Hawa dingin kembali menjadi selimut malam nan panjang. Jika para makhluk semesta—yang juga makhluk berakal—begitu menunggu malam karena menjadi waktu melepas lelah. Maka lain halnya denganku dan teman-teman. Miris memang, kalian yang selalu mengagung-agungkan akal hingga dinobatkan makhluk paling sempurna oleh sang Maha Pencipta, nyatanya menggunakan akal kalian dengan kurang bijaksana.

Dinding-dinding putihku selalu penuh dengan remah-remah yang sering kalian sebut luapan perasaan, status atau apapun itu aku dan kawan-kawanku tak begitu peduli. Karena yang selalu kurasakan adalah kotor yang amat berlebihan, lalu lelah yang juga jauh dari kata wajar.

Bagaimana bisa?

Pertanyaan yang sangat lucu, karena seharusnya akulah yang bertanya demikian. Bagaimana bisa kalian menghamburkan waktu untuk fokus terlalu terlena pada peradaban ilusi dan memilih lari dari peradaban nyata? Kadang bahkan aku ingin bertanya, bagaimana bisa kalian melupakan ibadah dan segala hal penting lainnya hanya demi mencoretkan tulisan yang penuh akan keluhan penabung dosa di kehidupan abadi?

Aku sering mendengar kalian sesama makhluk semesta berkata menggunakan kaumku sebagai media komunikasi. Sebuah alasan yang selalu menjadi hal wajar bagi kalian, sebuah kemudahan yang kaumku tawarkan memang memudahkan kalian memangkas jarak. Namun sungguh aku jengah dengan segala tabungan dosa yang berceceran.

Lagi-lagi siapa yang patut dipersalahkan Tuhan?

Oleh: Desi Nur Istanti

Leave a Comment