Kisah mengenai Nabi Nuh dan banjir yang menimpa kaumnya telah terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sejarah peristiwa tersebut dimuat dalam kitab-kitab samawi (Taurat, Injil, dan Al-Qur’an) dan peradaban dunia. Dalam Al-Qur’an diceritakan sebanyak 43 kali dalam 28 surah tentang kisah Nabi Nuh.

Nabi Nuh merupakan salah satu Nabi Ulul Azmi, beliau telah berdakwah kepada kaumnya selama sekitar 900 tahun, namun hingga saat itu kaumnya hanya sedikit yang beriman dan banyak yang tetap tidak taat dan menyembah berhala. Nabi Nuh selalu berdoa kepada Allah Swt. agar kaumnya mendapatkan hidayah dan dijauhkan dari kebodohan. 

Ketika Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk kembali ke jalan Allah Swt, banyak di antara kaumnya, yang berposisi kuat, menentang ajakan Nabi Nuh. Mereka bahkan mengaggap Nabi Nuh adalah orang gila. Mereka juga membandingkan harta yang dimiliki Nabi Nuh yang hidup dalam kondisi tidak bergelimang harta seperti kondisir kaum posisi kuat. Sehingga kaum dari posisi lemah pun tak mau mengikuti ajakan Nabi Nuh. Namun, ada beberapa orang yang beriman dan mengikuti dakwah Nabi Nuh, mereka adalah kaum yang miskin dan tertindas. 

Hingga suatu saat Nabi Nuh berdoa kepada Allah SWT; 

ربي لا تذر على الارض من الكافرين ديارا

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS. Nuh : 26)

Kemudian Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera besar, yang memiliki 3 lantai, dengan panjang 200 meter, lebar 70 meter, dan tinggi 25 meter.  Nabi Nuh dan dibantu oleh pengikutnya dapat menyelesaikan proses pembuatan bahtera yang dinilai sangat sulit. Dalam proses pembuatan bahtera tersebut, Nabi Nuh dihina dan dihujat habis-habisan oleh kaum kafir, namun Nabi Nuh dan kaumnya tetap bersabar dan tabah. 

Hingga tiba saat dimana doa Nabi Nuh dikabulkan oleh Allah Swt. dengan datangnya hujan lebat, keluarnya air dari perut bumi, dan meluapnya sungai Trigis dan Eufrat. Banjir badai  tersebut mampu menenggelamkan gunung dan menyapu daratan. Semua pengikut Nabi Nuh yang berjumlah 78 orang telah naik ke lantai dua bahtera, sementara pada lantai pertama diisi binatang ternak dan buas yang masing-masing sepasang. Dan lantai tiga diisi dengan burung-burung. Nabi Nuh berharap putranya untuk ikut dengannya. Beliau terus memaksa putranya datang dan naik ke atas bahtera. Namun, putranya tetap saja menolak. Hingga pada akhirnya putranya pun tersapu oleh ombak besar yang kemudian menenggelamkan putranya.

Terdapat banyak versi mengenai berapa lama badai tersebut berlangsung. Menurut Ibnu Majid, yang paling sahih adalah 70 hari. Sementara menurut Ibnu Katsir dalam karyanya Bidayah wa an-Nihayah disebutkan selama 150 hari yang terhitung sejak mulai banjir hingga surut kembali. 

Setelah banjir surut, bahtera Nabi Nuh terdampar di sebuah bukit bernama bukit Zuhdi. Ats-Tsa’labi mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh mendarat di atas bukit Zuhdi pada hari Asyura (hari ke-10 bulan Muharam). Pada hari itu, Nabi Nuh as. berpuasa dalam rangka bersyukur kepada Allah. Beliau juga memerintahkan pengikutnya untuk berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat tersebut. Diriwayatkan bahwa semua burung, binatang liar, dan hewan-hewan melata pada hari itu ikut berpuasa.

Setelah peristiwa badai besar tersebut, peradaban baru kehidupan manusia kembali dimulai. Nabi Nuh disebut juga Adam kedua. Ketiga anak Nabi Nuh yaitu Yafes, Sam, dan Ham, mulai menjelajahi lautan, teluk, hingga samudera. Dari pengembaraan panjang di darat dan di laut inilah akhirnya tersebar umat manusia.

Dalam sebuah hadis, Imam Ahmad meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, “Sam adalah moyang orang Arab, Ham adalah moyang orang Habasyah (Ethiopia, Afrika), dan Yafets adalah moyang orang Rum (Romawi, Eropa)”. 

Oleh: Husna Nailufar

Sumber:

Foto oleh Miguel Á. Padriñán dari Pexels

Leave a Comment