Sejumlah santri dari berbagai komplek, ahlen, hingga masyarakat sekitar berbondong-bondong mendatangi masjid guna melaksanakan sholad Iduladha pada Jumat, 31 Juli 2020 atau 10 Dzulhijjah 1441 H.

Pada masa pandemi, panitia penyelenggara memberlakukan beberapa protokol bagi jamaah. Diantaranya keharusan penggunaan masker, pengecekan suhu, dan anjuran mencuci tangan. Tidak hanya itu, barisan jama’ah juga diberi jarak dan tidak disediakan karpet.

Sholat Iduladha dimulai pada pukul 07.00 dengan K.H.R. Najib Abdul Qodir sebagai imam. Kemudian dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh Gus Hilmy Muhammad.

Hari ini disebut dengan hari raya Iduladha atau Hari Raya Qurban karena pada hari ini kita sangat dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban. Syariat ini berlaku sesudah Nabi Ibrahim as diperintahakan Allah Swt. untuk menyembelih anak yang beliau idamkan yakni Nabi Ismail as. Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan hewan kurban. Peristiwa ini oleh Al Qur’an didokumentasikan dan dirayakan sejagat raya melalui hari raya kurban.

Menurut Gus Hilmy, ada semacam ketidaktepatan penggunaan kata kurban dalam kamus dan percakapan yang kita gunakan. Penyerapan kata kurban yang berasal dari bahasa Arab yang diartikan sebagai orang atau binatang yang menderita akibat suatu kejadian atau perbuatan jahat, oleh karena itu kita mengenal isitilah korban perampokan, korban kekerasan, dan lain sebagainya.

Lebih dari itu, kurban memiliki makna sebagai bentuk upaya pendekatan kepada Allah. Sapi atau kambing yang dijadikan kurban sama sekali tidak menderita tapi sungguh bahagia. Begitu juga dengan pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Atas pengorbanan tersebut Allah mengganjar keduanya dengan balasan berupa anugerah yang juga besar. Diantaranya Nabi Ibrahim adalah nabi utama, ulul azmi,dan kekasih Allah atau disebut dengan kholilullah.

Sementara Ismail dinyatakan di Al-Qur’an sebagai seorang nabi, perintis bangsa Arab dan penemu air zamzam. Beliau bersama sang ayah membangun ka’bah dan menjadi leluhur nabi Muhammad. Tentu kemuliaan yang besar didapat karena pengorbanan besar yang dilakukan. Dalam pepatah Arab dikatakan nailul adzim biamrin adzim, pendapatan besar disebabkan karena upaya yang juga besar.

Gus Hilmy menjelaskan bahwa pengorbanan adalah manivestasi atau perwujudan dari cinta. Iradatu maa taraahu khoiron apabila cinta mengharapkan kebaikan pada sesuatu yang dicintai, maka ia mengharuskan pengorbanan sebagai pembuktian. Sebagai contoh, apabila kita mencintai hewan peliharaan, maka kita akan meluangkan waktu untuk merawatnya.

Pengorbanan yang demikian adalah tanda bukti ketulusan cinta. Semakin besar pengorbanan yang dilakukan, maka semakin besar pula cinta tersebut. Oleh karena itu, sapi atau kambing yang hari ini dikurbankan hanyalah simbol dari kesediaan kita berkorban dalam arti yang lebih luas.

Kurban menyadarkan kita akan pentingnya peduli dan berbagi, menjaga kesatuan dan persatuan, saling menghormati, menyayangi dan tolong menolong. Dalam masa pandemi covid-19, kita dituntut untuk melakukan upaya lebih guna menekan penyebarannya sebab hingga hari ini belum menampakkan tanda melandai, justru malah semakin meningkat.

“Kita memakai masker, hidup sehat dan bersih, serta mencuci tangan adalah tanda kesediaan kita untuk bergotong royong, saling menyayangi dan menghormati. Ini adalah cara kita beriman terhadap takdir dan berserah diri kepada Allah seperti yang dikatakan oleh pepata habis akan lalu bertawakkal.” Kata Gus Hilmy.

Di akhir khutbah, Gus Hilmy berharap agar kita senantiasa semangat untuk meneladani Nabi Ibrahim, Nabi Isma’il dan Nabi Muhammad serta para anbiya, keluarganya serta para ulama dan kiai yang mewarisinya.

“Mulai saat ini kita menjadi manusia yang lebih peduli dan banyak berkorban demi membuktikan cinta kita kepada Allah dan semoga diberi balasan oleh allah.” Harap Gus Hilmy kepada jamaah.

Oleh: Hafidhoh Ma’rufah

Leave a Comment