Pada suatu malam ketika orang-orang terbuai di alam mimpi, terlihat seorang perempuan sedang memuroja’ah hafalannya sembari menikmati indahnya langit malam. Dia duduk di balik jendela kamar dengan tirai yang sengaja ia buka. Kamar itu terletak di lantai tiga di sebuah bangunan sederhana yang biasa di sebut pesantren. Malam itu langit begitu indah dengan taburan bintang yang menghiasinya sehingga membuat si gadis terpesona akan keindahan ciptaanNya. Ia pun melantunkan surat An-Najm dengan suaranya yang lembut sembari menatap pemandangan favoritnya itu. Ia meresapi tiap makna dari ayat yang dibacanya sampai pada ayat dua puluh empat yang artinya “Atau apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?”. Ia meneteskan air matanya mengingat betapa naifnya ia dulu yang begitu idealis dan ambisius.

Najma, nama yang diberikan oleh orang tuanya dengan harapan ia akan menjadi seperti bintang di langit yang bersinar terang menerangi seluruh alam semesta. Sesuai dengan namanya, Najma adalah anak yang cantik dengan sifatnya yang ramah dan ceria, membuat orang lain senang jika bertemu dengannya. Tapi di balik keceriannya, ia menyimpan ambisi yang sangat besar untuk menjadi seorang dokter. Ia terobsesi menjadi seorang dokter karena menurutnya orang-orang berjas putih itu terlihat sangat keren. Mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati di masyarakat. Intinya dokter adalah profesi yang paling mahal menurut Najma.

Selama di bangku sekolah, Najma selalu menjadi juara di kelasnya. Saat ini ia duduk di bangku kelas 3 SMA dan tidak lama lagi ia akan meninggalkan dunia sekolah untuk memulai perjuangan menggapai cita-citanya. Ia mencoba semua jalur masuk fakultas kedokteran dari berbagai universias negeri maupun swasta. Dari jalur raport, jalur tulis, mandiri semuanya ia coba. Tapi ternyata hasilnya nihil, tidak ada satupun yang diterima. Ia sangat kecewa dan sedih bahkan hampir putus asa. Ia mengurung diri di dalam kamar sambil terus menangis lama sekali sampai ia bosan dan mencoba menghibur diri.

Ia buka jendela kamarnya dan mendongak ke atas. Tampaklah bintang yang bertaburan menghiasi langit malam itu. Najma memandang bintang-bintang tersebut sambari berpikir, merenungkan apa yang telah terjadi selama ini. Tiba-tiba ia teringat akan arti namanya sendiri. Ayahnya pernah bercerita tentang namanya yang diambil dari salah satu surat Alquran yakni An-Najm yang artinya bintang.  Tanpa pikir panjang ia pun bergegas mengambil wudlu kemudian mengambil Alquran dan mencari surat An-Najm. Ia pun membacanya dan sesekali melihat terjemah dari tiap ayat. Merasa tak puas, dia mencoba menghubungi salah satu teman SMA-nya. Ia teringat ia punya teman seorang santri. Ia pun meminta tolong temannya itu untuk menjelaskan maksud ayat-ayat dari Surat An-Najm. Ia pahami tafsir tiap-tiap ayat yang dijelaskan temannya, ia resapi maknanya hingga tak terasa air mata jatuh di pipinya. Sampai pada ayat ke dua puluh empat yang berbunyi “Am lil insaani maa tamannaa”.

Ia merasa sangat sombong padahal sejatinya dia hanyalah makhluk yang telah ditetapkan oleh sang khalik, milikNya lah segala yang ada di dunia dan di akhirat. Sejak saat itulah Najma bertekad untuk menghafal dan mempelajari isi Alquran. Ia mengikuti temannya mondok di pesantren salaf di Yogyakarta. Sungguh indah hidayah Alquran menghampirimu Najma. Berkah namamu yang indah membawamu pada sebuah perjalanan hidup yang penuh makna.

Setelah selesai membaca surat An-Najm, Najma memutuskan untuk mengakhiri muroja’ahnya dan bergegas untuk tidur. Ia masih memiliki waktu beberapa jam untuk tidur dan besok pagi ia akan menyetorkan hafalannya kepada Ibu Nyai. Begitulah kegiatan rutin Najma setelah memutuskan untuk menghafal dan mempelajari Al Qur’an. Keep Istiqomah.

 

Oleh: Peni Nur Nilamsari

Leave a Comment