Seluruh kehendak Allah disebut dengan qadha dan qadar (takdir). Qadha merupakan rencana Allah, dan qadar merupakan sesuatu yang sudah terjadi. Terkadang, dalam memahami qadha dan qadar muncul suatu konflik dalam diri seorang hamba yang bahkan bisa berbalik protes kepada Allah dikarenakan beranggapan seakan-akan Allah tidak memberi sebuah wilayah ikhtiar kepada hambaNya. 

Seorang hamba sering berusaha terlebih dahulu, lalu akan pasrah dan kembali kepada Allah ketika sudah berada di titik puncak perjuangannya. Hal itu seakan-akan menjadikan seluruh proses ikhtiarnya dari awal hingga akhir tidak melibatkan Allah. Padahal, Allah itu terlibat di balik segalanya. Dan semua kejadian-kejadian yang dialami seorang hamba tidak lepas dari takdirNya. Takdir Allah itu ada dan tidak dilatarbelakangi oleh pemikiran, situasi, maupun kondisi hambaNya. Takdir Allah itu sudah ada bahkan sebelum kita ada. 

Ibnu Athaillah As-Sakandary mengatakan:

“Tak satupun nafas yang keluar maupun masuk dalam diri kita kecuali adanya takdir Allah yang mendahuluinya”

Beliau menggunakan kata ‘nafas’ karena nafas merupakan sesuatu yang paling lembut, paling kecil, dan yang paling bisa dirasakan dalam gerak-gerik manusia. Apa yang diungkapkan Ibnu Athaillah itu baru tentang nafas, belum tentang mata memandang, telinga mendengar, tangan bergerak, pikiran merenung, hati tersadar atau tertutup, dan sebagainya. Semua hal itu terjadi karena adanya takdir Allah yang mendahului. 

Lalu, bagaimana cara merespons takdir Allah dengan mudah, penuh syukur dan penuh ridho? Ada beberapa hal yang perlu dipahami. Pertama, Pada hakikatnya, Allah juga memberikan wilayah kepada hambaNya dalam proses terjadinya takdir, namun dalam wilayah yang terbatas. Dari situlah seorang hamba akan mengenal apa yang disebut perintah Allah untuk berikhtiar dan berusaha, namun tetap terbatas. Oleh sebab itu, dalam berikhtiar dan berusaha kita harus mengingat dan menyadari akan hadirnya Allah dibalik semua yang akan terjadi. 

Baca Juga:

Kedua, Kita harus memahami bahwa Allah tidak pernah menjadi akibat.  Allah itu ada dan tidak ada yang menyertai, Allah sebagaimana adanya dan takdirnya pun sebagaimana takdirNya. Kita harus melihat takdir Allah sebagai kehendak Allah yang sempurna, tidak sedikit pun ada yang cacat. Baik dan buruk takdir menurut kita, kita harus tetap kembali kepada Allah. Dengan kembali kepada Allah, menjadikan diri kita merasa ridho dan memandang segala sesuatu yang terjadi  merupakan kehendak Allah yang sempurna. 

Ketiga, Allah itu memberi waktu kepada kita, sehingga kita harus menjadikan waktu itu bermakna. Karena ada kehendak bersama Allah di balik proses-proses ikhtiar. Agar proses ikhtiar menjadi bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat, kita harus selalu menyadari bahwa selalu ada Allah yang terlibat. 

Manusia kerap mengalami masalah, hal itu terjadi karena keterbatasan dalam memahami takdir, lalu menganggapnya sebagai masalah. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, manusia kerap menundanya karena menganggap masalah sebagai penghalang. Hal itu akan memutuskan muroqobah atau fokus hati kepada Allah. Ketika Allah memang memposisikan kita dalam situasi yang problematis, maka kita harus tetap intensif bahkan harus tetap meningkatkan hubungan kita dengan Allah. Dengan begitu, kita dapat menjalani hidup dengan penuh ridho. 

Oleh: Husna Nailufar

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=v1ZA0-iOZsA

Photo by Ankhesenamun on Unsplash

Leave a Comment