Inilah kisahku, dimana saya masih diberikan kesempatan untuk merasakan kehangatan keluarga di tahun ini. Kisah ini sedikit berbeda, terbilang jauh dari protokol kesehatan dalam situasi tanggap pandemi ini. Suasana yang masih ramai, phsycal distancing pun tak ada. Para masyarakat desa bukan bebal atas peraturan, tapi daerahnya yang masih terbilang cukup aman, semoga tetap aman sampai selanjutnya. Tapi kami tetap waspada dan berhati-hati, pendatang dari zona merah harus dikarantinakan.

Mudik ke kampung halaman merupakan adat istiadat masyarakat Indonesia menjelang idulfitri tiba. Berkumpul, bercanda gurau, serta melepas rindu dengan keluarga dan sanak saudara yang ada. Bahkan melepas penat dari setumpuk pekerjaan yang menanti kita.

Biasanya, hari-hari terakhir puasa ramadan orang-orang sibuk menyiapkan segala hal untuk menyambut hari kemenangan. Pergi ke pasar untuk menyiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan, berkutat dengan segala macam bumbu di dapur, bahkan juga membersihkan setiap sudut rumah.

Gema takbir di masjid berkumandang selepas hasil sidang isbat diumumkan. Takbir keliling pun ikut bersahut-sahutan. Asma Allah terus diagung-agungkan sampai sholat id dilaksanakan. Suasana haru dan bahagia menyelimuti setiap rona wajah para insan. Merasa berhasil melawan hawa nafsu hingga sampai di titik kemenangan. Namun, tak jarang pula ada yang merasakan kesedihan. Ladang melipatgandakan ganjaran ibadah telah pergi meninggalkan. Ada yang merasa khawatir juga ketika ajal telah menjemput duluan dan tak bisa merasakan suasana ramadhan di tahun depan.

Keesokan harinya, pukul 06.00 WIB masyarakat desa telah berbondong-bondong menuju satu tujuan, masjid besar yang ada di desa tersebut. Melaksanakan salat id dengan penuh khusyuk sebagaimana bacaan imam yang membuat hati kami tersentuh. Khutbah tentang hari kemenangan yang merasa cukup panjang untuk didengarkan. Selepas salat id, para masyarakat desa masih melestarikan tradisi sepintu sedulang (tradisi makan bersama di masjid oleh para kaum pria dengan membawa hidangan masing-masing ke masjid) di masjid. Tradisi yang tak boleh dilupakan apalagi sampai ditinggalkan.

Di rumah, saya dan keluarga bersiap siap di rumah untuk pergi bersilaturahim ke rumah sanak saudara sembari menunggu bapak pulang dari masjid. Setelah bapak pulang dari sepintu sedulang kami tak lupa untuk sungkeman. Meminta maaf dari segala kesalahan yang telah dilakukan. Karena sejatinya, manusia tak luput dari kesalahan. Hidup tak ada yang sempurna dari kebenaran.

Seharian bersilaturahim dengan sanak saudara, mencicipi cita rasa makanan yang telah dihidangkan oleh tuan rumah, bahkan seringkali bercandagurau tentang perihal jodoh para jomblo yang belum datang juga. Tak lupa kami mengabadikan momen yang ada. Berfoto bersama walau terkadang banyak yang tidak hadir untuk berkumpul bersama. Timbal balik bertamu, lebaran ketiga giliran semua sanak saudara yang datang kerumahku.

Ibu menyiapkan segala hidangan terbaiknya. Ada tekwan ikan tenggiri, sup tulang rusuk sapi, rendang, ayam kecap, udang saus tiram, lalapan daun ubi dengan sambal asam dan sambal ikan.

Inilah sebagian momen yang selalu kurindukan ketika pulang ke kampung halaman. Masih banyak kisahku yang tak dapat ku tuangkan dalam tulisan ini.

Oleh: Novia Purnamasari

Foto: vectorstock.com

Leave a Comment