Masih ingatkah kau jalan pulang?

Kutanya begitu saat langit sedari subuh sudah di jatuhi hujan. Anggrek ungu yang menempel di pohon mangga  sudah punya rencana akan rekah dengan hebat, layu kusut tak bergairah. Lalu  dari raut deretan abjad yang kau kirim di layar ponsel ku, kau terlihat kebingungan kan? Sangat kebingungan atau pura-pura bingung. Ku tanya tiga kali saja. Jika lima takut kau bosan. Tetap kau berdalih, “Apa sih?” ujarmu lagi-lagi begitu.

Masih ingatkah kau jalan pulang?

Bukankah kau pernah mengatakan bahwa “aku adalah teduh, saat terik diam-diam merayapimu. Aku adalah tenang ketika dunia begitu tegang. Aku adalah..”. Apa? Semua itu apa?  Jika aku bukan rumah tempatmu pulang?

Masih ingatkah kau jalan pulang?

Tidak bisa aku berhenti meracau, saat itu ku rasa kacau. Sembari menunggu, Lalu ku hayati lagi,pagi ini bukan hanya air hujan, pun air mata yang hingga siang kompak berjatuhan. Keukeuh, niat masih akan ku tanyai lagi “masih ingatkah kau jalan pulang?”. Tapi terburu jawabanmu yang sudah lebih dulu mendekap menenangkan ku.Katamu “aku tetap dengan mu bukan. Di sini. Tidak pernah pergi. Bagaimana aku pulang?”.

Dan kemudian awan kelabu, air hujan, juga air mata berhenti membuat matahari basah kuyup dan malu karena kedinginan di kesendirian. Pun anggrek ungu kembali Bahagia seperti semula. Aku tenang. Kau tetap di sini. Kalau-kalau nanti kamu harus pergi, ku harap jalan pulang tetap kau ingat. Rumahmu, aku. Ingat ya.

Cirebon, 2020.

Oleh: Nadiya Qothrunnada

Foto: Javier Allegue Barros on Unsplash

Leave a Comment