Tujuh puluh empat tahun sudah negara Indonesia merdeka. Sebagai bangsa yang telah merdeka  sudah seharusnya mengucap syukur sebagai tanda terimaksih atas perjuangan para pahlawan. Dalam sebuah pidatonya, Bung Karno pernah mengungkapkan:“bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya”. Salah satu bentuk penghargaan adalah dengan mengenal nama dan mengetahui pengalaman hidupnya, untuk membangun kembali jiwa nasionalisme dan memperkuat karakter bangsa kita, bangsa Indonesia.

Salah satu pahlawan yang turut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar. Beliau adalah salah seorang keturunan nabi. Laki-laki yang akrab disapa dengan H. Muthahar ini lahir di Semarang, 5 Agustus 1916. Beliau merupakan Sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah.

 “apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapapun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya”,

Kalimat di atas merupakan amanat yang diberikan oleh Presiden Soekarno kepada H.  Muthahar  yang saat itu menjabat sebagai ajudan Presiden. Saat itu Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta sedang dikepung oleh Belanda.

Menjaga bendera pusaka merupakan amanah yang sungguh berat. H. Muthahar mencari cara agar Bendera Pusaka (Merah Putih) tidak dikenali oleh Belanda. Akhirnya beliau membagi bendera pusaka menjadi dua bagian. Melalui bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik merah dan putih berhasil dipisahkan dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera Pusaka. Kemudian kain merah dan putih tersebut diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. H. Mutahar kembali menjahit bendera pusaka persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu fatmawati. Dengan dibungkus koran agar tidak mencurigakan, lalu diberikan kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada bung Karno. Pada tanggal 17 agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Selain itu, H. Muthahar juga dikenal sebagai seorang komponis musik Indonesia sekaligus penggagas Paskibraka. Beliau banyak menciptakan lagu kebangsaan dan anak-anak, diantaranya: Hari Merdeka (1946), Hymne Syukur (1945), Hymne Almamater (Hymne Universita Indonesia), Dirgahayu Indonesiaku yang menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 kemerdekaan Indonesia, gembira, tepuk tangan silang-silang, mari tepuk, jangan putus asa, saat berpisah (tiba saat berpisah), bertemu lagi (disinilah di sini kita bertemu lagi).  Pada tahun 1964 beliau menciptakan lagu Hymne Pramuka atau Satya Darma Pramuka. Lagu Satya Darma Pramuka ditetapkan sebagai Himne Pramuka dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka pasal 51.

Selain menjadi ajudan terpercaya Soekarno beliau juga menjadi tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia yang merupakan gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Kak Mut adalah sapaan akrab H. Muthahar di lingkungan gerakan Pramuka. Beliau dikenal anti-komunis. Pada tanggal 27-29 Desember 1945, Kesatuan Kepanduan Indonesia menyelenggarakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia. Hasil dari kongres ini adalah membentuk Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan saat itu. Kak Mut menjabat sebagai anggota Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia (1945-1961).

Gerakan Pramuka sendiri berdiri pada tanggal 14 Agustus 1961. Kak Mut berperan aktif dalam usaha pendirian gerakan pramuka ini. Upaya Kak Mut Besama tokoh-tokoh pramuka lainnya dalam menggalakkan Nasionalisme melalui  beliau berjuang keras ketika saat usaha peleburan kepanduan menjadi pramuka berusaha dibelokkan oleh Partai Komunis Indonesia menjadi gerakan Pionir Muda yang berhaluan komunis. Setelah berdirinya gerakan pramuka, beliau menjabat sebagai anggota Kwartir Nasional hingga beberapa kali periode. Menjabat sebagai sekjen majelis pembimbing Nasional Gerakan pramuka 1973-1978. H. Muthahar wafat pada tanggal 8 Juni 2014. Beliau menerima tanda jasa Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra.

 Perjalanan kehidupan H. Muthohar memberikan teladan kepada kita, bahwa sudah seharusnya amanah dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab demi tegaknya NKRI. Selain itu, beliau juga mengajarkan untuk menjadi pemuda yang mampu menggerakkan masyarakat. Kedua sikap terasebut sangatlah penting untuk dimiliki kita, sebagai santri pada saat ini. Pada moment kemerdekaan ini, marilah bersama-sama kita meng-upgrade pribadi kita agar menjadi sosok yang lebih baik. Sosok yang bisa mengisi kemerdekaan dengan kebermanfaatan diri kita terhadap sesama.

Oleh: Cucu NK

(Dari berbagai sumber)

Leave a Comment