Nabi Isa a.s. adalah putra dari Maryam binti ‘Imran. Ia dilahirkan ke dunia tanpa seorang ayah. Bukan. Bukan karena Maryam merupakan seorang gadis nakal yang berzina dengan lelaki hingga tumbuh janin di dalam rahimnya. Bukan pula menjadi seorang korban kekerasan seksual seperti yang marak terjadi belakangan ini. Namun kebalikannya, Maryam merupakan perempuan shalihah, seorang gadis suci yang senantiasa dimuliakan oleh Allah Swt. Maryam senantiasa menjaga dirinya dengan taat kepada perintah Allah Swt. dan menjauhi segala perbuatan maksiat. Begitu mulianya Maryam ini, sampai Allah Swt. memberinya gelar ash-Shiddiqah di dalam Al-Qur’an.

Allah Swt. berkehendak atas segala sesuatu. Apabila Dia menghendaki sesuatu terjadi, Dia berkata, “Jadilah!”, maka jadi. Termasuk juga peristiwa kelahiran Isa a.s. merupakan salah satu kehendak-Nya. Allah Swt. ingin menunjukkan kekuasaan-Nya. Dia menciptakan Isa a.s. tanpa bapak, layaknya penciptaan kepada manusia pertama, Adam a.s.
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ


Maknanya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa bagi Allah, adalah seperti (penciptaan) Âdam. Allah menciptakan Âdam dari tanah, kemudian Allah memunculkannya dengan mudah dan tanpa lelah. ” (QS. Ali ‘Imran: 59).

Isa a.s. sendiri merupakan salah seorang Rasul yang kisah hidupnya dibahas cukup lengkap di dalam Al-Qur’an, mulai dari masih di dalam kandungan, kelahiran, hingga ia diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Kisahnya banyak dimuat dalam surah Maryam. Pada ayat 16-40, misalnya, dibahas mengenai perjuangan Maryam ketika menjalani proses kehamilan hingga kelahiran putranya. Penasaran? Yuk, simak ceritanya!

Kala itu, Maryam sedang mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, yang dalam Al-Qur’an disebutkan itu adalah Baitulmaqdis. Maryam memang biasa tinggal di dalam masjid. Ketika dia sedang dalam masa haid, dia akan kembali pulang ke rumah bibinya, kemudian kembali lagi ke masjid tatkala masa haidnya telah usai. Suatu hari ketika ia menutupkan tabir atau aling-aling karena hendak bersuci dari haidnya, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki yang sempurna dan bagus rupanya menuju ke tempatnya. Ia sontak kaget dan segera merapikan pakaiannya kembali. Ia tak pernah mengenali lelaki itu sebelumnya, sehingga ia merasa amat ketakutan lalu berkata kepada lelaki tersebut, “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Kemudian lelaki itu segera menjawab, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Ya, lelaki itu bukan sembarang lelaki. Ia adalah Jibril a.s. yang diutus Allah swt. untuk menyampaikan kabar gembira pada Maryam.

Mendengar penuturan Jibril, Maryam pun bingung, bagaimana mungkin ia akan memiliki seorang anak laki-laki, padahal ia tak pernah disentuh oleh seorang lelaki yang bukan mahramnya dan ia bukan pula seorang pezina? Jibril a.s. kemudian menjawab kebingungan Maryam dengan menjelaskan kepadanya bahwa menciptakan seorang anak tanpa bapak itu hal yang mudah bagi Allah swt. sebagai suatu tanda kebesaran Allah Swt. dan rahmat bagi manusia yang percaya dan beriman kepadanya. Seusai menjelaskan kepada Maryam, Jibril a.s. lantas meniup kerah baju Maryam dan seketika itu dalam rahim Maryam terkandung bayi suci yang telah memiliki rupa. Setelah kejadian itu, Maryam segera bergegas pergi mengasingkan diri dengan kandungannya ke tempat yang jauh dari keluarga dan kaumnya guna menghindari olok-olokkan karena hamil tanpa memiliki seorang suami.

Menjelang kelahirannya, Maryam merasakan sakit yang kemudian menghantarkannya bersandar pada pangkal pohon kurma. Ia lantas mengaduh sembari berkata, “Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku akan menjadi seseorang yang tak diperhatikan lagi dilupakan.” Hal ini menggambarkan kekhawatiran Maryam terhadap bencana dan kesedihan yang ia alami setelah melahirkan anak tanpa memiliki ayah. Ia juga risau memikirkan air untuk memandikan bayinya serta makanan untuk ia dan bayinya agar bertahan hidup. Namun, menurut Qaul yang muktamat, yakni Qaul dar Ibnu ‘Abbas r.a., kehamilan yang dialami Maryam tak sama dengan kehamilan yang dialami perempuan lain: merasakan kandungan yang mungkin berat, merasakan sakit, kemudian melahirkan. Maryam tak merasa kesakitan selama hamil, adapun sambatan-sambatan yang ia lontarkan menjelang kelahiran buah hatinya itu bukan dikarenakan sakit ataupun tidak ridha terhadap Qada dan Qadarnya Allah Swt., melainkan karena tak sanggup merasakan sakitnya dituduh dan dicela oleh orang lain (atas kehamilannya).

Mengetahui kesedihan yang dirasakan Maryam, Jibril a.s. lantas diutus oleh Allah Swt. untuk menghibur hari Maryam. Jibril a.s. kemudian berseru dari bawah di sebuah lereng gunung yang berada di bawah Maryam, “Janganlah bersedih hati.” Jibril a.s. juga menyampaikan bahwa Allah Swt. telah menjadikan anak sungai di bawah Maryam, serta memerintahkan Maryam untuk menggoncangkan pangkal pohon kurma sehingga pohon kurma itu menggugurkan buah kurma yang masak, agar Maryam dapat makan dan minum dari rezeki yang Allah Swt. berikan kepadanya.

Setelah proses melahirkan yang penuh dengan keberkahan dan keajaiban, Maryam lantas menggendong putranya untuk dibawa kembali kepada keluarga serta kaumnya. Namun sebelum itu, Allah Swt. telah memerintahkan kepada Maryam untuk bernazar kepada Allah Swt. akan berpuasa, sehingga pada hari itu ia tak akan berbicara dengan siapapun. Sepanjang perjalanan, pikiran Maryam berkecamuk membayangkan berbagai olokkan yang akan ia terima. Benar saja, ketika bertemu dengan segerombolan kaum, mereka berkata, “Wahai Maryam! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangainya, Ibumu juga bukan seorang pezina. Lantas mengapa kamu dapat melakukan hal yang mungkar seperti ini?” Karena Maryam telah bernazar untuk puasa berbicara, ia kemudian menunjuk kepada bayinya, Isa a.s. untuk menjawab pertanyaan dari mereka. Mereka (kaumnya) pun sontak kebingungan, bagaimana mungkin mereka bisa berbicara dengan bayi yang masih dalam ayunan? Saat itulah, Allah Swt. memberikan mukjizat kepada nabi Isa a.s. untuk pertama kalinya. Bayi yang masih menyusu dan digendong oleh Ibunya seketika dapat berbicara. Dan kalimat yang pertama kali dilontarkan oleh bayi Isa a.s. itu adalah, “Sesungguhnya aku adalah ‘abdullah (hamba Allah).” Hal itu sebagai tanda penghambaan Isa a.s. kepada Allah Swt. Dzat yang beranak dan tidak pula diperanakkan. Selain mengakui bahwa ia adala hamba Allah Swt., Isa a.s. juga menyampaikan 7 hal lain ketika masih dalam ayunan Ibunya:

  1. Diberi kitab Injil.
  2. Dijadikan nabi seperti nabi-nabi yang lain.
  3. Dijadikan seseorang yang diberkahi di manapun ia berada: dibuktikan dengan mukjizat Nabi Isa a.s. yang dapat menyembuhkan orang sakit kusta, buta, serta menghidupkan kembali orang yang meninggal.
  4. Diperintah sholat dan zakat.
  5. Berbakti terhadap Ibunya.
  6. Tidak menjadi orang yang sombong dan penuh dosa.
  7. Selamat dhohirnya, selamat wafatnya, dan selamat ketika bangkit dari kuburnya.

Demikianlah kemudian Isa a.s. lantas dibawa pulang kembali ke kelarganya oleh Maryam.

Isa a.s. tumbuh dengan baik. Ia masuk ke perguruan Taurat, mengahafalkan dan dapat memahami Taurat dengan baik dibandingkan anak-anak lain seusianya. Ia juga mengamalkan ajaran-ajaran dalam Taurat dengan baik. Akhirnya, ketika usianya menginjak 30 tahun, Allah Swt. mengutusnya menjadi Rasul. Ia berdakwah kepada Bani Israil dengan membawa misi melanjutkan risalah kenabian sebelumnya, yakni Nabi Musa a.s. serta mengabarkan berita gembira tentang kenabian setelahnya yang merupkan Nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad Saw. Nabi Isa a.s. kemudia berkata kepada kaumnya, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurât, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun tatkala Nabi Isa a.s. datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka justru berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Nabi Isa a.s. tak kenal lelah senantiasa mengajak Bani Israil untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Akan tetapi mereka justru mendustakannya, iri terhadapnya, dan menudingnya sebagai seorang penyihir, dan tidak ada yang beriman kepadanya, hanya sedikit dari kaumnya yang menjadi pengikut setianya. Kaumnya mulai menyakitinya dan berupaya membunuhnya, akan tetapi Allah menjaganya dan mengangkatnya ke langit seperti disebutkan dalam Al-Qur’an.

Demikianlah kisah salah satu Rasul ‘Ulul Azmi, Nabi Isa a.s. Semoga kita senantiasa dapat mengambil ibrah dari kisah mumat-umat terdahulu.

Wallahu a’lam bish-showab.

Sumber:

  1. Tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa (Versi Latin)
  2. https://islam.nu.or.id/post/read/114712/khutbah-jumat–nabi-isa-dan-kisahnya-dalam-al-qur-an
  3. https://today.line.me/id/pc/article/Kisah+Nabi+Isa+dari+Kelahiran+hingga+Mukjizatnya+yang+Perlu+Diketahui-2jp16z

Oleh: Nur Kholifah

Foto: by bady abbas on Unsplash

Leave a Comment