seperti dalam hal pendewasaan dalam kepengurusan, Ibu Nyai Muthi’ah selalu menuntun santrinya, memberikan pendekatan dan penyadaran kepada santri yang lebih senior dan diberi arahan agar pondok terus berjalan dengan baik.

Pondok Pesantren Tegalsari kini memiliki santri sejumlah 30 menyesuaikan dengan kapasitas dan fasilitas yang ada. Bagi Ibu Nyai Muthi’ah, Pondok Pesantren bukanlah lahan untuk mencari rezeki, tetapi bagaimana ia bisa untuk menghidupi pesantren dan mengemong para santri yang jumlahnya tidak sedikit dengan karakter yang berbeda.

Selain menjadi ibunya para santri, Ibu Nyai Muthi’ah pun aktif di kegiatan Majelis Ta’lim An-Nisa yang terletak di Krapyak wetan. Selain mengadakan pengajian, Majelis Ta’lim ini juga bergerak untuk menguatkan ekonomi masyarakat dengan meminjami modal kepada masyarakatnya, selain itu, dengan kegigihan pengurus dan salah satunya adalah Ibu Nyai Muthi’ah selaku dewan pengawas, Majelis Ta’lim An-Nisa sudah memiliki BMT perempuan pertama yang diberi nama BMT An-Nisa.

Sebagai seorang perempuan, Ibu Nyai Muthi’ah berpesan agar para perempuan meneladani Sayyidah Khadijah. Menjadi sosok perempuan yang pintar, tidak suka ghibah dan hutang kepada orang lain. Jadilah teman diskusi untuk pasangannya, dan jangan menjadi perempuan yang konsumtif, karena rumah tangga akan hancur apabila seorang istri tidak bisa mengurus dan mengimbangi keuangan keluarga.

Tulisan pernah terbit sebelumnya di Majalah Bangkit, edisi Januari 2018

Oleh: Ayu Ismatul

Foto: santrinews.com

Leave a Comment