KH. Miftachul Akhyar lahir di lingkungan pesantren. Ia adalah putra dari KH. Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Ia lahir di Surabaya, 1 Januari tahun 1953, putra ke-9 dari 13 bersaudara. Sosok yang mengabdikan diri di NU sejak usia muda ini pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya (2000-2005), Rais Syuriah PWNU Jatim (2007-2013, 2013-2018), wakil Rais Aam PBNU (2015-2020),  dan selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU (2018-2020).

Pada Jumat (27/11/2020) dini hari, Kiai Miftah—sapaan akrabnya—dipilih sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025 dalam Musyawarah Nasional (Munas) X MUI di Jakarta. Pada pidato pertamanya usai terpilih, Kiai Miftah mengajak seluruh pengurus MUI yang terpilih agar mampu memberikan pencerahan terhadap umat di tengah maraknya disrupsi teknologi saat ini.

“Situasi kondisi yang mungkin bisa disebut sebagai zaman disrupsi teknologi merupakan kewajiban kita sebagai pewaris para anbiya, untuk bisa memberikan pencerahan pada umat sekaligus tanggung jawab kita sebagai mitra pemerintah,” ujar Kiai Miftah.

Menurut catatan PW LTNNU Jatim, Ahmad Karomi, genealogi keilmuan Kiai Miftah tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di beberapa tempat. Di antaranya, Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri, Pondok Pesantren Lasem, dan mengikuti Majlis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Makki Al-Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia. 

Keluasan ilmu agama yang dimiliki KH. Miftachul Akhyar, membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga KH. Miftachul Akhyar diambil menantu oleh Syekh Masduki yang merupakan mutakharijin istimewa di Pondok Pesantren Tremas. 

Kemudian Kiai Miftah mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Tambaksari, Surabaya. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah  kakeknya, tetapi setelah melihat fenomena akan pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, ia memulai membuka pengajian. Pengajian tersebut dilakukan secara terus-menerus sehingga menarik minat masyarakat untuk mendalami ilmu agama. Seiring berjalannya waktu, santri-santri yang berasal dari berbagai daerah mulai berdatangan, hingga rumahnya pun tak sanggup menampung para santri. Hal tersebut yang pada akhirnya mendorong KH. Miftachul Akhyar untuk mendirikan pesantren. 

Ia berhasil menjadikan daerah yang semula tidak ramah terhadap dakwah para ulama dan terkesan sebagai kampung yang ‘gelap’ menjadi sebuah tempat yang ‘terang dan sejuk’ dalam waktu yang relatif singkat.

Kiai Miftah merupakan sosok yang sederhana. Kesederhanaannya terlihat jelas dalam bentuk penghormatannya terhadap tamu. Ia tak segan-segan untuk menjamu tamunya dengan menuangkan wedang dan menyajikan camilan. Akhlak yang dimiliki KH. Miftachul Akhyar tercermin dari ayahnya, KH. Abdul Ghoni yang merupakan kiai yang memiliki keindahan akhlak. Seperti pepatah mengatakan; Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. 

Oleh: Husna Nailufar

Referensi:

Sumber Foto: Jawa Pos

Leave a Comment