“Mbak-mbak tahajud-tahajud”

“Mbak-mbak siap-siap jamah Mbak”

“Mbak-mbak diqomati Mbak”

Kalimat itulah yang sering kami—santri Rayon Q9—dengarkan dari Pak Yusuf. “Bapak” itulah panggilan takdzim kami sebagai seorang santri kepada Sang Kyai. Bapak selalu membangunkan santrinya setiap jam tiga pagi melalui Halohalo—panggilan akrab pengeras suara di pondok—“Mbak-mbak tahajud Mbak!” Sesederhana itu kalimatnya namun besar damagenya bagi kita santrinya. Bapak selalu istiqomah membangunkan santrinya dengan harapan santrinya akan terbiasa bangun pagi dan melaksanakan sholat tahajud ketika sudah boyong dari pondok ini. Setidaknya ada sesuatu yang menyenangkan orang tua ketika kita di rumah walaupun hanya bangun pagi dilanjut dengan sholat tahajud. Tak jarang pula ketika hari Senin dan Kamis Bapak ngendhiko “Mbak–mbak mandap Mbak, mendet sahur”. Masyaallah begitu perhatiannya Bapak kepada santrinya. Bapak tak mengenal mana santri kesayangan karena semua santri adalah kesayangan Bapak.

Ada suatu cerita ketika itu Bapak nembe gerah hingga beliau merasa kesakitan untuk duduk terlalu lama apalagi untuk jalan menaiki tangga. Kami pikir Bapak tidak akan membangunkan sholat tahajud dan bahkan tidak mengimami untuk sholat berjamaah. Tapi apa? Kami pun dibuat kagum dengan beliau, Bapak tetap membangun kami jam tiga pagi walaupun dengan suara yang serak–serak basah dan tetap mengimami sholat kala itu.

Ding dong ding dong bel tanda sholat asar berbunyi, ketika itu Bapak nembe gerah, dipikiran kami Bapak akan ndawuhi salah satu santri untuk mengimami. Namun apa? Tidak, Bapak tidak dawuh untuk hal itu, seketika “Grek grek grek” suara Bapak sedang membuka pintu, tandanya Bapak akan naik ke lantai tiga untuk mengimami sholat Ashar berjamaah. Saat itu aku mengintip dari lantai tiga melihat raut wajah Bapak yang kesakitan saat menaiki tangga, satu dua bahkan tiga kali Bapak berhenti untuk istirahat sejenak menghilangkan rasa sakit itu sambil mengelus–elus kaki beliau. Tak berselang lama setelah aku mengintip, Bapak menaiki tangga ke lantai tiga, Bapak memperlihatkan wajah yang sumringah di depan santrinya. Saya sebagai seorang santri paham betul ketika itu Bapak tidak menunjukan rasa sakitnya di hadapan santrinya. “Mbak diqomati” begitu dawuh beliau setelah sudah siap di atas sajadah dan sholat jamaah asar pun dimulai khusyuk sampai dengan salam.

Subhanallah keistiqomahan Bapak dalam beribadah meskipun dalam keadaan yang sedang sakit sungguh luar biasa. Sakit bukan penghalang bagi beliau untuk melakukan tanggung jawab dan ibadahnya. Keistiqomah beliau inilah yang perlu kita contoh dalam segala hal, baik dalam beribadah maupun dalam hal lainnya. Semoga kita semua dapat istiqomah dalam beribadah dan dalam hal baik lainnya. Aamiin.

Oleh: Kuni Sadati Maisaroh

Foto: Dokumentasi Pribadi Komplek Q

Leave a Comment