Nabi Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Allah menciptakannya secara langsung oleh tangan Allah sendiri dan Allah meniupkan ruh ke dalam dirinya. Selama di surga, Nabi Adam dilarang oleh Allah untuk mendekati ataupun memakan buah yang ada di salah satu pohon di surga. Oleh karena terbujuk tipu daya dari syaitan, Nabi Adam melanggar larangan dari Allah tersebut sehingga Nabi Adam diturunkan oleh Allah dari surgaNya, sebagaimana diceritakan dalam QS. Al Baqarah : 36-37

“Lalu, setan memerdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan. Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya.”

Kemudian Jalaluddin as-Suyuthi dalam menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 37 pada kitab ad-Durul Mantsur fit Tafsiril Ma’tsur mengutip sejumlah riwayat tentang kisah pertobatan nabi. Ketika nabi Adam diusir dari surga dan jatuh ke bumi, beliau mendatangi Ka’bah dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa, dalam untaian doa yang indah:


اللّهُمّ إِنّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَانِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطِنِيْ سُؤَلِيْ وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيْبُنِيْ إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي وَأَرْضِنِيْ بِمَا قَسَّمْتَ لِي

“Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku. Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku. Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau bagi untuk diriku.”

Allah kemudian menjawab doa Nabi Adam:

“Hai Adam, Aku telah terima tobatmu dan telah Aku ampuni dosamu. Tidak ada seorangpun di antara keturunanmu yang berdoa dengan doa sepertimu kecuali Aku ampuni dosa-dosanya, Aku angkat kesedihan dan kesulitannya, Aku cabut kefakiran dari dirinya, Aku niagakan dia melebihi perniagaan semua saudagar, Aku tundukkan dunia di hadapannya meskipun dia tidak menghendakinya.”

Jalaluddin as-Suyuthi juga mengutip bahwa sebelum Nabi Adam memanjatkan doa, beliau bertawassul dengan nama Muhammad, “Ya Allah, jika aku memohon kepada-Mu dengan nama Muhammad, apakah Engkau sudi mengampuni dosaku?” Allah menjawab, “Siapa Muhammad?” Adam berkata, “Maha suci Engkau, ketika Engkau ciptakan aku, aku tengadahkan wajahku menghadap arasy-Mu dan disana tertulis kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله, maka aku tahu bahwa tidak ada seorang pun yang lebih tinggi derajatnya di sisi-Mu kecuali dia yang namanya bersanding dengan nama-Mu.” Allah menjawab, “Hai Adam, dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu. Jika bukan karena dia aku tidak akan menciptakanmu.”

Ayat 37 surat Al-Baqarah sama seperti firman Allah berikut ini: “Dan durhaka Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 121-122).

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber:

Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Perjalanan Hidup Para Nabi, Sejak Adam A.S hingga Isa A.S / Ibnu Katsir; penerjemah, Saefullah MS. Jakarta: Qisthi Press, 2015.

https://islam.nu.or.id/post/read/78995/doa-tobat-nabi-adam

Oleh: Eka Novitha

Foto: by elCarito on Unsplash

Leave a Comment