Mungkin beberapa santri tidak begitu mengenal santri satu ini. Maklum sejak awal masuk Komplek Q hanya beberapa bulan saja ia menempati kamar di asrama kidul (non tahfidz). Setelah itu, ia sudah pindah ke asrama khusus tahfidz, Q6. Kini ia menjadi salah satu pembimbing Madrasah Tahfidz Putri Anak (MTPA). Nama lengkapnya adalah Af’idatul Kholiliyah. Gadis asal  Jepara yang lahir pada 8 maret 1997 ini merupakan salah satu mahasiswa semester 7 jurusan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bermula 1 Februari 2015 ketika ia memantapkan diri untuk mondok di Pesantren Al Munawwirr komplek Q Krapyak Yogyakarta. Sama seperti santri lainnya, ia berniat untuk mondok dan sekolah di Yogyakarta. Namun yang membuat gadis ini menjadi salah satu sosok yang istimewa yaitu ia menjadi salah satu khotimat 30 Juz bil hifdzi. Hal ini berarti ia telah mengkhatamkan hafalan Alqurannya dalam kurun waktu yang cukup singkat yaitu kurang dari 3 tahun.

Ketika salah satu tim redaksi almunawwirkomplekq.com bertanya pada gadis yang kerap disapa Mbak Ida terkait kiat dan motivasi yang membuat ia bisa mudah dan cepat dalam menghafal Alquran. Ia menjawab bahwa yang penting adalah setiap hari ngaji. “Ini (setiap hari ngaji) ada dalam prinsipku ketika kita bisa menyelesaikan semua dengan cepat dan tepat kenapa tidak?” ujar Mbak Ida.

Hal yang membuatnya selalu terinspirasi setiap harinya adalah lingkungan yang mana semua orang sering nderes Alquran setiap waktunya. Prinsip yang sederhana namun bisa menjadikan mutiara bagi dirinya sendiri. Saat ini ia juga aktif menjadi salah satu pengurus dan Ustazah aktif di asrama MTPA dan MI Tahfidz El Muna.

Lain Ida lain pula Hana. Hana Nur Baety Asyfiyah juga merupakan salah satu khotimat 30 Juz bil hifdzi. Mungkin bagi teman-teman santri, nama kedua lebih familiar. Tentu saja demikian karena selain dikenal sebagai Ketua Rayon Q6, santri asal Magelang ini merupakan manager Q-Mart. Salah satu badan usaha yang ada di Komplek Q.

Hana masuk Komplek Q pada tahun 2012. Saat itu ia juga baru masuk jenjang perkuliaan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Psikologi. Perjalanan menuju panggung khotimat tidak terjadi begitu saja. Ia tak langsung menghafal pada awal masuk ke pondok, namun ia baru mulai menghafal pada tahun 2014. Sebelum pindah ke asrama tahfidz, ia terlebih dahulu mengaji dan menghafal kepada Nyai Khusnul Khotimah Warson. “Karena saya susah menghafal, jadi ngaji ke Ibu, buat latihan menghafal juga,” ujar Hana.

Hana termasuk beruntung, selain menyelesaikan program tahfidznya, ia terlebih dahulu menuntaskan pendidikannya di Madrasah Salafiyah III. Suatu kesempatan yang tak dimiliki semua santri tahfidz–dapat menyelesaikan kedua program tersebut. Setelah menamatkan madin, ia baru pindah ke asrama khusus tahfidz. “Pada tahun 2015 setelah KKN, baru pindah ke Q6,” ungkap santri yang menyelesaikan pendidikan S1 pada 2017 tersebut.

Selain santri tahfidz, Hana juga merupakan ketua rayon Q6. Sebuah tugas yang tidak ringan diemban olehnya. Ia menuturkan bahwa menjadi ketua rayon khususnya tahfidz, tidak hanya sekedar mengurus sebuah organisasi, namun juga sebagai penyambung lidah antara santri dengan ndalem. “Takut tidak amanah dan salah omong,” ujarnya.

Menjadi ketua tahfidz tantangan terberatnya adalah moral. Peraturan tidak hanya sekadar masalah pelaksanaannya, tapi juga harus menjaga moral dan akhlaq. “Titik beratnya ada di Alquran,” ungkap Hana yang ditemui di sela-sela tugas menjaga Q-Mart.

Setiap bulan, rayon tahfidz melaksanakan evaluasi dengan ndalem. Hal ini menyebabkan peraturan di rayon ini sering berubah, tergantung hasil evaluasi yang didapat dari ndalem. Jika sudah begini, maka tugas sebagai ketua adalah menjelaskan peraturan baru dengan sebaik-baiknya kepada santri. “Bagaimana menjaga santri agar bisa menerima apa yang dikersakan oleh ndalem, “ dalih santri asal Magelang ini.

Seperti yang disebutkan di atas, Hana selain dipercaya sebagai ketua rayon, ia juga mendapat amanat dari ndalem untuk mengurusi Q-Mart. Kepercayaan ini ia peroleh sejak 2018. Ketika ditanya, bagaimana ia bisa membagi waktunya? Hana menjelaskan bahwa sebenarnya ia belum sepenuhnya bisa membagi waktu. Apalagi jam jaga di Q-Mart pagi dan sering berbenturan dengan waktu setoran. Terkadang ia masih dalam antrian mengaji karena hafalannya belum ia setorkan.

Menghafal Alquran memang bukan perkara mudah, Hana sendiri mengungkapkan bahwa banyak sekali godaan yang menghampiri dalam proses menghatamkan. Salah satunya adalah malas yang datang tiba-tiba atau sakit. “Sebelum khatam, sempat sakit cukup lama,” kata Hana kepada tim redaksi almunawwirkomplekq.com. Hana menuturkan dua tahun lalu ia sempat akan mengikuti khataman, namun hal itu gagal terwujud, karena berbenturan dengan pengerjaan skripsi dan ia belum bisa membagi waktu. Beberapa pihak menyarankannya untuk menyelesaikan satu per satu terlebih dahulu.

Dua tahun berselang, kini ia sudah menuntaskan hafalannya. Sebelum mengakhiri obrolan dengan salah satu tim redaksi, ia menuturkan bahwa menghafal Alquran adalah proses pencarian dan pembentukan siapa diri kita sebenarnya. Ia mencotohkan dalam hafalan, setiap santri memiliki teknik dalam menyiapkan dan menjaga hafalan masing-masing. Dalam hal ini, santri berproses dalam pencarian mana teknik yang pas untuk dirinya. Ini lah yang ia sebut sebagai proses pembentukan kepribadian.

Kepada santri-santri lainnya, Hana berpesan, apapun yang kamu lakukan, jangan jadikan itu hanya sekedar rutinitas saja. Tapi cari lah makna di setiap kegiatan yang kamu lakukan. Karena makna-makna itu kelak akan bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Kisah Ida dan Hana adalah kisah santri yang tidak hanya fokus mengaji saja, tetapi keduanya juga mengabdi kepada pesantren yang telah memberinya ilmu. Ida mengabdi sebagai pembina santri anak dan Hana mengabdi lewat struktur kepengurusan rayon dan Q-Mart. Semoga keduanya dapat menginspirasi kita semua.

 

oleh: Laili dan Fidhoh

Leave a Comment