Kunci dalam beribadah supaya ibadahnya dapat diterima oleh Allah Swt. adalah cinta. Tanpa cinta, seseorang tidak akan sampai kepada Allah Swt. Maka termasuk dusta, jika dirinya mengatakan telah banyak melakukan ibadah, tetapi dalam beribadah pikiran masih kemana-mana dan yang dituju bukanlah Allah Swt. melainkan hal lain. Hal ini dikarenakan di dalam hatinya tidak tertanam cinta dalam beribadah kepada Allah Swt.

Sebagai contoh, orang tua sangat mencintai anaknya yang diwujudkan dengan mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan anaknya setiap hari. Cintanya orang tua terhadap anak bukan karena keindahan yang dimiliki oleh anaknya. Seringkali penglihatan orang tua berbeda dengan penglihatan orang lain. Bagi orang tua, seakan-akan anaknya itulah yang paling indah yang pernah ada, walaupun di mata orang lain terlihat biasa saja. Banyak anak yang lebih indah, tampan, dan cantik daripada anaknya. Akan tetapi, orang tua tetap menganggap anaknya yang terbaik, yang terindah. 

Sama halnya seperti sepasang kekasih. Cara berjalan, minum, bahkan cara duduknya saja terlihat sangat istimewa, padahal sebenarnya tidaklah berbeda dengan manusia lainnya. Dengan demikian, matanya sudah tersihir karena adanya cinta. Itulah yang disebut cinta. Cinta membutakan segalanya. Ketika cinta sudah berbicara, maka semua akan menjadi indah. Begitu pula jika telah menjadikan Allah Swt. segala-galanya bagi kita, maka kita akan mendapatkan kenikmatan ketika beribadah kepada Allah Swt.

Di dalam suatu riwayat diceritakan bahwa ada seseorang yang bernama Qays bin Mulawwah atau yang sering kita kenal dengan Majnun. Majnun adalah seseorang yang sangat mencintai Laila. Dikisahkan bahwa Laila adalah wanita berkulit hitam dan tidak memiliki rupa yang indah untuk dipandang. Sebagaimana perkataan Imam Syafi’i,

“Mata jika telah senang kepada sesuatu. Maka mata tersebut akan buta. Semua yang dipandang adalah keindahan. Walapun yang dipandang keburukan tetapi tetaplah indah. Begitu pula jika mata telah benci kepada sesuatu. Maka sesuatu tersebut yang sangat indah dipandang buruk.”

Suatu saat Majnun berjalan dan bertemu dengan beberapa orang yang sedang shalat. Kemudian Majnun menghampiri orang yang sedang shalat tersebut dan duduk dihadapan orang yang shalat. Orang tersebut tidak khusyuk karena ada yang mengganggunya. Setelah selesai shalat, mereka mendekati Majnun, dan berkata “Hai Majnun!, Hai orang gila! Kenapa kamu mengganggu ibadah kami? Kenapa kamu mengganggu shalat kami? Kenapa kamu mengganggu hubungan kami dengan Allah Swt.?”

Lalu, apa yang dikatakan Majnun? Dia menjawab “Apakah kalian benar-benar sedang shalat? Apakah kalian serius sedang bercinta dengan Allah? Apakah kalian sedang bermunajat dengan Allah? Sepertinya kalian dusta”. Orang-orang itu berkata, “Kenapa kamu bisa bilang kami berdusta?” Majnun pun menjawab “Karena ketika saya masuk kampung Laila, saya tidak toleh kanan dan kiri serta ke belakang. Yang dipikiran saya hanya fokus kepada Laila. Mau ada orang ribut, ada tabrakan di samping saya, ataupun mau ada segala hal apapun yang terjadi. Pikiran saya hanya tertuju kepada Laila.” 

Lanjut Majnun, “Sama halnya jika kalian mengatakan cinta kepada Allah Swt. dan beribadah kepada Allah Swt., tetapi ketika saya datang, kalian tidak fokus kepada Allah Swt. dan di dalam pikiran kalian kenapa ada orang gila datang mendatangi dan duduk di depan kalian. Sehingga kalian tidak benar-benar cinta kepada Allah Swt. dan telah berdusta. Di dalam hati kalian tidak tertanam adanya cinta kepada Allah Swt.” Maka orang-orang tersebut kebingungan atas jawaban Majnun yang begitu luar biasa. Begitu indah kata-kata Majnun mengatakan hakikat cinta sebenarnya yang mungkin tidak dapat dipahami oleh kita. 

Kisah lain, Majnun sedang duduk bersama dengan anjing. Ia memiliki pakaian lalu ia kenakan pakaian tersebut kepada anjing. Ia juga memiliki sepotong roti, lalu ia potong menjadi dua bagian. Satu bagian untuknya dan bagian lainnya ia berikan kepada anjing tersebut. Melihat hal ini, sebagian orang datang kepada Majnun dan mengatakan, “Hai Majnun, kau semakin lama semakin gila saja. Mengapa anjing kau berikan setengah dari hartamu?” Majnun menjawab, “Saya memuliakan anjing ini karena saya tau matanya pernah memandang kampung Laila. Segala hal yang berkaitan dengan Laila, kekasihku, akan saya muliakan. 

Begitulah arti dari cinta, dari orang yang dianggap gila, kita bisa belajar cinta kepada Allah Swt. Jika kita ingin mendapatkan kekhusyukkan di dalam beribadah kepada Allah Swt., utamakanlah terlebih dahulu cinta sebelum melakukan segala sesuatu sehingga kita akan merasakan kenikmatan dalam beribadah. Dengan demikian, cinta telah masuk dan merekat di dalam hati kita. Semoga kita semua bisa merasakan nikmat dalam beribadah kepada Allah Swt.. Aamiin.

Oleh: Fina Izzatul Muna

Disarikan dari kajian oleh Habib Ali Zaenal Al Kaff

Foto: rawpixel.com

Leave a Comment