Ibadah haji memang bukan soal uang saja, tetapi ia memang merupakan panggilan ruhaniah, panggilan dari doa yang selama ini dipanjatkan.

Ada banyak cara pergi haji, bahkan dengan cara yang tidak diduga sama sekali. Seorang bisa berangkat haji karena mendapat undangan Kerajaan Arab Saudi atas prestasinya menjuarai kejuaraan Hifdzil Quran misalnya atau diundang karena suatu acara seperti seminar.

Di Surabaya, ada seorang haji yang dipanggil Haji Biting, karena ia bisa berangkat haji dari hasil jualan biting alias tusuk. Ada juga cerita-cerita yang menunjukkan seorang gagal pergi haji karena beberapa sebab, sakit, meninggal, dan lain-lain. Nah, di Madura ada kisah unik yang mempertegas bahwa haji bukan lah soal uang, tetapi murni panggilan ruhaniah.

Sebut saja Pak Ahmad. Ia berhasil mengumpulkan biaya untuk mencicil biaya haji. Hingga tiba akan keberangkatannya, Pak Ahmad sudah menyiapkan segalanya, dari bekal harta, fisik, hingga melaksanakan syukuran haji.

Di beberapa daerah di Indonesia, syukuran keberangkatan haji dilaksanakan sebagai bentuk tanda syukur. Biasanya calon jemaah haji, memasak beberapa hidangan makanan dan kemudia mengundang tetangga dan saudara untuk melaksanakan pengajian di rumah.

Syukuran keberangkatan ibadah haji, memang tidak wajib. Tetapi menurut sebagian orang, hal ini dilakukan agar keberangkatan hajinya menuai keselamatan hingga kembali ke tanah air dan menjadi haji yang mabrur.

Sebelum berangkat haji, Pak Ahmad sudah melaksanakan syukuran dengan mengundang tetangga dan sanak saudara. Bahagia sudah tentu menghinggapi hati Pak Ahmad yang sebentar lagi akan berjumpa dengan Ka’bah dan menziarahi makan Nabi Muhammad.

Keberangkatannya semakin dekat. Tentunya hati berdebar. Segala bekal disiapkan. Hingga tiba hari keberangkatan, Pak Ahmad yang sudah membayangkan ibadah jauhnya ini juga sudah menceritakan kepada tetangga-tetangganya perihal ibadah hajinya.

Sesampainya di bandara, Pak Ahmad tiba-tiba menangis. Kakinya kaku untuk melangkah. Bukan karena sakit. Tetapi tiba-tiba ia menjadi takut untuk menaiki pesawat yang sudah di depan matanya itu. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tetap melangkah, tapi apa boleh buat, takut terus menyelimuti dirinya. Hingga akhirnya, ia kembali pulang dan gagal pergi haji.

Apa yang dialami oleh Pak Ahmad merupakan bukti bahwa sebaik-baik kita berencana, apabila Allah tidak menghendaki manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Hal yang sama juga pernah dialami oleh salah satu jemaah yang dideportasi dari Jedda karena ketahuan membawa banyak rokok untuk dijual di sana.

Haji merupakan panggilan ruhani dan jawaban atas kesungguhan doa yang dipanjatkan hambah kepada Tuhannya. Paling tidak, saat ini, kita sudah memiliki modal, niat untuk berhaji.

Leave a Comment