Menemukan Keberadaan Allah

Posted on 2 views

Dalam ceramahnya, Prof. Quraish Shihab membahas uraian yang sangat mendasar, yaitu tentang rukun iman yang pertama, percaya kepada Allah. 

Makna Allah mempunyai akar kata “alihah”, artinya yang mengherankan, yang menakjubkan, yang dipatuhi. Allah dinamai Allah karena ia dipatuhi, karena semua ciptan dan perbuatannya yang menakjubkan. Jadi, karena dia dipatuhi, karena perbuatannya menakjubkan dan karena hakikatnya tidak diketahui sehingga mengherankan,  itulah Allah. 

Dalam Al-Quran disebutkan, “Hal ta’lamu lahu samiyya,” yang artinya, “apa kamu tahu ada sesuatu (selain-Nya) yang dinamai Allah?” Maka jawabannya tidak ada. 

Dalam QS. Al-Ikhlas juga disebutkan, “Qul huwa allahu ahad.” Huwa dapat diartikan “Dia”. Jika dari segi bahasa, tidak disebutkan arti jelas dari “huwa”, tetapi karena Dia jelas ada di dalam jiwa manusia, maka dengan berkata “huwa”, berarti langsung merujuk kepadaNya. Jadi Allah itu ada di dalam diri kita.  

Tidak hanya dalam agama Islam, penyebutan Allah juga dipakai dalam agama Kristen dan orang musyrik pada zaman Nabi, yang menyebabkan persamaan penyebutan  tersebut. Hal ini menjadi persoalan dalam melaksanakan rukun iman yang ke lima dan menjadi sebab dalam wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad, kata Allah tidak digunakan. Dalam QS. Al-‘Alaq disebutkan, “iqra’ bismirabbikalladzi kholaq” tidak menggunakan kata Allah, tetapi menggunakan kata “rabbuka.” Kemudian, orang musyrik mempertanyakan hal ini, mengapa menggunakan rabbuka

Kemudian, turunlah QS. Al-Ikhlas yang berbunyi, “Qul huwallahu ahad”. Jadi,  percaya pada Allah itu adalah Allah yang ahad atau esa. Allah yang  kita percayai, yang kita kagumi ciptaanNya, kita patuhi perintahNya, tetapi kita tidak bisa mengetahui hakikat dzatNya. Sesuatu itu tidak bisa dilihat bisa jadi karena diliputi kegelapan, atau karena terlalu terang. 

“Sesuatu yang wujud walau dia terang baru bisa melihatnya jika ada cahaya yang lebih terang darinya,” begitu menurut perkataan ulama. Tuhan merupakan puncak dari cahaya. Kemudian, bagaimana kita mengetahui hakikatNya? Sedangkan kita percaya.

Mengapa kita diperintahkan untuk percaya? Kita tidak perlu melihatnya jika  sudah ada tanda-tanda wujudnya. Percaya bahwa Dia itu wujud karena alam raya ini ada. Jika kita melihat isi dari alam semesta ini, semua diciptakan dengan teratur. Tidak mungkin keteraturan itu tidak ada yang mengatur. Karena, tidak mungkin ada wujud yang tidak ada pencipta-Nya. 

Lantas, siapa yang menciptakan Tuhan?  

Filsuf berkata, “Tidak ada rantai yang tidak berakhir, pasti berakhir. Karena akal kita tidak bisa membayangkan sesuatu yang terus menerus.” Bisa dianalogikan, dengan menghitung pengurangan satu juta, ketika sampai pada nol, perhitungan menjadi  berhenti. Oleh karena itu, tidak ada istilah perurutan, harus berhenti. Ketika berhenti, di situlah dikatakan, itulah Allah, itulah Tuhan.

Oleh: Iqna Isti’nafiah

Photo by Samuel PASTEUR-FOSSE on Unsplash