Hari pahlawan, yang diperingati  setiap tanggal 10 November merupakan penghormatan negara terhadap para pejuang yang telah berhasil mengusir sekutu pada 75 tahun silam. Pertempuran yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur ini diawali dengan kedatangan tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Force Netherlands East Indies). Militer Inggris, yang saat itu merupakan pemenang Perang Dunia II dimanfaatkan oleh Belanda untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut, Belanda membonceng AFNEI dan NICA (Netherlands Indies Civil Admninistration) ke Indonesia.

Bermula dari kedatangan sekutu yang langsung menduduki pasukannya di sektor besar Surabaya, seperti di Lapangan Terbang Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung Internatio, dan Perusahaan Listrik Hindia Belanda. Sekutu juga menyebarkan pamflet yang berisi ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan seluruh senjata milik Jepang. Namun, ultimatum tersebut diabaikan oleh rakyat Indonesia. Mereka tidak ingin senjata milik Jepang yang diraihnya dengan penuh perjuangan jatuh di tangan sekutu. Tidak berhasil mempengaruhi rakyat, terjadilah insiden pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Hal tersebut membuat kemarahan rakyat Indonesia. Akhirnya, perundingan pun terjadi untuk menurunkan bendera Belanda. Perundingan tersebut berakhir dengan perkelahian dan menewaskan salah satu pihak Belanda, Mr. W.V.Ch. Ploegman. Situasi pun semakin memuncak dan pecahlah pertempuran antara pemuda Indonesia dengan tentara AFNEI pada 27 hingga 29 Oktober di Surabaya. Pertempuran tersebut telah menewaskan pimpinan pasukan Inggris, Brigadir Jenderal Mallaby. Hal itu membuat kemarahan sekutu yang menuduh bahwa rakyat Surabaya secara licik membunuh Mallaby. 

Pada 9 November 1945, Mayor Jenderal Robert Mansergh yang menggantikan posisi Mallaby mengeluarkan ultimatum kepada pimpinan dan masyarakat Indonesia untuk meletakkan senjata dan menyerahkan diri sebelum pukul 18:00 dan jika ultimatum tidak dilaksanakan maka pada pukul 16.00 tanggal 10 November pihak sekutu akan menyerang Surabaya dari darat, laut dan udara. Namun, ultimatum tersebut diabaikan oleh rakyat Indonesia. Penolakan terhadap ultimatum tersebut didukung oleh pihak pemimpin, gubernur Suryo menyampaikan penolakan melalui radio RRI dan berpesan agar rakyat Indonesia bersiap atas segala kemungkinan yang terjadi untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo turut menggelorakan semangat untuk para pejuang dalam melawan dan mengusir sekutu. Pertempuran pun meletus pada 10 November 1945, melibatkan 20.000 tentara Indonesia dan 100.000 warga sipil. Ribuan orang dari pihak Indonesia dan pihak sekutu gugur dalam pertempuran tersebut.

Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dan dipertahankan dengan penuh perjuangan keras. Dengan tekad dan semangat yang kuat, rakyat berhasil melawan dan mengusir para penjajah dan sekutu. Semangat yang diwariskan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia ini hendaknya dilestarikan dalam rangka mempertahankan persatuan NKRI. Bentuk penghormatan pemerintah Indonesia untuk para pejuang dalam pertempuran di Surabaya tersebut yaitu dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No.316 Tahun 1959 yang menetapkan bahwa 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa tersebut tentunya tidak terlepas dari peran pemuda. Bung Tomo dengan lantangnya menyerukan orasi yang berhasil membakar semangat rakyat Indonesia pada saat itu. Gema takbir serta Resolusi Jihad yang dikumandangkannya mampu membangkitkan semangat para pemuda, santri, dan warga Surabaya untuk melawan tentara Inggris hingga menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby. 

Presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah berkata,

“Perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa lain. Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri.”

Ir. Soekarno

Hal ini menjadi tugas bagi kita sebagai generasi penerus bangsa untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika pada saat itu rakyat mempertahankan NKRI dengan cara perlawanan fisik terhadap pihak yang ingin menghancurkan Indonesia, saat ini untuk mempertahankan NKRI dilakukan dengan cara mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, menggelorakan semangat Bhineka Tunggal Ika sebagai media pemersatu bangsa, menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai UUD 1945, serta ikut andil dalam pembelaan dan pertahanan negara, mengutamakan persatuan bangsa demi menghindari disintegrasi dalam NKRI. 

Oleh: Syarifah Rufaida

Sumber :

Leave a Comment