Khataman 2019 tentu berbeda dengan khataman tahun sebelum-sebelumnya. Perbedaan yang menonjol dan sering dibicarakan santri—terlebih khotimat—adalah pelatih khataman, salah satunya adalah pelatih koreografi. Pada tahun ini, pelatih khataman diambil dari alumni dan santri Komplek Q. Jelas berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya yang mempercayakan kepada pelatih dari luar.

Tentu ada beberapa alasan mengapa panitia mengambil keputusan yang berbeda. Tahun sebelumnya, khataman dipegang oleh Mbak Rada yang notabennya adalah penari. Tahun sebelumnya lagi, pelatih khataman adalah Mas Yusron yang sudah dipercayakan sejak awal khataman di komplek Q. Mas Yusron adalah alumni ISI dan sudah lebih lama melatih khataman di Komplek Q.

Sayangnya, kerja sama dengan Mas Yusron tidak bisa diteruskan lagi. Hal ini dikarenakan sang pelatih hijrah ke Semarang dan tinggal bersama keluarganya. Dengan kesibukannya tersebut, sangat tidak memungkinkan untuk tetap melatih di Yogyakarta. Meskipun diakui Mas Yusron sudah lama dan tentunya lebih paham akan kondisi panggung, komposisi dan pola gerakan.

Pasca era Mas Yusron, panitia sepertinya kesulitan untuk mencari pelatih pengganti. Dua tahun yang lalu sudah dicoba untuk menggunakan pelatih luar, yakni Mbak Rada. Karena baru melatih satu edisi, ia dianggap masih belum mengerti medan. Kondisi ini lah yang membuat panitia kurang puas dengan konsep koreo yang diterapkan pada khotimat pada edisi yang lalu.

Menurut Faila selaku ketua panitia, “mencari orang lain dan orang baru untuk melatih khataman pasti lebih sulit dan nantinya akan berakibat pada khotimat, sehingga jika ada (pelatih) dari dalam kenapa harus cari dari luar?,” ujar santri yang juga menjadi pembina MTPA ini.

Setelah melalui beberapa musyawarah, Nur Ubaidah atau biasa disapa Mbak Ubaid dipilih menjadi pelatih koreografi khataman tahun ini. Pemilihan ini didasarkan atas pengalamannya sebagai panitia khataman beberapa kali, bahkan beliau juga pernah menjadi ketua khataman dan Lurah Komplek Q ditahun 2014. Pengalaman ini membuat panitia yakin akan kemampuan Mbak Ubaid akan kondisi lapangan. “Mbak Ubaid lebih paham akan kondisi lapangan karena benar-benar mengikuti perkembangan latihan Khataman sejak lama hingga tahun ini,” dalihnya.

Terkait dengan partner dalam melatih, Mbak Ubaid sendiri yang meminta Mbak Rifka dan Mbak Uyun untuk menemaninya. Hal tersebut dikarenakan keduanya pernah merasakan menjadi panitia dalam beberapa edisi dan berkecimpung dalam latihan.

Mengenai konsep koreo, ia mengaku tidak ada konsep khusus dari pelatih, tetapi dengan berkaca pada pengalaman yang sudah-sudah, beberapa hal masih bisa diterapkan dan diambil bagaimana baiknya. Meskipun mereka belum pernah melatih koreo dan bukan menjadi profesinya, tetapi panitia lebih yakin dengan mereka karena alasan-alasan tersebut. “Selama kita pribadi mencoba melakukan apa yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya,” tutur Mbak Ubaid.

Setiap era pelatih selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Satu hal yang harus diingat, bahwa sebagus apapun konsep pelatih tidak akan bisa berhasil apabila tidak diikuti oleh kerja sama yang baik dari peserta. Oleh karena itu, agar khataman yang tinggal beberapa hari ini bisa sukses, kerja sama yang baik sangat diharapkan muncul dari panitia, pelatih, dan peserta tentunya.

Oleh: Syifa & Erfika

Leave a Comment