Mengenal Lebih Dekat Sosok Pionir Kamus Al-Munawwir

Posted on 9 views

Siapa yang tidak mengenal kamus legendaris Arab-Indonesia setebal 1591 halaman? Kamus yang menjadi rujukan hampir seluruh santri di Indonesia kamus yang dikatakan paling lengkap. Bahkan kamus tersebut tidak hanya digunakan di Indonesia saja, tetapi merabah mancanegara. Seorang tokoh yang luas pergaulannya dan seorang yang alim dengan kelahiran pada Jumat Pon, 22 Sya’ban 1353 Hijriyah tahun wawu bertepatan dengan  tanggal 30 November 1934.

Selain alim, yang patut kita teladani dari sosok kiai kharismatik beliau sosok yang selalu bersikap bijak, tanpa marah ataupun resah, tegas, dan konsisten. Beliau adalah Kiai Ahmad Warson Munawwir. Beliaulah orang yang mengarang kamus Al-Munawwir yang sampai saat sekarang ini masih bisa kita nikmati karya beliau, dibalik sosok yang alim dalam bidang ilmu. Beliaupun sosok sederhana penuh cinta dan perhatian pada keluarga serta kerabatnya. Kecintaan itulah yang membuatnya selalu mendahulukan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri. Hal itupun yang diakui Ibu Nyai Ida sebagai kakak ipar Kiai Warson.

Dibalik kemasyhuran kamus Al-Munawwir, ada kerja  keras yang cukup lama yaitu kurang lebih 15 tahun. Kamus Al-Munawwir ditulis sejak Kiai Warson masih nyantri kepada Kiai Ali. Penyusunan kamus Al-Munawwir ini juga tidak lepas dari bimbingan sang guru yang dijuluki “Munjid Berjalan”, Kiai Ali.

Tidak ada keraguan untuk mengatakan, Kiai Warson adalah seorang seniman kehidupan. Dalam menjalin hubungan dengan saksama, Kiai Warson begitu egaliter, memperlakukan satu sama lain dengan setara. Hatinya begitu lembut, tampak dari sikapnya yang perhatian dan penyayang. Tak heran banyak keluarga yang menyebut beliau sebagai sosok familiar, tak pernah menjaga jarak dengan siapapun, baik usia, kedudukan, maupun kemampuan. Kiai Warson memiliki nasihat untuk tidak menjadi seorang yang tinggi hati sekaligus rendah diri. Beliau berpesan “Menunduk tapi jangan terlalu menunduk, mendongkak tapi jangan terlalu mendongkak”.

Seorang Kiai Warson sangat menghindari syubhat, karena bagi Kiai Warson uang syubhat itu berada antara halal dan haram. Terhadap syubhat tersebut, Kiai Warson sangat hati-hati. Beliau berprinsip bunga bank tidak boleh digunakan untuk urusan agama.

Upaya Kiai Warson sebisa mungkin menghindari syubhat, tampak pula pada pengelolaan makan santri komplek Q. Di pesantren uang makan santri bisa disebut  “majek” santri yang ikut mengambil makan dari ndalem biasanya membayar sejumlah “majek”. Namun, Kiai Warson memilih untuk tidak menggunakan sistem”majek”. Sebab ketika santri tidak berada di pondok dan tidak mendapatkan jatah makannya, maka uang tersebut menjadi syubhat. Sebagai gantinya, beliau menetapkan makanan yang diberikan kepada santri sebagai bonus atau sedekah.

Keteladanan yang diwariskan Kiai Warson antara lain adalah gemarannya menyisihkan rezeki kepada kaum yang membutuhkan. Beliau dikenal tidak tangung-tangung dalam memberi sumbangan pada masjid. Di samping itu, kepeduliannya terhadap fakir miskin sangat tinggi. Ketika pada tanggal 18 April 2013, hari di mana wafatnya Kiai Warson, terdapat kisah seorang pemulung menangis sesegukan dari hari wafatnya beliau. Ketika ditanya mengapa menangis, pengemis itu menjawab ia menangis karena Kiai Warson kerap kali memberinya uang setiap berpapasan di jalan sekitar ndalem semasa hidupnya. 

Sebagai santri kita perlu meneladani sifat-sifat luhur yang kita ketahui melalui kisah-kisah semasa hidup almarhum. Sebab hal itu merupakan sebuah perwujudan rasa bakti kita sebagai santri kepada sang guru. Nafa’anâ Allahu bi ‘ulûmihifi ad-dâroini.. Aamiin.. Lahu al-Fâtihah..  

 

 

Sumber: 

-nu.or.id

-islam.nu.or.id

-nu.or.id

-Buku Jejak Sang Pionir Kamus Al-Munawwir 

Oleh: Nasti Sulastri