Pernah nggak sih kita merasa malas melakukan sesuatu? Padahal deadline udah mepet, tapi masih aja diundur-undur. Jadi teringat sebuah pernyataan yang barangkali sering sekali kita pikirkan, “Mengapa berbuat kebaikan terasa lebih berat daripada berbuat dosa?”

Menilik dari hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

“Neraka itu dipagari dengan Syahwat (Kesenangan), sedangkan surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (Ujian)”. (Shahih Bukhari : 6487)

Melalui hadist ini, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkara yang tidak disukai adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah maupun larangan dimana ia dituntut untuk melaksanakannya. Sedangkan perkara yang disukai maksudnya adalah yang disukai oleh syahwat manusia seperti melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, dengan tujuan menikmati kehidupan di dunia.

Lalu gimana sih supaya kita bisa mengatasi rasa malas dalam melakukan hal-hal baik itu?

Sekarang mari tengok sejenak ke negara tetangga yang terkenal dengan kedisiplinan warganya, yaitu Jepang. Ternyata untuk membetuk semua sikap disiplin orang Jepang dimulai dari pembentukan kebiasaan mereka sejak kecil. Teknik yang mereka gunakan bernama Kaizen.

Kaizen atau yang sering juga disebut Prinsip Satu Menit, merupakan sebuah perubahan dalam hidup seseorang dengan cara melakukan sesuatu dalam satu menit setiap harinya dan di waktu yang sama. Karena prinsip ini sederhana, jadi bisa diterapkan ke berbagai lini kehidupan. Kemudian ketika berhasil melakukannya, kita akan merasa lebih baik karena merasa telah melakukan satu hal secara bertanggungjawab.

Efeknya membuat kita ketagihan untuk melakukan dan merasakan itu dikemudian hari. Selanjutnya di hari-hari setelahnya, kita lebih akan mulai menambah alokasi waktu menjadi lebih lama. Kuncinya tentu satu, konsisten.

Usaha yang dilakukan terlalu keras dan kurang rutin hanya akan menghabiskan tenaga, akibatnya jadi lebih mudah lelah dan berujung malas. Namun, ketika sesuatu dilakukan secara rutin meski sebentar, kita akan lebih merasa senang sehingga mampu menguasai hal itu dan melekat lebih kuat diingatkan.

Prinsip ini ternyata juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hermann Ebbinghaus, tentang memori dan kemampuan mengingat. Melalui penelitian itu disampaikan bahwa kemampuan mengingat seseorang akan menurun drastis kalau informasi yang didapat hanya sekali dan seabrek-abrek, apalagi jika tak pernah diulang lagi. Nah, itulah pentingnya repetisi atau pengulangan. Sesuatu yang diulang akan lebih dimengerti dan melekat lama di memori.

Sejalan kan sama prinsip Kaizen tadi?

Yuk, kita lakukan perubahan, perlahan dan dengan penuh kebijaksanaan.

Sumber :

Oleh: Desi Nur Istanti

Foto: elizabeth lies on Unsplash

Leave a Comment