Siapa yang tidak pernah mendengan istilah nyantri? Satu kata yang sangat familiar dan selalu dipadukan dengan semboyan “nyantri, ngaji, ngabdi, rabi”.

Namun, apa sih makna sebenarnya dari kata nyantri itu sendiri?

Nyantri, istilah yang lazim terdengar di kalangan pesantren. Nyantri dimaknai sebagai suatu proses dimana seseorang dipaksa untuk hidup serba sederhana, mandiri, disiplin, dan memiliki sifat tawadlu’ kepada seorang kiai atau pengasuh pondok pesantren. Seorang yang sedang nyantri dituntut untuk neriman dan rekoso.  Menerima apa adanya dan tidak mudah mengeluh terhadap apa yang dialaminya. Menerima apa adanya di sini bukan berarti pasrah tanpa usaha sama sekali, tetapi menerima sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa jumlah santri yang nyantri di pesantren-pesantren bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Semua itu berasal dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke, bahkan tidak menutup kemungkinan berasal dari berbagai pelosok negeri.

Baca Juga:

Bisa dibayangkan berapa banyak kebudayaan, bahasa, kebiasaan, dan perbedaan-perbedaan lain yang bersatu padu dalam satu naungan pesantren itu? Betapa hebatnya dunia pesantren yang dapat melebur perbedaan-perbedaan ini sehingga menciptakan suatu keharmonisan. Di sinilah poin utama nyantri itu ditonjolkan.

Di pesantren, santri dituntut untuk bisa hidup bersama dan belajar berbagi dengan yang lainnya. Berbagi tempat, makanan, bahkan hal yang terkesan sangat sederhana. Kondisi kamar yang sempit, hanya berukuran tiga kali tiga meter, ditempati 15 orang bahkan lebih, tempat belajar yang tidak kondusif, tempat tidur yang tidak nyaman karena harus tidur di tempat seadanya dan harus berbagi dengan yang lain bukan menjadi penghalang bagi seorang santri untuk tetap semangat menuntut ilmu. Di pesantren, santri diajarkan untuk selalu bersyukur terhadap hal-hal yang sederhana, tidak muluk-muluk pada hal yang mewah.

Santri yang luar biasa adalah santri yang nyantri, artinya santri yang mampu menyelaraskan dan menyesuaikan perkataan dan perbuatannya. Dalam hal ini santri harus memiliki prinsip, yakni menjadikan diri santri berbeda dan unggul dengan yang lainnya dalam mengarungi sebuah proses kehidupan. Berbeda disini dimaksudkan berbeda dalam meningkatkan potensi keunggulan dan kelebihan yang dimiliki oleh santri, tentunya dalam hal yang positif dan juga bermanfaat bagi seluruh makhluk di muka bumi.

Bersyukurlah bagi kita yang masih diberikan kesempatan untuk nyantri. Begitu banyak hal yang bisa diperoleh sebagai jalan untuk pengembangan dan perbaikan diri pribadi menjadi lebih baik dan tentunya bisa bermanfaat untuk banyak orang di masa mendatang. 

Oleh: Imroatun Nafi’ah

Sumber:

Foto Dokumentasi Komplek Q

Leave a Comment