Di dalam ajaran agama Islam, kita diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana yang telah dilakukan oleh umat Islam sejak zaman dahulu. Puasa yang wajib kita lakukan adalah puasa pada bulan Ramadan. Selain puasa wajib bulan Ramadan, ada juga ajaran untuk puasa sunnah yang harus kita ketahui dan sebaiknya kita kerjakan. Puasa sunnah jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa. Adapun macam-macam puasa sunnah sebagai berikut :

      1. Puasa Hari ‘Arafah

        Puasa Hari ‘Arafah dilakukan pada tanggal 9 bulan Dzulhijjah.

        عن أبى قتادة رضي الله عنه أن النبى صلى الله عليه وسلم قال : صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده مذهب

        “Dari Qatadah radliyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa ‘Arafah, beliau menjawab: “Puasa ‘Arafah bisa menghapus dosa satu tahun lalu dan satu tahun yang akan datang”. (HR. Muslim).

        Tetapi, dalam hal ini, dosa yang dimaksudkan adalah dosa kecil. Contohnya tidak saling tegur sapa, sombong, menonton film yang tidak bermanfaat, ghibah dan berbohong.

      2. Puasa Hari ‘Asyura dan Tasu’a

        Puasa Hari ‘Asyura dilakukan pada tanggal 10 bulan Muharram dan Tasu’a pada tanggal 9 bulan Muharram.

        عن أبى قتادة رضي الله عنه أنه صلى الله عليه وسلم قال : وصيام عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

        “Dari Abu Qatadah radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa ‘Asyura, beliau menjawab: “Puasa ‘Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim)

        وعن ابن عباس رضي الله عنهما أنه صلى الله عليه وسلم قال : لئن بقيت إلى قابل لأصومنّ اليوم والتاسع

        “Dari Ibn ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan (para sahabat) puasa hari ‘Asyura”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika aku masih ada sampai tahun depan pasti aku akan berpuasa hari ke sembilan”. (HR. Muslim)

        Namun, Rasulullah SAW wafat sebelum tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan pentingnya niat, yang mana jika kita sudah berniat akan melakukan ibadah maka Allah sudah menghitung ibadah meskipun ibadah tersebut belum dikerjakan. Meskipun Rasulullah SAW wafat sebelum hari ke 9 Muharram maka sudah dihitung ibadah. Keistimewaan lain pada zaman dahulu untuk menghormati orang-orang yang berpuasa bulan Muharram adanya himbauan untuk tidak diperbolehkan perang pada bulan Muharram.

      3. Puasa 6 hari pada Bulan Syawal

        Puasa 6 hari Bulan Syawal ini boleh dikerjakan berturut-turut atau terpisah harinya.

        روى أبو أيوب الأنصارى رضي الله عنه قال صلى الله عليه وسلم : من صام رمضان وأتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله

        “Dari Abu Ayyub Al Anshari radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang puasa Ramadan, kemudian mengiringinya dengan puasa 6 hari bulan Syawal, ia seperti puasa sepanjang tahun”. (HR. Muslim)

        Meskipun pada saat berpuasa semua hal yang kita lakukan dihitung ibadah termasuk tidur. Namun alangkah baiknya jika kita dapat menikmati puasa dengan hal-hal seperti berikut:

        – merasakan lapar karena itu puncaknya puasa karena pada saat lapar jiwa kita terlatih untuk menahan dan bersabar.

        – tidak menonton film yang kurang bermanfaat karena pada film terdapat banyak kebohongan yang diperankan.

        – tidak berlebihan saat puasa artinya tidak menjadikan puasa dengan melakukan hal-hal yang berlebihan dibandingkan hari biasanya. Contohnya : makan berlebihan saat buka puasa dan sahur dengan menambah porsi yang berlebihan dan makanan yang bermewah-mewahan

      4. Puasa Ayyamul Bidh

        Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa yang dilaksanakan pada tiga hari setiap bulannya, yakni pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah.

        Adapun dasar pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh adalah hadis sebagai berikut:

        أوصانىخليلىعليهالصلاةوالسلامبصيامثلاثةاياممنكلشهر

        “Telah berwasiat kepadaku, Rasulullah saw. dengan puasa tiga hari setiap bulan.” (HR. Abu Hurairah ra)

      5. Puasa Hari Senin dan Kamis

        Usamah bin Zaid RA bertanya kepada nabi, perihal puasa pada hari Senin dan Kamis.Nabi bersabda:

        تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

        “Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [HR. At-Tirmidzi dan lainnya]

        Meskipun pada saat berpuasa semua hal yang kita lakukan dihitung ibadah termasuk tidur, namun, alangkah baiknya jika kita dapat menikmati puasa dengan hal-hal seperti berikut:
        – merasakan lapar karena itu puncaknya puasa karena pada saat lapar jiwa kita terlatih untuk menahan dan bersabar.

        – tidak menonton film yang kurang bermanfaat karena pada film terdapat banyak kebohongan yang diperankan.

        – tidak berlebihan saat puasa artinya tidak menjadikan puasa dengan melakukan hal-hal yang berlebihan dibandingkan hari biasanya. Contohnya: makan berlebihan saat buka puasa dan sahur dengan menambah porsi yang berlebihan dan makanan yang bermewah-mewahan.

        Mar’ah dan Asmak Anisah
        Pengajian KitabuShiyam Ustadz Zaky 1 Ramadhan 1440 H

Leave a Comment