Malam itu hujan deras sekali. Dari sela-sela pintu sesekali kilat menyala. Nawaf, si periang dan ceria yang baru duduk di kelas 2 Tsanawiyah sedang merenung di dalam kamarnya itu berteriak. Karena tiba-tiba listrik seisi rumahnya mati. Tidak hanya Nawaf, begitu juga dengan kedua kakaknya. Semua sibuk berteriak dari tempatnya masing-masing. Sedang ibu menenangkan dengan balas suara setengah mengeraskan suaranya “tidak perlu berteriak, nak. Sini, kita berkumpul di ruang tengah”. Sambil meraba-raba, Nawaf berjalan perlahan di kegelapan menuju ruang tengah, meski sesekali menabrak-nabrak barang-barang. Di saat yang sama, bapak mencari cahaya. Ketika lilin tidak ada, beliau membuatnya dari kapas yang diberi minyak goreng yang ujungnya dibiarkan kering dan cahayanya akan lebih lama berpijar ketimbang cahaya dari lilin. Untung saja malam itu, persedian lilin masih banyak.

Di ruang tengah, semua berkumpul. Bapak, ibu, Nawaf dan kedua kakaknya. Bermain bayang-bayang yang diciptakan cahaya lilin di tengah gelap. Bercerita dan menertawakan apa saja. Atau bersama-sama merapalkan yang diingat agar tidak lupa.

Sebetulnya salah satu momentum paling menyenangkan menurut Nawaf adalah ketika hujan dan mati lampu. Tetapi kali ini berbeda. Nawaf menjadi terlihat tidak bersemangat. Sebelum ini Nawaf yang sedang merenungi dirinya sendiri yang sedang merasa insecure. Nawaf merasa bahwa dirinya tidak seperti apa yang ada dalam standar yang dimiliki teman-temannya.

Bapak bertanya “Dik Nawaf, kamu kenapa? Biasanya yang paling bersemangat itu kamu kalau sedang mati lampu begini?”

“Iya nih, biasanya kamu yang paling semangat”, timpal kakak pertamanya.

“Tidak, pak. Tidak kenapa-napa”, jawab Nawaf. 

Tidak semua masalah bisa kamu selesaikan sendiri, nak. Kamu ingat peribahasa dua kepala lebih baik daripada satu?”,  bapak balik bertanya

Setelah dipancing-pancing, Nawaf pun mau bercerita.

“Jadi sebenarnya akhir-akhir ini aku jadi sering merasa tidak percaya diri dan takut. Karena tidak seperti teman-temanku yang lain”, jawab Nawaf.

“Tidak seperti teman-temanmu bagaimana, nak?”, tanya bapak lagi.

“Aku tidak secantik mereka dan aku tidak terlalu jago matematika seperti mereka. Terkadang aku juga merasa selalu dinomor duakan oleh orang-orang”, gerutu Nawaf.

“Tidak begitu, nak. Apa Nawaf lupa kalau Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan? Semua wanita itu cantik. Semua wanita terbaik dalam versinya masing-masing”, bapak mengehela nafas.

“Kalau Nawaf  tidak terlalu pandai dalam matematika, lantas anak bapak yang satu ini jadi lupa kalau kamu jago sekali membuat puisi, cerpen, dan karya lainya. Kita tidak bisa membandingkan diri kita dengan orang lain. Karena setiap manusia lagi-lagi punya versi terbaik dalam dirinya. Yang perlu dibandingkan adalah diri kita sekarang dengan diri kita yang lalu. Apakah menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk”, tambah bapak.

(Klik page 2 untuk kelanjutannya)

Leave a Comment