Siapa yang tidak mengenal Abdul Muthalib?

Iya benar, beliau merupakan kakek Nabi Muhammad saw. Abdul Muthalib merupakan salah satu sosok dalam sejarah kehidupan Nabi yang tidak dapat dilewatkan begitu saja. Seringkas apa pun kisah kehidupan Nabi dituliskan, tentu Abdul Muthalib menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dalamnya.

Abdul Muthalib memiliki nama asli Syaibah bin Hasyim. Beliau begitu menyayangi Nabi. Ketika melihat cucunya kembali dari berziarah ke Madinah dengan keadaan yatim piatu, hatinya merasa begitu sedih. Beliau langsung menyatakan bahwa ia sendiri akan merawat Nabi sekaligus menjadi benteng pelindung bagi cucu terkasihnya. Beliau bagaikan oase di tengah gurun yang tandus, di tengah kerasnya suku-suku yang ada, beliau lembut tetapi berwibawa.

Sayangnya kebersamaan mereka tidak berlangsung lama karena dua tahun lebih dua bulan setelahnya, Abdul Muthalib meninggal dunia. Ketika itu, Nabi berusia delapan tahun dan beliau merasa begitu sedih. Nabi menangis hingga ke pemakaman. Sebab bagi Nabi, kakeknya merupakan orang yang sangat baik dan berjasa dalam kehidupannya. Melindungi dan memperhatikan Nabi sejak lahir, bahkan sebelum meninggal, Abdul Muthalib telah menitipkan hak asuh Nabi kepada pamannya Abu Thalib. Sehingga setelah itu Nabi hidup bersama pamannya.

Kecintaannya Nabi kepada Abdul Muthalib tergambar dalam Al-Sirah Al-Halbiyah :

وقد قيل له صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله أتذكر موت عبد المطلب؟ قال نعم وأنا يومئذ ابن ثمان سنين وعن أم أيمن أنها كانت تحدث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يبكي خلف سرير عبد المطلب وهو ابن ثمان سنين. ودفن بالحجون عند جده قصيّ.

Dikatakan kepada Rasulullah saw.; Wahai Rasulullah, apakah engkau ingat tentang kematian Abdul Muthalib? Beliau menjawab; Iya, dan saya waktu berusia delapan tahun. Juga dari Ummu Aiman, dia berkisah bahwa Rasulullah saw. menangis di dekat ranjang Abdul Muthalib dan waktu itu ia berusia delapan tahun. Abdul Muthalib dimakamkan di gunung Juhun di samping kakeknya, Qushay.

Adapun usia Abdul Muthalib ketika meninggal juga tertuang dalam Al-Sirah Al-Halbiyah :

توفي عبد المطلب وله من العمرخمس وتسعون سنة، وقيل مائة وعشرون، وقيل وأربعون

Abdul Muthalib meninggal pada usia 95 tahun, sebagian mengatakan 110 tahun, sebagian mengatakan 140 tahun.

Melalui kisah tersebut kita dapat sama-sama belajar bahwa setiap orang pasti akan kembali kepada pencipta-Nya suatu hari nanti. Kita yang masih memiliki keluarga, entah itu orang tua maupun yang lainnya, patut merasa bersyukur, menghormati, dan menyayangi mereka semua. Nabi telah memberikan suri tauladan bagi kita, bahwa beliau yang sejak kecil sudah yatim piatu begitu menghormati keluarga dan orang-orang disekitarnya. Sebab, kehilangan pasti akan dirasakan setiap orang. Namun, ikhlas dan bersyukur atas apa yang dimiliki merupakan obat terbaik untuk mengatasi belenggu kesedihan.

Oleh : Desi Nur Istanti

Sumber:

Gambar: bincangsyariah.com

Leave a Comment