Setiap 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini mengacu kepada tiga ikrar yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta) pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi salah satu titik balik perjalanan bangsa Indonesia menuju Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Pada saat itu, Indonesia masih terpecah belah hingga para pemuda belum bisa memahami siapa musuh mereka dan siapa yang harus melawannya. Disebutkan dalam Harian Kompas pada 22 November 1977, sebelum 28 Oktober 1928, para pemuda masih terpecah dalam beberapa organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain.

Dalam masa enam tahun, kalangan pemuda baru  menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi sama, yaitu Belanda. Kesadaran itulah yang menyebabkan mereka berusaha menggalang persatuan, akhirnya pada tahun 1926 diselenggarakan Kongres Indonesia Muda yang pertama (Kongres Pemuda I).

Pada Kongres Pemuda I, kesadaran pemuda saat itu belum cukup untuk melahirkan sumpah pemuda. Sumpah Pemuda baru lahir dua tahun kemudian, pada tahun 1928 Kongres Indonesia Muda kedua (Kongres Pemuda II) diselenggarakan.

Kongres Pemuda II digelar dengan tujuan:

  1. Melahirkan cita cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia,
  2. Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia;
  3. Memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Setelah melalui rangkaian kongres selama 2 hari, pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928, para peserta Kongres Pemuda II  bersepakat merumuskan tiga janji yang kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda, yaitu: 

  • Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. 
  • Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  • Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ada beberapa fakta menarik dalam Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda, di antaranya sebagai berikut:

Rapat Pertama Digelar di Lapangan Banteng

Kongres Pemuda II hari pertama, yakni hari Sabtu tanggal 27 Oktober 1928, dilangsungkan di Lapangan Banteng, tepatnya di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB). Kongres ini digelar selama 2 hari dengan 3 kali rapat yang dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda.

Diikrarkan di Rumah Orang Tionghoa 

Peranan anak-anak muda keturunan Tionghoa cukup besar dalam Kongres Pemuda II. Bahkan, gedung tempat dibacakannya Sumpah Pemuda merupakan asrama pelajar milik peranakan Cina bernama Sie Kok Liang. Gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, itu kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Peserta dari Barat & Timur Indonesia

Kongres Pemuda II di Batavia dihadiri oleh para perwakilan organisasi pemuda dari Indonesia bagian barat sampai bagian timur dan dari berbagai latar belakang. Bisa dibayangkan, dengan akses transportasi yang belum secanggih dan semudah sekarang, para pemuda dan pemudi itu harus menempuh perjalanan jauh dari daerah asal mereka ke Batavia demi mewujudkan persatuan generasi muda Indonesia. 

Lagu ‘Indonesia Raya’ Pertama Kali Dinyanyikan

Dalam Kongres Pemuda II di Batavia pada 28 Oktober 1928, untuk pertama kalinya lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan kepada khalayak. Wage Rudolf Soepratman memainkan lagu ciptaannya itu di depan peserta kongres dengan gesekan biolanya yang mendayu-dayu. Setelah selesai memainkan “Indonesia Raya” para hadirin meminta agar lagu tersebut dinyanyikan. Setelah melalui diskusi, akhirnya “Indonesia Raya” dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik demi keamanan karena kongres yang diawasi oleh aparat kolonial Hindia Belanda. Kata “merdeka” dalam lirik lagu itu dihilangkan dan diganti dengan kata “mulia”. Adapun orang yang pertama kali melantunkan lagu “Indonesia Raya” dalam Kongres Pemuda II itu adalah Dolly Salim yang tidak lain merupakan putri kesayangan Haji Agus Salim.

Oleh : Mawar Lanna Oktavia

Sumber:

Leave a Comment