Dalam sejarah islam disebutkan bahwa kematian kaum Tsamud atau kaumnya nabi Shaleh itu akibat dari petir yang diturunkan oleh Allah Swt. Penyebabnya adalah karena mereka yang menolak beriman kepada Allah Swt. Nabi Shaleh yang telah diberi Mu’jizat oleh Allah berupa seekor unta yang tak akan habis susunya walau diperah setiap hari dibunuh oleh mereka karena tidak percaya atas mukjizat tersebut dan memunculkan rasa amarah. Oleh sebab itu dengan izin Allah, kaum Tsamud dibinasakan dengan Petir.[1]

Dalam peristiwa tersebut Allah menurunkan petir sebagai peringatan kepada manusia agar beriman kepada-Nya. Sebenarnya dari mana sih petir itu berasal? Dalam kacamata fisika, Petir terjadi karenakan perbedaan muatan potensial antara awan dan bumi. Awan bisa memiliki muatan listrik, karena awan berjalan secara teratur dan akan bersinggungan dengan awan-awan yang lain. Akhirnya terbentuk kutub positif dan negatif. Ibarat kita menggesekkan magnet kepada besi dengan terus-menerus dan teratur ke satu arah, maka demikian halnya muatan negatif dan positif pada awan. Terkadang muatan positif berada pada bagian atas awan, dan terkadang di bagian bawah, namun terkadang berada pada satu sisi kutub awan dan sisi lain kutub yang berbeda. Perbedaan muatan antara awan dan bumi ini memaksa awan melepaskan potensi negatif atau positifnya.[2] Pelepasan ini kemudian berwujud kilat yang menyambar. Kemudian lompatannya menimbulkan suara yang kita kenal dengan “guruh” atau “gemuruh”.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 43 :

لَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

 “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan (sahab), kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es tersebut kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan,”[3]

Petir memiliki suhu dan tegangan yang sangat tinggi. Sambaran petir bisa meningkatkan suhu udara di sepanjang jalur yang dia lewati, hingga 50.000⁰ Fahrenheit. Suhu ini setara dengan 27.760⁰ Celcius.[4]  Petir juga dapat menyambar ke tanah, pohon, dan benda disekitar daerah yang masih terlingkupi hujan. Lalu disertai dengan gemuruh kemudian, Kemunculan perbedaan waktu antara kilatan petir dengan gemuruh disebabkan oleh perbedaan antara kecepatan cahaya dengan kecepatan suara. Cahaya merambat lebih cepat (186.000 mil/ 299.338 kilometer per detik)[5] dibandingkan dengan suara (sekitar 700 mil/ 1.126 kilometer per jam)[6] sehingga suara bising terdengar beberapa saat setelah kilatan terlihat.

Umat Islam meyakini petir dimaknai bukan sekadar peristiwa alam semata. Petir atau guruh diabadikan menjadi salah satu  nama surah dalam al-Quran, yaitu surah ke-13, al-Ra’du. Setidaknya, ada tiga istilah dalam al-Quran yang merujuk pada makna petir, yaitu ar-Ra’du, as-Shawa’iq, dan al-Barq. Ar-Ra’du bermakna istilah suara petir atau gemuruh. Sedangkan as- Shawa’iq dan al-Barq adalah istilah untuk kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir.[7]

Dalam hadits riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi Muhammad ditanya tentang ar-Ra’du, lalu beliau menjawab: ”arRa’du adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.” Sementara itu, dalam Kitab Makarimil Akhlak milik Al Khoro-ithi, “Ali pernah ditanya mengenai ar-Ra’du. Beliau menjawab, ”Ar-Ra’du adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai al-Barq. Beliau menjawab, ”Al-Barq (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dalam riwayat lainnya dari Ali menyebutkan pula “Al-Barq itu adalah pengoyak dari besi di tangannya”.

Dari riwayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ar-Ra’du adalah malaikat yang bertugas mengatur awan, atau di pendapat lain juga ada yang menyebutnya sebagai suara malaikat. Sedangkan al-Barq atau as-Shawa’iq adalah kilatan cahaya yang berasal dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung. Wallahu a’lam bishawab.

Dalam surat ar Ra’d ayat 12-13 di al Quran, yang berbunyi:

هُوَ الَّذِيْ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ 

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖ ۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚوَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِ

 “Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung. Dan guruh bertasbih memuji-Nya (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakeras siksaan-Nya”. [8]

Maka dapat disimpulkan bahwa fenomena munculnya petir dan gemuruh merupakan sebuah tamsil/perumpaan dari cahaya petunjuk dan nasihat Allah. Kilat yang disertai petir dan guntur yang hebat menandakan ancaman bagi jiwa dan hati yang gelap oleh mendung kekufuran, sehingga perlu peringatan keras dari Allah Swt. Bisa jadi, suara keras merupakan tamsil yang menggambarkan pedihnya azab atau sanksi.[9] Oleh karena itu, hendaknya kita mulai mengimani bahwa fenomena petir bukanlah fenomena alam biasa. Ada hikmah dan kekuasaan Allah di dalamnya yang bisa menjadi pelajaran untuk kita ambil.

Oleh : Mawar Lanna Oktavia

Foto oleh Frank Cone dari Pexels

Referensi :

Fatah Izzulhaq, Zulfikat dan Riyan Tsabit Janany “al-Qur’an Surat Hud Ayat 67 dalam sebuah Kajian yang Integratif dan Interkonektif” Jural Prosiding Konferensi Integrasi dan Interkonektif, Volume 2, Maret 2020, Halaman 141-144

Luqman As Salafi, Miuhammad. Rosysyul Barod Syarh Al Adab Al Mufrod, , hal. 381, Dar Ad Da’i, cetakan pertama, Jumadil Ula, 1426 H.

Romlah, 2011. “Ayat-Ayat Al-Quran dan Fisika” Lampung : Harakindo Publishing

Syamsudin, Muhammada. 20 November 2019. “Tamsil Mendung dan Petir dalam Al-Qu’an” https://islam.nu.or.id/post/read/ 113750/tamsil-mendung-dan-petir-dalam-al-qur-an  (12 Desember 2020)

Tuasikal, Abduh Muhammad. “Fenomena Kilatan Petir dan Gledek dalam Kacamata Islam” https://rumaysho.com/684-fenomena-kilatan-petir-dan-geledek-dalam-kacamata-islam.html (12 Desember 2020)

“Fenomena Petir dalam Perspektif Islam”. 30 Mei 2017. https://kumparan.com/kumparannews/fenomena-petir-dalam-perspektif-islam/full (12 Desember 2020)

“Petir Menurut Islam-Hikamh-Doa” https://dalamislam.com/info-islami/petir-menurut-islam (12 Desember 2020)

“Dalam Islam, Petir Bukan Sekedar Fenomena Alam” https://www.acehtrend.com/2018/12/05/dalam-islam-petir-bukan-sekadar-fenomena-alam/ (12 Desember 2020)


[1] Zulfikar Fatah Izzulhaq, Riyan Tsabit Janany “al-Qur’an Surat Hud Ayat 67 dalam sebuah Kajian yang Integratif dan Interkonektif” Prosiding Konferensi Integrasi dan Interkonektif, Volume 2, Maret 2020, Halaman 141-144

[2] “Petir Menurut Islam” https://dalamislam.com/info-islami/petir-menurut-islam(12 Desember 2020)

[3] Al-Quran dan Terjemahan

[4] M.Abduh Tuasikal,MScFenomena Kilatan Petir dan Geledek dalam Kacamata Islam https://rumaysho.com/684-fenomena-kilatan-petir-dan-geledek-dalam-kacamata-islam.html ( 12 Desember 2020 )

[5] Kanginan, M. “Fisika SMA/MA Kelas 11 Jilid 2 (Jakarta, Penerbit Erlangga, 2007)

[6] ibid

[7] Dalam Islam, Petir Bukan Sekadar Fenomena Alamhttps://www.acehtrend.com/2018/12/05/dalam-islam-petir-bukan-sekadar-fenomena-alam/ (12 Desember 2020)

[8] Al-Qur’an dan Terjemahan

[9] Syamsudin, M  Tamsil Mendung dan Petir dalam Al-Qur’an  https://islam.nu.or.id/post/read/113750/tamsil-mendung-dan-petir-dalam-al-qur-an- (12 Desember 2020)

Leave a Comment