Dahulu ada seorang keluarga yang mencukupi kebutuhannya dengan bekerja keras mencari nafkah sebagai seorang petani. Setiap pagi beliau bergegas pergi ke sawah untuk merawat dan menanam padi milik juraganya sampai petang menghadang. Beliau tak pernah lelah dan pantang menyerah dalam bekerja. Sepulangnya dari sawah, beliau sempatkan untuk mampir ke kebun pisang miliknya dan mencari beberapa buah pisang dan tanaman yang  kira-kira dapat ia manfaatkan untuk makan bersama keluarganya.

Kehidupan sederhana yang beliau rasakan menjadi buah penyemangat bagi beliau untuk terus bekerja demi mengayomi keluarganya. Beliau memiliki dua putri yang semuanya diberikan fasilitas pendidikan pesantren yang memadai dengan harapan semoga kelak putrinya dapat menggapai cita-citanya. Akan tetapi, keduanya memiliki watak yang berbeda, sang kakak tak ingin melanjutkan sekolahnya dengan alasan tidak mau banyak beban tugas pikiran. Sedangkan adiknya yang sudah dibiayai dengan susah payah, lebih senang dengan pergaulan remaja dan berfoya-foya menghabiskan uang orang tuanya.

Kedua putrinya tak pernah memikirkan perasaan orang tuanya yang setiap hari harus pergi ke sawah, menelan ludah merasakan panasnya terik matahari yang menyengat. Mereka tak pernah berfikir betapa lelahnya orang tua mereka dalam bekerja mencari nafkah, sampai pada suatu saat ada beberapa warga yang mencela kondisi rumah mereka, hal ini membuat putrinya tak ingin melanjutkan sekolah karena “malu” dengan cacian dan hinaan para tetangganya.

Akhirnya sang bapak petani bertekad untuk melakukan pekerjaan apapun yang halal demi bisa mengayomi keluarganya dan dapat membiayai putrinya sekolah sampai sarjana, apapun pekerjaanya beliau lakoni dengan tekun dan sepenuh hati mulai dari menjual barang kebutuhan rumah tangga sampai merawat kambing-kambing milik juraganya, beliau tak pernah malu dengan apa yang beliau tekuni, beliau percaya bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang diperbuat hamba-hambanya. Hal tersebut membuat beliau semangat dalam menjalani setiap pekerjaan yang sedang beliau tekuni.

Amalan sunnah pun tak pernah beliau tinggalkan seiring kerja keras yang sedang beliau lakoni, seperti kebiasaan puasa Senin-Kamis, mengerjakan salat tahajud tetap beliau tekuni dan laksanakan dengan sepenuh hati. Lantaran doa yang beliau panjatkan di sepertiga malam, Allah memberikan kemudahan bagi beliau dan keluarganya dengan perantara rekan kerja beliau yang sudah sangat percaya untuk berkerjasama dengan beliau, yaitu usaha gula tebu.

Awalnya beliau hanya mencoba dan berusaha untuk membuat dan mengumpulkan hasil gula tebu dari kelapanya sendiri. Akan tetapi, Allah memiliki skenario yang luar biasa tak disangka, usaha yang tidak begitu besar tersebut menjadi usaha yang sangat terkenal dan menjadi usaha yang digemari oleh masyarakat. Pada akhirnya beliau diberi kesempatan untuk membangun rumah yang cukup layak untuk ditinggalinya, sehingga tidak ada seorang pun yang berani untuk mencemoohnya lagi.

Photo by Pierre Sudre from Pexels

Leave a Comment