Beberapa dari kita berpikir bahwa kemampuan menulis merupakan suatu bakat yang sudah ada dan tumbuh sejak manusia dilahirkan. Padahal sebenarnya bakat itu hanya turut andil 1% saja, dan sisanya 99% berasal dari adanya kerja keras dan kegigihan dalam berlatih. Menulis pada dasarnya hanyalah perkara skill biasa. Seperti halnya bersepeda, menyetir, ataupun menjahit. Jika mau berlatih dan berusaha semua orang bisa melakukannya.

Terkadang masalah yang sering muncul dalam hal tulis-menulis adalah bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Sebelum mencari jawaban mengenai cara menulis, ada hal penting yang harus terlebih dahulu dirumuskan, yaitu mengenai motivasi dalam menulis. Sebuah tulisan seperti mengandung sihir, dapat menghanyutkan pemikiran seseorang. Dengan begitu, sebuah tulisan tentunya dapat digunakan sebagai sarana untuk menggerakkan seseorang menjadi lebih baik.

Yang membedakan antara tulisan bagus dan tidak dapat dilihat melalui gaya bahasanya. Dua hal yang sama akan menjadi berbeda jika disampaikan dengan gaya bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemilihan diksi, yang didapatkan melalui banyak referensi ketika membaca.

Era media sosial, di mana segala sesuatu bisa dengan mudah disampaikan melalui bahasa atau tulisan. Sehingga dengan beropini melalui tulisan, dunia yang sedang kita lakukan dan pikirkan dapat tersampaikan.

Pesan Kyai Warson; “Santri itu harus berwawasan luas dan bisa bergaul dengan siapapun”. Dari pesan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa santri harus update terhadap berita dan situasi pada masa kini.

Saat ini banyak sekali konten negatif disuguhkan di media sosial. Konten negatif tidak pernah hilang. Adanya konten negatif tak lain disebabkan oleh ketidaktahuan dan keterbatasan wawasan dalam diri seseorang. Lalu bagaimana cara kita menanggapi merabaknya konten negatif di sekitar kita? Jawabannya adalah dengan kita menuliskan opini kita mengenai konten tersebut. Jika menurut kita konten tersebut negatif, berarti kita harus membuat konten yang positif. Dan supaya dapat menulis opini dengan konten positif dibutuhkan adanya kekayaan referensi dalam membaca dan ide yang unik.

Opini menanamkan sudut pandang yang baru. Mengenai perbedaan sudut pandang, hal itu tidak ada korelasinya dengan salah atau benar. Semua berhak untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, asalkan menguasai bahasan yang akan ditulis yaitu yang mencakup ilmu yang dipahami dan data yang dimiliki. Selain itu, dibutuhkan juga pemahaman terhadap konteks dan kondisi, mampu mengetahui mana yang layak untuk ditulis dan mana yang tidak layak untuk ditulis.

Disadur dari Agus Mulyadi (Redaktur Mojok.co) dan Siti Jazimah Muhyiddin (Penulis, Alumni Komplek Q) dalam Talkshow Kepenulisan (8/3) di Komplek Q

Oleh: Husna Nailufar

Leave a Comment