Setiap shalat id ketika hari raya kurban, satu hal yang tak pernah tertinggal dalam khutbah adalah cerita bagaimana Ibrahim menyembelih putranya, Ismail. Cerita ini sangat populer sebab menjadi asal usul penyembelihan hewan kurban ketika Idul Adha.

Al Qur’an sendiri mengabadikan kisah tersebut dalam QS. as Shaffat 99-110. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah supaya diberi anak yang shalih, kemudian Allah mengabulkan permintaan tersebut dengan lahirnya Ismail (dari istri Hajar). Suatu hari, Nabi Ibrahim mendapat mimpi untuk menyembelih putranya. Dalam versi cerita lain, disebutkan bahwa mimpi itu datang hingga tiga kali berturut-turut untuk meyakinkan Nabi Ibrahim. Ketika Ibrahim menceritakan mimpi tersebut kepada Ismail, maka dengan lapang hati Ismail bersedia melaksanakannya. Ketika pedang hendak menebas lehernya, kemudian Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar.

Perintah menyembelih anak tentulah dirasakan sangat berat bagi orang tua. Orang tua mana yang tega membunuh anak yang telah dinanti sekian lama?

Tapi tidak bagi Nabi Ibrahim. Keyakinannya membawanya menghadapi ujian Tuhan. Mimpi tersebut adalah ujian Tuhan atas keimanan Nabi Ibrahim. Mimpi yang datang berkali-kali diyakininya datang dari Allah. Maka dilaksanakanlah mimpi tersebut setelah meminta pertimbangan dari anaknya, Nabi Ismail.

Kalau kita sebagai anak berada di posisi Nabi Ismail gimana ya kira-kira? Ndak lebaran sama keluarga aja mbrebes mili…

Tiap-tiap anak adalah ujian bagi orang tuanya. Tapi, seorang anak pula yang menjadi pendukung orang tua dalam menjalani ujian tersebut. Dari cerita tersebut, terlihat bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang ayah yang sangat terbuka kepada anaknya. Juga Nabi Ismail yang begitu berbakti kepada orang tuanya. Keterbukaan ini ternyata membawa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mampu melaksanakan ujian Allah hingga Ibrahim Ibrahim disebut Allah sebagai muhsinin, orang yang berbuat baik.

Pola komunikasi dalam cerita ini menjadi pembelajaran bagi kita semua tentang bagaimana kita bersikap terhadap orang tua, terlebih ayah. Mayoritas anak merasa lebih dekat kepada ibu, mengeluhkan segala sesuatu dengan bercerita ke ibu. Padahal, ada yang menyayangi kita dengan cara diamnya. Komunikasi dua arah antara anak dan orang tua, ataupun interaksi social yang lain sangatlah penting dan menjadi kunci dalam suatu hubungan.

Akankah, jika Nabi Ismail menolak mimpi yang diceritakan ayahnya, apakah Nabi Ibrahim akan tetap menyembelih Nabi Ismail? Wallahu a’lam

Oleh : Ma’unatul Ashfia

Foto: by Arthur Mazi on Unsplash

Leave a Comment