“Kitabnya buat kamu saja, Ra.”

“Hah? Beneran? Ihh… jangan gitu, Qaf. Aku beli saja.”

“Bener, buat tanda terimakasih karena sudah mau belajar bareng.”

Tanpa kujawab si Qaffy sudah pergi. Ya, kami sering belajar bersama baik itu pelajaran pondok maupun pelajaran kehidupan. Baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Kami mondok di pondok yang berbeda, namun beberapa kitab yang kami kaji itu sama. Karena jarang ketemu, kita pun sering sharing via media sosial. Sekali bertemu, itupun tak akan lama karena kesibukannya di pondok sebagai pengurus harian utama.

Setelah hari pertemuan itu, semua berubah. Dia, sahabat terbaikku susah dihubungi. Slow respond, pesan tak dibalas, dan akhirnya tak berhubungan sama sekali kurang lebih 1,5 bulan. Aku memahami, dia memang sibuk dengan berbagai acara di pondoknya.

Suatu sore hari setelah ngaji bandongan, Silla, salah satu teman kamarku menghampiri.

“Ra, tau nggak kalau lurah Pondok Salafiyyah Sokolegi tadi pagi wafat?” Tanya Silla.

“Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajji’uun. Nggak, Sil. Sakit atau kenapa?”

“Iya, sakit. Tapi santri-santri sana tidak ada yang tau sakit apa.”

Dan saat itu juga aku baru sadar.

“Innalillaaaaaaahhhh….Sil… Lurah Pondok Salafiyyah Sokolegi?” Wajahku menatap tidak percaya ke Silla.

“Kenapa, Ra? Kok kamu tiba-tiba shock?”

Dan tangisku pun pecah. Tanpa aku menjawab pertanyaan Silla, aku segera lari ambil tas dan helm untuk segera berangkat ke pondok itu. Tak lupa aku juga minta izin kepada pengurus keamanan pondokku untuk izin pulang malam karena hal itu.

Setelah sampai di Pondok Salafiyyah Sokolegi, ternyata aku terlambat. Jenazahnya sudah dibawa ke kampung halamannya di Pasuruan tadi siang. Akhirnya kuputuskan sholat maghrib dan sholat ghaib di masjid pondoknya. Dan hanya sisa penyesalan yang aku bawa balik ke pondok malam itu.

Tepat sesampainya di kamar, kuambil kitab pemberiannya. Kitab Ar-Ruuh karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Kamarku sepi. Teman-teman sibuk dengan madrasah diniyyahnya, dan aku masih sibuk dengan tangisan dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hanya Tuhan dan si Qaffy yang bisa menjawab.

Secepat itukah kamu pergi?

Selama persahabatan kita, alangkah sangat bersalahnya aku yang tak mengetahui sakitmu. Itulah kamu, Qaffy. Yang tak mau memberatkan orang-orang sekitarmu.

Waktu itu sangat cepat berlalu. Ba’da subuh kamu mengirim pesan ingin bertemu karena rasa penasaranmu dengan hal yang mungkin ngeri menurut kebanyakan orang.

Ketika kutanya mengapa kamu ingin tahu tentang itu, kamu menjawab, “Karena kita nggak ada yang tahu kapan kita mati, dan aku penasaran aja. Kayaknya seru dan pembahasan kita nggak selalu tentang nikah. Hahahaha…”

Ketika kamu bertanya tentang kehidupan setelah kematian, apakah itu tanda pamitanmu kepadaku?

Ketika kusarankan untuk membeli kitab itu, kamu pun benar-benar membelinya agar kita bisa belajar dengan sumber yang pasti. Namun, kamu tidak mau membawa kitab itu setelah selesai belajar. Apakah kamu ingin mengingatkanku bahwa kematian memang menunggu antrean sehingga kau tak sempat untuk belajar bersama lagi?

Ketika sampai pada bab tentang mimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal, kamu sangat antusias tentang hal itu. Mungkin itulah ajakan halusmu kepadaku agar selalu mendoakanmu.

Sementara… Sampai jumpa di mimpi, Qaffy. Semoga kita bertemu lagi di surga-Nya nanti.

Oleh: Badi`atus Solichah

Foto:  Rey Seven on Unsplash

Leave a Comment